{"id":7847,"date":"2019-07-25T06:00:24","date_gmt":"2019-07-24T23:00:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=7847"},"modified":"2022-01-19T11:01:37","modified_gmt":"2022-01-19T04:01:37","slug":"nonton-trailer-gundala-ogah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nonton-trailer-gundala-ogah\/","title":{"rendered":"Nonton Trailer Gundala? Ogah!"},"content":{"rendered":"<p>Dalam waktu dekat ini, ada dua film yang akan saya tonton dengan seorang teman di bioskop. Pertama, <em>Once Upon a Time in Hollywood<\/em> film ke sembilan Quentin Tarantino yang kerap menggunakan <em>soundtrack <\/em>musik dari tahun 1960-an hingga 1980-an itu. Kalau kalian penggemar film dan sudah menonton <em>Pulp Fiction<\/em>, menurut saya pribadi kemungkinan besar kalian akan ketagihan dengan \u201ckeanehan dan kegilaan\u201d. Kedua, Gundala dari Joko Anwar. Yang terakhir kalian sudah tidak asing lagi. Apalagi sampai hari ini <a href=\"https:\/\/tirto.id\/joko-anwar-dan-polesan-film-pengabdi-setan-cxu1\">Pengabdi Setan masih bergaung<\/a> di mana-mana<\/p>\n<p>Seperti film-film baru pada umumnya, tentu ada <em>trailer<\/em> untuk menarik perhatian masyarakat. Selain di televisi, sekarang <em>trailer <\/em>ini sangat mudah ditemukan di ini sangat mudah ditemukan di YouTube. <em>Trailer <\/em>biasanya singkat dan mengundang rasa penasaran. Lalu, di sana juga ada ekspektasi atau harapan\u2014kualitas film\u2014yang dijanjikan. Dengan <em>trailer, <\/em>masyarakat diharapkan tertarik dan menonton film tersebut. Singkatnya, <em>trailer <\/em>bisa disebut semacam pengumuman atau ajakan. \u201cAyo nonton, kalian pasti akan terhibur dan puas.\u201d<\/p>\n<p>Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu banyak\u2014maniak\u2014nonton film. Kalau mundur ke belakang, masa kecil saya lebih akrab dengan film-film Bollywood. Nama Rahul, Kajol atau Tuan Takur \u00a0familiar bagiku. Saat SMP saya mulai akrab dengan film kungfu. \u00a0Periode ini saya ingat nama seperti Jackie Chan, Jet Li atau Andy Lau. Setelah SMA baru lebih sering menonton film <em>Hollywood. <\/em>Van Damme, Rocky\u2014Sylvester Stallone, Arnold Swarchnegger atau Steven Seagal adalah beberapa nama yang akrab denganku.<\/p>\n<p>Dari kecil sampai SMA, saya menonton apa yang tersedia di televisi atau apa yang ingin ditonton orang banyak\u2014saat itu televisi masih barang langka dan mewah, jadi kalau menonton pasti rame-rame. <em>hehe<\/em>. Sesudah kuliah, saya mulai menikmati film yang lebih variatif, baik dari segi genre maupun negara pembuat film. Saya semakin sering menonton film berdasarkan rekomendasi teman. Selain bisa menonton di laptop\u2014bajakan sih\u2014saya juga mulai merasakan kenikmatan kota\u2014bioskop.<\/p>\n<p>Jaman berubah, teknologi internet semakin maju, lingkaran pertemanan bertambah, selera film saya pun ikut berubah. Dulu saya tidak kenal apa itu <em>trailer. <\/em>Film-film terbaru paling saya ketahui lewat televisi. Kemudian saya bisa menikmati film-film bagus berdasarkan rekomendasi yang terpajang di media\u2014IMDB misalnya. Dengan perkembangan media sosial\u2014internet, saya jadi tahu film-film terbaru atau yang akan rilis bahkan satu dua tahun mendatang lewat <em>trailers<\/em> yang diunggah.<\/p>\n<p>Nah, karena <em>trailer <\/em>inilah saya juga semakin sering atau tertarik merasakan dan menonton film di bioskop. Namun persentase kepuasan pengalaman saya menonton sebelumnya\u2014televisi dan laptop\u2014ternyata jauh lebih tinggi daripada pengalaman saya menonton di bioskop. Delapan puluh persen saya merasa kecewa. Kenapa?<\/p>\n<p>Dari pengalaman menonton sebelumnya, tanpa saya sadari saya ternyata sudah punya standar kualitas sendiri. Standar itu terbentuk setelah menonton berbagai rekomendasi media atau teman. Beberapa film yang saya tonton saat itu misalnya <em>Cast Away, The Da Vinci Code, PK, The Pianist, 3 Idiots, The Shawshank Redemption, 12 Angry Men, ?