{"id":77789,"date":"2020-09-18T05:03:48","date_gmt":"2020-09-17T22:03:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=77789"},"modified":"2021-08-13T12:42:05","modified_gmt":"2021-08-13T05:42:05","slug":"rivalitas-the-beatles-dan-the-rolling-stones-yang-mirip-settingan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rivalitas-the-beatles-dan-the-rolling-stones-yang-mirip-settingan\/","title":{"rendered":"Rivalitas The Beatles dan The Rolling Stones yang Mirip Settingan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;The Beatles lebih terkenal dari Stones, tapi Stones nggak bubar kayak The Beatles.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah salah satu kesimpulan setelah saya ngobrol dengan diehard fans The Rolling Stones. Kami berdua memang penggemar musik, terutama musik rock zaman dulu kayak Led Zeppelin dan semacamnya. Kalau ketemu teman sebaya yang suka musik jadul rasanya kayak menang undian, seneng karena jarang banget yang satu \u201caliran\u201d begini. Saya juga bingung kenapa rasanya lebih enak mendengar musik zaman dulu, bukan berarti musik masa sekarang nggak bagus, semua tergantung selera, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbincangan kami sore itu, sedikit membahas antara The Beatles dan The Rolling Stones karena kedua band ini seangkatan. Tiba-tiba, teman saya bertanya, \u201cMenurut lo, siapa yang lebih keren, The Beatles atau The Rolling Stones?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan yang cukup sulit karena saya menyukai kedua band itu, tapi jika harus memilih, saya prefer The Beatles ketimbang The Rolling Stones.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keduanya merupakan band besar asal Inggris dan sama-sama mempunyai duo tokoh utama yang luar biasa. Kalau The Beatles punya duet John Lennon-Paul McCartney yang tidak diragukan lagi dalam menulis lagu, maka The Rolling Stones juga punya \u201cGlimmer Twins\u201d<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">julukan dari Mick Jagger-Keith Richards.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemunculan Beatles bisa dikatakan salah satu keajaiban dunia. Bayangin, dulu belum ada TV dan media sosial yang bisa membuat nama mereka lebih cepat terkenal, tapi nama mereka melesat bagai roket. Hal ini bisa disebut dengan \u201cpopularitas yang berbeda\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keith Richards, gitaris Stones, pernah memuji The Beatles karena sangat beruntung memiliki empat anak muda yang bisa bernyanyi, sedangkan Stones hanya punya satu. Jadi, bisa dibilang Stones cemburu kepada Beatles.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bukan berarti The Rolling Stones lebih buruk dari The Beatles ya. The Rolling Stones muncul dengan blues rocknya yang kental dan melodi gitar ciamik. Apalagi ketika Brian Jones masih bersama Stones, banyak yang merindukan sosok Brian Jones hingga banyak muncul kalimat NO JONES NO STONES!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi yang membuat saya kagum dengan Stones yaitu, mereka mempunyai frontman yang cukup unik. Frontman yang dimaksud adalah Mick Jagger, sang vokalis sekaligus penari gila dengan gerakannya yang liar di panggung. Bahkan ada sebuah lagu yang terinspirasi dari kegilaan Jagger di panggungnya yaitu \u201cMoves Like Jagger\u201d milik Maroon 5.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rivalitas antara The Beatles dan The Rolling Stones sudah dimulai sejak 1960-an, dimulai dari para fans dan media yang membesar-besarkan rivalitas mereka. Para fans sudah sepakat memberikan pandangan bahwa The Beatles adalah sekumpulan good boy dengan setelan jas rapi, sedangkan Stones adalah lima anak muda yang berpakaian nyentrik dan rambut urakan dengan aksi panggung liar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andrew Oldham, manajer Stones, memberikan kesan yang berbeda dari Beatles, agar tidak dianggap sebagai follower<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kinerja yang luar biasa dari seorang manajer Stones untuk menaikkan pamor mereka adalah dengan cara membuat kalimat promosi seperti ini, \u201cMengikuti jejak Beatles, kini datang orang Inggris gelombang kedua dengan penampilan lebih liar dan lebih nakal ketimbang Beatles.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam masalah inovasi musik, saya rasa Beatles memang nggak ada lawan di eranya. Di balik kesuksesan The Beatles, ternyata ada fakta unik yang membuat saya bingung sekaligus takjub, yaitu semua personelnya tidak bisa membaca not balok. Waduh, nggak ngerti not balok aja bisa bikin lagu yang segitu kerennya, memang benar band ini punya sisi magis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, ketika The Beatles lebih fokus ke pembuatan album di studio, Stones menyamai pencapaian mereka sebagai band besar yang sering mengadakan konser outdoor maupun indoor. Stones bahkan pernah mengadakan konser dengan 1,5 juta penonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pencapaian terbesar Stones lainnya yaitu masih mengadakan konser dari tahun 1964 hingga sekarang. Tapi, hal ini juga membuat orang-orang bosan melihat mereka menua. Berbeda dengan The Beatles yang harus bubar pada<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a01970, namun hal itulah yang membuat orang-orang rindu dengan penampilan mereka yang harus bubar di puncak kejayaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik kehebohan rivalitas kedua band ini, mereka ternyata bersahabat satu sama lain. Seperti Mick Jagger dan John Lennon, sungguh berbeda dengan apa yang diberitakan oleh media. Semua rivalitas itu ternyata hanyalah strategi marketing manajer untuk menaikkan pamor kedua band legendaris ini.<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@mike-468229\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mike<\/a> via <a href=\"https:\/\/images.pexels.com\/photos\/1181789\/pexels-photo-1181789.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;dpr=2&amp;h=750&amp;w=1260\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pexels.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/punk-yang-dianggap-lebih-berbahaya-daripada-komunis-dan-fasisme\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Punk yang Dianggap Lebih Berbahaya daripada Komunis dan Fasisme<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ariz-rahman-hasraf\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ariz Rahman Hasraf<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>The Beatles lebih terkenal dari Stones, tapi Stones nggak bubar kayak The Beatles. Bagaimana kalau rivalitas keduanya hanya strategi manajer?<\/p>\n","protected":false},"author":955,"featured_media":77972,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[248,8081],"class_list":["post-77789","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-musik","tag-the-beatles"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77789","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/955"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77789"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77789\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/77972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77789"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77789"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77789"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}