{"id":78207,"date":"2020-09-20T05:05:03","date_gmt":"2020-09-19T22:05:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=78207"},"modified":"2020-09-21T10:46:26","modified_gmt":"2020-09-21T03:46:26","slug":"opini-julia-suryakusuma-terhadap-film-tilik-berbau-kolonialisme-gaya-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/opini-julia-suryakusuma-terhadap-film-tilik-berbau-kolonialisme-gaya-baru\/","title":{"rendered":"Opini Julia Suryakusuma terhadap Film \u2018Tilik\u2019 Berbau Kolonialisme Gaya Baru"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika membaca sebuah opini di The Jakarta Post berjudul<\/span><a href=\"https:\/\/www.thejakartapost.com\/academia\/2020\/09\/16\/tilik-sexist-stereotypes-and-our-collective-insanity.html\"> &#8220;<span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Tilik\u2019, Sexiest Streotipes and Our Colloctive Insanity&#8221;<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang ditulis Julia Suryakusuma, saya dikejutkan dengan betapa dangkalnya pemikiran seorang yang boleh dikatakan sebagai akademisi dalam memandang masyarakatnya sendiri. Saya berpikir seorang akademisi seharusnya bisa lebih dekat atau lebih adil dalam melihat masyarakat Indonesia, bukannya terjebak pada cara pandang barat terhadap masyarakat timur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin jika Julia Suryakusuma adalah orang barat bukan orang Indonesia, atau mungkin hanya berkewarganegaraan Indonesia tapi tidak pernah tinggal di Indonesia, saya akan mahfum dengan apa yang dikatakannya. Saya bisa memaklumi karena ada jarak pengalaman, budaya, serta pengetahuan yang meniscayakan kekeliruan. Tapi, ia jelas bukan orang asing dari negeri nun jauh di atas awan sehingga agak aneh rasanya membaca komentarnya yang ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAnd why are the women traveling in a truck? Symbolically, does this mean that women are seen as cattle or objects that can be trucked around?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca komentar tersebut, saya menduga ia tidak benar-benar menonton film ini hingga tidak tahu alasan mengapa emak-emak ini harus naik truk. Padahal jelas-jelas diceritakan dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tilik <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bahwa mereka terpaksa menggunakan truk karena menghadiri agenda mendadak sehingga tidak kendaraan lain yang bisa disewa. Walaupun pertanyaan itu dimaksudkan sebagai pertanyaan retoris, menyindir sutradara yang dianggapnya sexist, kata keliru pun rasanya tidak cukup untuk mendeskripsikan cara berpikirnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau emak-emak di <em>Tilik<\/em>\u00a0punya mobil, mereka tidak perlu naik truk secara bergerombol seperti sapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Julia juga dalam opininya itu kerap menyindir fokus cerita yang memperlihatkan emak-emak menggibahi seorang wanita lajang dan memberi kesan merendahkan wanita. Ada yang luput dari cara berpikirnya, ia melupakan kelas sosial dari masyarakat ini. Emak-emak ini bukan Julia Suryakusuma, seorang yang beruntung mendapatkan akses terhadap pendidikan sehingga mampu menaikkan kelas sosialnya. Emak-emak ini bukan juga orang yang bisa berbicara feminisme dalam seminar-seminar elit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seandainya saja emak-emak itu punya akses terhadap pendidikan yang layak, akses terhadap permodalan, akses terhadap alat produksi, omongan mereka tidak akan seperti yang dinyinyirin saudari Julia. Mungkin mereka akan berbicara pada seminar-seminar mewah yang dihadiri orang-orang dari kelas sosial seperti dirinya, berbicara tentang feminisme, dan mengirim opini ke media sebesar <em>The Jakarta Post<\/em>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang seperti Julia Suryakusuma terlalu terkungkung pada bingkai hingga tidak mampu melihat konteks sosial. Mirip sekali dengan seseorang yang saya kenal, mendaku diri sebagai feminis, dan mengajak teman-teman perempuan yang dianggapnya telah ditindas oleh budaya patriarki agar berani menentang suaminya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, dia melupakan bahwa ada suatu permasalahan yang kompleks di sana yang tidak bisa dilihat dengan satu bingkai pemikiran saja. Dia meyakinkan jika para perempuan-perempuan itu bisa melakukan segalanya sendiri bahkan jika harus sampai bercerai. Saya bukannya anti terhadap feminisme, tapi saya rasa agak kurang sreg dengan caranya yang terlampau ngawur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangan dia tentang perempuan seringkali menggunakan pengalamannya sebagai orang yang secara ekonomi mapan, punya akses terhadap alat produksi, dan punya modal pengetahuan untuk bertahan hidup sendiri. Dia tidak sadar bahwa tidak semua perempuan seberuntung dirinya hingga ia terkesan memaksakan cara berpikir yang sudah mapan dari negeri di atas awan kepada negeri yang penuh permasalahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negara-negara tempat ide feminis berkembang secara politik sudah jauh lebih matang dan jauh lebih ramah terhadap perempuan, baik secara sistem maupun perlakuan sosial dari masyarakatnya. Beberapa negara bahkan bisa memberikan jaminan sosial yang cukup kepada para janda dan membebaskannya dari pajak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan Julia ini memperlihatkan jelas bahwa ia telah terkungkung dalam bingkai pikir yang terlalu kebarat-baratan, mengamini cara pandang barat terhadap masyarakat timur. Padahal ada sebuah nilai yang sangat Indonesia ditunjukkan dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tilik<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bahwa emak-emak memiliki kepedulian yang luar biasa meski mereka tidak satu pemikiran akan sesuatu, mereka bisa mengesampingkan hal itu dan pergi menengok Bu Lurah yang sakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa kepedulian emak-emak pada tetangganya mungkin tidak akan kita temukan di negeri-negeri di atas awan yang menjadi rujukan bepikir Julia. Terlepas dari gibah dalam truk, pertentangan Bu Tedjo, Yu Ning, dan Dian, emak-emak ini adalah perempuan mandiri. Mereka inisiatif sendiri tanpa paksaan untuk menjenguk salah satu warganya bahkan tanpa ditemani suami-suami mereka. Bukannya ini nilai lebih yang harusnya bisa diambil oleh seorang feminis seperti Julia Suryakusuma?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca tulisan Julia rasanya saya ingin mengamini apa yang dikatakan Ashis Nandy, seorang akademisi India yang menggeluti teori-teori sosial bahwa kolonialisme gaya baru itu benar nyata adanya. Ia ada dan mengejawantah pada pemikiran yang melihat dari jauh, terlalu jauh, sejauh jarak antara istana megah kepada rumah-rumah kumuh di perkampungan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/arteria-dahlan-tak-layak-dapat-gelar-terhormat-bukan-karena-dia-cucu-pki\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Arteria Dahlan Tak Layak Dapat Gelar Terhormat Bukan Karena Dia Cucu PKI<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aliurridha\/\">Aliurridha<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang-orang seperti Julia Suryakusuma terlalu terkungkung pada bingkai hingga tidak mampu melihat konteks sosial dalam melayangkan kritik.<\/p>\n","protected":false},"author":452,"featured_media":72299,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[324,773],"class_list":["post-78207","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-feminisme","tag-review-film"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78207","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/452"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78207"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78207\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/72299"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78207"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78207"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78207"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}