{"id":78197,"date":"2020-09-19T05:29:56","date_gmt":"2020-09-18T22:29:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=78197"},"modified":"2022-01-27T16:09:44","modified_gmt":"2022-01-27T09:09:44","slug":"saep-preman-pensiun-harus-diberi-kesempatan-buat-insaf-lagi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saep-preman-pensiun-harus-diberi-kesempatan-buat-insaf-lagi\/","title":{"rendered":"Saep &#8216;Preman Pensiun&#8217; Harus Diberi Kesempatan buat Insaf Lagi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian sering menyaksikan sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di layar kaca, mungkin kalian familier dengan karakter Saep yang diperankan oleh Icuk Baros. Pendiri sekaligus dosen Academy of Bandung Copet dikenal sebagai karakter <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang paling menyebalkan sekaligus dibenci.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini disebabkan Saep selalu mengambil dompet di tas orang lain secara diam-diam dengan cara memanfaatkan situasi lengah korban, seperti saat tertidur atau melamun di angkot. Aksi nekat Saep terbukti ampuh dan berjalan lancar tanpa ketahuan siapa pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah turun dari angkot, Saep langsung membuka dompet yang berisi banyak uang yang bakal dia gunakan sebagai biaya kebutuhan sehari-hari. Inilah bentuk kemenangan kecil Saep dalam mencari rezeki lewat jalur \u201ccomot dompet\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tindakan Saep jelas bikin banyak pihak rugi. Survei membuktikan banyak para korban Saep yang tidak menyadari bahwa isi tasnya benar-benar raib seketika. Mereka tidak bisa bertindak apa-apa setelah kecopetan. Bahkan mereka sempat memohon kepada sopir angkot untuk digratiskan naik angkot. Setelah insiden tersebut, semua orang jadi trauma naik angkot sehingga mereka beralih ke transportasi pribadi. Tuh kan, sopir angkotnya juga ikut rugi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah aksi Saep sudah memakan banyak korban, banyak penonton yang menyarankan Saep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">agar segera bertobat dari perbuatan mencopetnya sebelum masuk jeruji besi. Solusi lainnya adalah Saep sebaiknya melamar pekerjaan di perusahaan mana saja secara halal daripada mengandalkan uang hasil copet. Apabila kedua cara tersebut tidak efektif, Saep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih baik meneruskan profesinya sebagai penyapu jalanan Kota Bandung dan cosplayer di Gedung Asia-Afrika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua kritikan buat Saep yang diungkapkan oleh penonton seolah menandakan bahwa dia harus belajar dari kesalahannya di masa lalu supaya mempunyai masa depan yang cerah, sekaligus melepaskan diri dari embel-embel \u201clangganan buronan polisi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harapan seluruh masyarakat tanah air untuk melihat tukang copet insaf tampaknya bakal sulit terwujud. Sebab, dia telah memantapkan hati sebagai pencopet sejati yang tidak akan tergoda insaf. Saep menyebut \u201cinsaf\u201d itu hanya ditujukan untuk orang-orang kuat iman dengan pendidikan tinggi dan identik sama kekayaan melimpah. Pengamatan cerdas Saep ini konon mengacu pada banyaknya sarjana yang berstatus pengangguran dengan alasan lapangan pekerjaan semakin terbatas. Saking frustrasinya, mereka ada yang berakhir mabuk-mabukan sambil minum kopi seliter sebagai bahan pelampiasan kekesalan serta terjerumus dalam dunia kriminal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terinspirasi dari pengalaman mereka, Saep justru memilih jalan tengah sendiri yang dijamin caranya lebih halus dan bisa menghasilkan uang secara praktis tanpa harus lewat kerja kantoran, yaitu menjadi pencopet kelas kakap yang berambisi ditakuti oleh semua orang. Sesuai dengan kutipan, \u201cKita memang jahat dan jangan sampai kita tergoda untuk berbuat insaf,\u201d dia berharap ada generasi penerus yang mau melanjutkan perjuangannya sebagai pencopet sepenuh hati dengan mengutamakan niat dan tekad kuat. Wah pantas saja Saep enggan keluar dari zona nyamannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara