{"id":7785,"date":"2019-08-16T09:30:04","date_gmt":"2019-08-16T02:30:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=7785"},"modified":"2022-02-04T13:16:40","modified_gmt":"2022-02-04T06:16:40","slug":"jangan-bawa-pacarmu-ke-prambanan-nanti-putus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-bawa-pacarmu-ke-prambanan-nanti-putus\/","title":{"rendered":"Jangan Bawa Pacarmu ke Prambanan: Nanti Putus!"},"content":{"rendered":"<p>Jogja istimewa salah satunya disebabkan berbagai <a href=\"https:\/\/tirto.id\/mitos-bus-hantu-dan-alasan-orang-kecanduan-cerita-horor-edcb\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">cerita mistis<\/a> tentangnya. Sebagai pendatang baru di Jogja 2010, saya disuguhi cerita mistis itu oleh teman-teman senior. Misalnya, larangan memakai pakaian berwarna hijau di pantai selatan. Katanya kalau saya memakai baju hijau saya bisa disedot air laut. Sebab katanya Ratu Pantai Selatan\u2014Nyi Roro Kidul\u2014memakai pakaian serba hijau. Jadi saya harus menghormatinya.<\/p>\n<p>Cerita lain misalnya tentang pohon kembar beringin di alun-alun selatan. Konon, orang yang berhasil melaluinya dengan mata tertutup berarti hati dan pikirannya bersih. Saya sendiri ketika mencobanya gagal berkali-kali bahkan belok ke titik semula. Saya jadi merasa bersalah. Lalu mencobanya lagi dan lagi di lain waktu. Akhirnya bisa. Tapi belakangan, saya gagal lagi. Aneh memang.<\/p>\n<p>Yang lain misalnya, cerita foto di Tugu Pal Putih\u2014orang sering menyebutnya Tugu Jogja. Katanya kalau berfoto di sana bakal selalu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/adv\/ulasan\/pojokan\/di-jogja-apa-apa-memang-murah-dari-umr-wisata-sampai-biaya-kuliah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">rindu dengan Jogja<\/a>. Bahkan katanya kita ingin berlama-lama di Jogja, enggan pergi meninggalkannya. Kadang saya berpikir, jangan-jangan itu yang bikin orang\u2014para perantau atau mahasiswa\u2014betah tinggal Jogja. Saya sendiri sering berfoto di sana. Mungkin itu kali ya yang bikin saya susah <em>move on <\/em>dari kota ini.<\/p>\n<p>Tapi cerita yang paling menarik dan membekas dalam kehidupan saya pribadi adalah cerita mistis candi Prambanan. Dulu saya diperingatkan oleh teman supaya tidak membawa pasangan\u2014pacar\u2014ke sana. Katanya hubungan saya pasti akan berakhir\u2014putus. Lagi, ke sana juga tidak boleh memakai pakaian hijau.<\/p>\n<p>Suatu ketika saya lepas dari kutukan jomblo. Saya punya pacar dan kami LDR\u2014beda pulau. Setelah setahun tak jumpa, pacar\u2014maksud saya mantan\u2014datang ke Jogja. Saya sangat senang dong. Selain bisa melahirkan banyak cumbu, mengobati rindu, saya juga bisa memperkenalkan kota yang sudah memberiku banyak suka duka dan juga ilmu.<\/p>\n<p>Namun di saat itu pula, nasihat teman yang sudah lama saya lupakan itu kembali meraung-raung di kepala. Saya jadi tiba-tiba takut kalau-kalau pacar meminta saya membawanya ke sana. Ada semacam takut kehilangan berpijar di dada. Saya takut cerita itu menjadi kenyataan. Karena itu saya, mengatur jadwal\u2014rute perjalanan\u2014untuk beberapa hari tanpa menyertakan candi Prambanan.<\/p>\n<p>Perjalanan dimulai. Saya membawanya keliling Jogja. Keindahan daerah selatan seperti pantai Parangtritis, Gumuk Pasir dan sekitarnya. Kemudian pantai Baron dan sekitarnya. Supaya dia bertambah senang, saya bawa ke hutan pinus sekitarnya lalu menuju Tebing Breksi, Candi Ijo dan Ratu Boko.<\/p>\n<p>Di hari yang lain, kami mengujungi beberapa daerah wisata bagian utara Jogja seperti The Lost World Castle, Museum Merapi, dan beberapa tempat yang lain. Tak lupa pula Manding, Taman Sari, Alun-Alun, Malioboro \u00a0Selatan dan \u00a0Tugu Jogja. Singkat cerita, saya bawa dia ke berbagai tempat agar waktu habis dan dia tidak sempat memikirkan Prambanan (supaya saya bisa dapat <em>jatah <\/em>juga sih, hahaha).<\/p>\n<p>Selain itu, saya sengaja membawanya ke banyak tempat dalam beberapa hari agar perasaan kami semakin menyatu, kenangan di antara kami semakin membukit. Berdua naik sepeda motor mengelilingi Jogja yang istimewa sangat romantis dan indah (dan capek, haha). Dengan begitu, saya berharap hubungan kami semakin langgeng, sulit berpisah satu sama lain. Liburan selesai dan pacar saya kembali ke pulau seberang. Saya pun merasa senang dan lega karena bayang-bayang menakutkan\u2014cerita mistis Prambanan\u2014telah lewat.<\/p>\n<p>Beberapa bulan kemudian hubungan kami kandas. Dia pergi meninggalkan saya (katanya sih saya terlalu idealis. Ah, sedih). Saya jadi teringat candi Prambanan. Saya sangat menyesal. Mengapa waktu itu saya tidak membawanya ke sana? Walaupun cerita itu tidak benar, setidaknya ada alasan yang membuat hati ini lega. Setidaknya saya \u00a0bisa berkata: \u201cTernyata cerita itu benar. Ah, harusnya kami tidak pergi ke sana.\u201d Dalam keadaan terpuruk, tentu cerita mistis itu bisa menjadi kambing hitam.<\/p>\n<p>Seandainya saya dengan dia pergi ke candi Prambanan, barangkali hati saya lebih lega mengikhlaskannya pergi. Kenangan-kenangan kami lebih mudah berlalu dari pikiran. Andaipun kemudian misalnya kami malah bersatu, saya masih bisa berkelit bahwa cerita itu tidak benar. Dari pada seperti sekarang kan? Tapi ah ya sudahlah. \u00a0Namanya juga sudah berakhir. Besok-besok siapapun pacar saya, akan saya bawa ke candi Prambanan. Kalau cerita itu benar, setidaknya saya bisa menambah jumlah mantan. Kalau tidak benar, setidaknya saya bisa belajar lepas dari hal-hal klenik<em>.\u00a0<\/em>(*)<\/p>\n<div>\n<div><\/div>\n<div><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>.<\/em><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya takut cerita itu menjadi kenyataan. Karena itu saya, mengatur jadwal\u2014rute perjalanan\u2014untuk beberapa hari tanpa menyertakan candi Prambanan.<\/p>\n","protected":false},"author":161,"featured_media":10293,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12912],"tags":[2609,16,115,1329,212,167,2610,509],"class_list":["post-7785","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sapa-mantan","tag-candi-prambanan","tag-hubungan","tag-jogja","tag-mistis","tag-mitos","tag-pacaran","tag-wisata-indonesia","tag-yogyakarta"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7785","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/161"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7785"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7785\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10293"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7785"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7785"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7785"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}