\u2014<\/em>tanda tanya\u2014<em>,<\/em> Sang Penari<em>. <\/em>Ditambah berbagai pengalaman diskusi dan baca resensi film, saya menjadi tipe penonton yang harus puas lahir dan batin\u2014jiwa, pikiran, mata dan telinga.<\/p>\n<p>Setelah saya renungkan, <em>trailer <\/em>yang saya tonton ternyata memberikan terlalu banyak harapan\u2014palsu\u2014pada saya. Sehingga, ketika saya menontonnya dan tidak sesuai dengan ekspektasi yang sudah terbentuk dalam pikiran, kekecewaan saya menjadi lebih besar, berlipat-lipat. Tak jarang keluar dari bioskop saya jadi uring-uringan, tidur tidak nyenyak. Kecewa berat.<\/p>\n<p>Selain itu, kejutan-kejutan yang harusnya saya rasakan saya temukan saat menonton kadang-kadang malah ditunjukkan dalam <em>trailer. <\/em>Sehingga di bioskop saya sudah tidak terkejut. Sialnya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/sba\/corak\/fiksi\/tak-ada-kejutan\/\">kejutan terbaik<\/a> justru yang ditunjukkan dalam <em>trailer. <\/em>Padahal kejutan-kejutan itu punya peran penting dalam merajut kepuasan.<\/p>\n<p>Dari pengalaman itu, saya dan teman memutuskan tidak menonton <em>trailer <\/em>lagi<em>. <\/em>Kami sepakat <em>trailer <\/em>seperti <em>blurb <\/em>sebuah buku yang kerap kali menggoda tapi isinya belum tentu benar-benar memuaskan lahir dan batin. <em>Trailer <\/em>kerap jadi jebakan dari sistem <em>marketing <\/em>saja. Lebih baik berpetualang langsung tanpa ada harapan, janji atau rambu-rambu yang ternyata semu\u2014palsu. Lebih baik menontonnya sampai habis secara langsung. Seperti buku, lebih baik langsung membacanya.<\/p>\n<p>Bahkan resensi\/review para ahli\u2014kritikus film\u2014atau rekomendasi orang-orang atau media seperti IMDB, menurut saya itu malah bisa membatasi langkah kita bertemu film-film menarik lainnya. Berdasarkan pengalaman bersama teman dalam petualangan\u2014film lama atau film baru, ternyata ada banyak film bagus baik dari segi sinematografi, pilihan musik latar\u2014<em>soundtrack, <\/em>akting para aktornya, maupun skenario (jalan cerita) yang kurang beruntung di pasaran.<\/p>\n<p>Karena itu, kami juga tidak mau menonton <em>trailer <\/em>film terbaru Tarantino dan Joko Anwar yang akan datang ini. (Kami juga berusaha sebisa mungkin menuntup telinga dari para <em>spoiler<\/em>). Karena kami puas menonton beberapa film mereka sebelumnya, kami hanya bisa berharap karya terbaru ini konsisten pula dalam kualitas yang mampu memuaskan lahir dan batin.<\/p>\n<p>Kalian boleh tidak setuju dengan pendapat saya. Saya sendiri yakin sutradara yang punya integritas dan <em>value<\/em> pasti akan tetap konsisten melahirkan karya-karya yang bagus\u2014berkualitas. Orang-orang seperti mereka akan mendapatkan penonton yang setia dan loyal. Dan saya sendiri menghargai orang yang konsisten dan punya integritas. Karena itu, saya tidak butuh <em>trailer <\/em>karena waktu akan menunjukkan apakah saya pantas setia atau tidak.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Trailer biasanya singkat dan mengundang rasa penasaran. Lalu, di sana juga ada ekspektasi atau harapan\u2014kualitas film\u2014yang dijanjikan.<\/p>\n","protected":false},"author":161,"featured_media":7893,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[1952,1949,1951,27,1950,1948],"class_list":["post-7847","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-baru","tag-gundala","tag-joko-anwar","tag-nonton-film","tag-pengabdi-setan","tag-trailer-film"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7847","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/161"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7847"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7847\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7847"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7847"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7847"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}