garis besar, insaf di mata Saep sama saja mengubur mimpi \u201cmeramaikan khazanah dunia percopetan di kota ini\u201d yang sudah dirintisnya sejak lama setelah ditinggalkan oleh duo karibnya Junaedi dan Ubed. Sebagai peringatan keras, dia tidak segan-segan memasang peringatan \u201cawas copet\u201d di berbagai tempat umum. Utamanya peringatan tersebut ditujukan kepada Diza yang menghalangi aksi pencopetannya dengan tuduhan pencemaran nama baik. Maka dari itu, Saep menganggap insaf adalah bentuk pembongkaran identitasnya sebagai pencopet &#8220;asli&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saep sebenarnya pernah insaf atas desakan mantan istrinya, Sulis. Dia diminta untuk segera mencari pekerjaan halal. Demi memastikan situasi dan kondisi aman terkendali, dia memutuskan untuk beralih profesi sebagai asisten Ubed yang bertugas menjual cilok ke calon pembeli. Selama ikut berdagang bersama Ubed, Saep juga menunjukkan skill masak cilok ala kadarnya dengan menambahkan sedikit bumbu cabe rawit dan kecap manis demi memperkaya cita rasa cilok yang gurih dan kenyal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, cilok bikinan Saep justru kurang diminati pembeli. Hambar dan terlalu banyak tambahan pengawet menyebabkan pembeli lebih menyukai cilok Ubed. Sejak hasil kreasinya gagal total, Saep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> langsung meninggalkan kesibukan jualan cilok Ubed. Lalu dia menjalankan aksinya sebagai pencopet yang kembali meneror penumpang angkot. Dia pun mengerahkan anak buahnya yang kebetulan sama-sama batal insaf.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru saja merayakan comeback-nya di dunia percopetan, Saep sering mengalami kejadian tak terduga. Mulai dari ancaman Bobby dan Baba, malu bertemu mantan copet yang pernah menggagalkan aksinya lewat siraman rohani, sampai dihajar oleh pasukan Kang Mus karena ketahuan mengambil hape anak Kang Mus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parahnya lagi, Saep harus menerima kenyataan pahit, yaitu mata kanannya memar dan tulang rusuknya patah. Dia pun terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit. Karma yang dialami Saep seolah mengisyaratkan bahwa dia sudah saatnya berhenti menjadi copet ketimbang berurusan lagi sama kasus hukum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun peluang insaf agak sedikit mustahil, Saep kemungkinan besar bisa mengikuti jejak mantan bosnya, Junaedi, yang mantap berhenti sebagai pencopet setelah diberi wejangan oleh Diza. Selain itu, Saep bisa meniru perjuangan mantan partnernya Ubed yang telah sukses dalam berjualan cilok hingga laris manis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa Saep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">harusnya diberi kesempatan kedua untuk menghapus segala dosa-dosanya. Seandainya Saep insaf sejak dulu, mungkin dia telah hidup harmonis bersama keluarganya, masih menikmati status sebagai orang terkaya di dunia, dan perceraian dengan Sulis tidak pernah terjadi. Semoga saja Saep benar-benar meninggalkan kegiatan mencopetnya beneran di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun 5<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-mudah-memecahkan-soal-bahasa-panda-utbk-2020\/\"> <b>Cara Mudah Memecahkan Soal Bahasa Panda UTBK 2020<\/b><\/a><b> dan tulisan <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aditya-mahyudi\/\"><b>Aditya Mahyudi<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya rasa Saep Preman Pensiun harusnya diberi kesempatan kedua untuk menghapus segala dosa-dosanya. Hmmm, seandainya Saep insaf sejak dulu.<\/p>\n","protected":false},"author":173,"featured_media":78349,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[6711,1134],"class_list":["post-78197","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-preman-pensiun","tag-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/173"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78197"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78197\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78349"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}