{"id":78139,"date":"2020-09-19T07:03:21","date_gmt":"2020-09-19T00:03:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=78139"},"modified":"2020-09-21T10:17:16","modified_gmt":"2020-09-21T03:17:16","slug":"film-the-social-dilemma-nihil-solusi-dan-melahirkan-ketakutan-belaka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-the-social-dilemma-nihil-solusi-dan-melahirkan-ketakutan-belaka\/","title":{"rendered":"Film &#8216;The Social Dilemma&#8217; Nihil Solusi dan Melahirkan Ketakutan Belaka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Social Dilemma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sedang ramai dibicarakan. Terlepas ia direkomendasikan oleh banyak influencer dan seleb, film ini memang bagus dari segi pemilihan dan pembawaan materi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Materi di film yang sedang tenar ini sangat melawan arus, yakni mengkritik penggunaan smartphone pada masyarakat, terutama penggunaan smartphone oleh anak muda. Meskipun unsur-unsur smartphone membutuhkan sentuhan teknologi, film ini bisa menyampaikannya dengan baik dan mudah dicerna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Social Dilemma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> disuguhkan dengan animasi dan analogi yang pas. Animasi digunakan untuk menjadikan imajinasi kecanduan smartphone menjadi lebih mudah dipahami dan analogi digunakan untuk mendeskripsikan fungsi kecerdasan buatan (artificial intelligence\/AI) dengan lebih simpel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Argumen di film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Social Dilemma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga bisa dibilang sangat kuat. Mereka yang berbicara kebanyakan pernah bekerja di kantor pengembang aplikasi yang membuat candu para pengguna smartphone.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan adanya animasi, analogi, dan pembawa argumen yang kredibel, film ini sukses untuk menakut-nakuti pengguna smartphone. Yang jadi masalah adalah apakah film ini bertanggung jawab kepada penonton yang sudah mereka takuti?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya tidak, film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Social Dilemma <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bisa saya bilang hanya jadi momok seram yang menakuti para penonton. Alhasil, mereka yang ketakutan pun, siapa tahu, bisa menjadi trauma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasalnya, film ini memang hanya memaparkan masalah-masalah yang sedang dialami oleh pengguna smartphone alias tidak ada solusi sama sekali yang diberikan. Beberapa \u201chikmah\u201d memang disampaikan di akhir film, namun solusi-solusi tersebut hanya diucapkan, tidak dikaji penuh layaknya masalah-masalah yang diberikan sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga tidak yakin solusi-solusi tersebut dapat diingat oleh penonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Social Dilemma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Gimana mau diingat, toh solusinya di akhir, ya keburu ketakutan duluan penontonnya. Kalau kata guru saya di tingkat SMA hal seperti itu cuma masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya adalah orang yang sangat menunggu solusi-solusi dari permasalahan yang telah disampaikan. Sumpah saya nunggu banget, eh ternyata nihil. Akhirnya, saya malah mengembangkan solusi-solusi ini sendiri, itu pun berakhir dengan asumsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak banget teman saya yang saya ajak diskusi soal kekosongan solusi di film ini, namun responsnya hanya begini, \u201cYa intinya smartphone tuh bikin nagih, makanya jangan pakai smartphone lagi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghilangkan penggunaan smartphone sangat tidak mungkin. Terlepas dari unsur nagihnya, smartphone berguna untuk memberi kabar ke teman bahwa besok ada janji, merencanakan liburan, bahkan sampai jadi pengingat untuk diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seakan-akan solusi untuk menghilangkan kecanduan terhadap smartphone hanyalah solusi tunggal, mutlak, dan tidak dapat diganggu gugat. Begitu pula diskusi tentang permasalahan kecanduan smartphone, sepi, bagaikan kuburan di malam hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya ada dua alasan mengapa diskusi tentang solusi dari permasalahan film ini diabaikan. Pertama, bisa jadi mereka sudah ketakutan duluan atau kedua, sudah termakan oleh solusi tunggal untuk tidak pakai smartphone lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Efek penonton yang ketakutan bisa dibilang berdampak positif bagi dirinya, yaitu jadi menjauhkan diri dari smartphone yang jahat itu. Namun, kalau menjadikan mereka sebagai orang yang enggan diskusi, intoleran, dan merasa sok pintar, ya bahaya juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solusi terbaik atas permasalahan yang ada di film ini, menurut saya, adalah dengan menghidupkan VPN ketika kalian mengeklik hal-hal yang direkomendasikan oleh aplikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solusi ini saya ketahui bukan dari film tersebut, melainkan dari YouTuber bernama Eno Bening di kanal YouTube Pandji Pragiwaksono. Memang sih video yang ada di kanal Pandji hanya bermodalkan screen recording dari suatu platform meeting online. Namun, isi dari omongan Eno Bening sungguh luar biasa, solutif pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau suatu saat Eno Bening bertemu dengan Bu Tejo, pasti Bu Tejo tidak akan mengumpat Eno Bening tidak solutif, saya yakin. Jika ada dari kalian yang sangat ketakutan dengan permasalahan di film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Social Dilemma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, nih coba dengerin omongan Eno Bening di video<\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=gEV_OGRtA-k&amp;t=2731s\"><span style=\"font-weight: 400;\"> ini<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lu-bu-sebenar-benarnya-mimpi-buruk\/\"> <b>Lu Bu dan Red Hare Adalah Sebenar-benarnya Mimpi Buruk Masa Kecil<\/b><\/a><b> dan artikel<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-fikri-arrahman\/\"> <b>Muhammad Fikri Arrahman<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film The Social Dilemma  hanya memaparkan masalah-masalah yang sedang dialami oleh pengguna smartphone, alias tidak ada solusi sama sekali.<\/p>\n","protected":false},"author":1009,"featured_media":78149,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[773,3267],"class_list":["post-78139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-review-film","tag-smartphone"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1009"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=78139"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/78139\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78149"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=78139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=78139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=78139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}