{"id":77567,"date":"2020-09-16T06:44:00","date_gmt":"2020-09-15T23:44:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=77567"},"modified":"2022-01-07T17:00:10","modified_gmt":"2022-01-07T10:00:10","slug":"rokok-bikin-rakyat-miskin-makin-miskin-itu-omong-kosong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rokok-bikin-rakyat-miskin-makin-miskin-itu-omong-kosong\/","title":{"rendered":"Rokok Bikin Rakyat Miskin Makin Miskin Itu Omong Kosong"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa minggu sebelum Jogja mencanangkan PSBB, saya terlibat dalam obrolan menarik di sebuah angkringan. Obrolan seputar kampanye antirokok ini hampir saja saya lupakan. Tapi, ingatan ini kembali gara-gara sebuah komentar perihal \u201cRokok membuat rakyat miskin makin miskin.\u201d Apalagi komentar itu muncul di salah satu artikel saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seingat saya, ada empat orang yang terlibat obrolan ini. Yang pertama dikenal sebagai Lik Yat. Blio adalah pemilik warung angkringan yang sudah berhenti merokok belasan tahun. Berikutnya ada Pak Rudi, bapak paruh baya yang berprofesi sebagai tukang tambal ban. Kebetulan blio sempat berkenalan langsung dengan saya. Tokoh ketiga dikenal sebagai Mas Kopik. Blio adalah warga yang tinggal di sekitar lokasi angkringan. Blio mengaku sebagai \u201ctukang serbaguna.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih gagal mengingat orang keempat yang terlibat dalam obrolan ini. Blio adalah driver ojol yang sepertinya masih cukup muda. Mas Ojol ini duduk di trotoar bersama rekan yang lain karena itu saya kurang bisa mengenal blio. Tapi, komentar-komentar singkat blio sangat menarik minat saya. Obrolan ini terjadi di sebuah angkringan yang tak jauh dari J-Walk, sebuah mal yang berubah fungsi jadi area perkantoran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obrolan dimulai dengan pembahasan perihal tembakau linting saya. Kebetulan saya dan Pak Rudi sama-sama penikmat rokok linting. Mas Kopik yang berbeda lincak dengan saya ikut memperhatikan dan berdiskusi. Oleh karena saya masih menunggu teman, maka saya coba melempar opini panas ala-ala provokator demo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak, katanya rokok itu sumber kemiskinan.\u201d Itu opini pertama saya yang terucap dalam bahasa Jawa. Pak Rudi terkekeh dan mempertanyakan siapa yang bilang seperti itu. Saya menjelaskan perihal berbagai aktivis antirokok yang gemar mengeluarkan statement demikian. Ternyata malah Mas Kopik yang segera menanggapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSedikit-sedikit kok menyalahkan rokok. Itu Lik Yat masih tetep miskin (padahal tidak merokok).\u201d Komentar ini segera dibenarkan oleh Lik Yat. Blio berpendapat, rokok itu tidak akan membuat orang miskin. Buktinya banyak bos yang masih merokok dan memiliki penghasilan jutaan. Di tengah diskusi Lik Yat dengan Mas Kopik, Pak Rudi nyeletuk:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMeskipun saya tidak merokok, yang datang untuk menambalkan ban tidak tambah, Mas. Mosok kalau saya tidak merokok, banyak ban yang bocor.\u201d Celetukan ini disambut pembenaran oleh Mas Kopik dan saya. Pembicaraan berikutnya makin riuh sembari bergibah tentang ekonomi teman masing-masing. Ada tukang bangunan yang tetap miskin meskipun tidak merokok. Ada juga pedagang angkringan yang masih terjebak utang meskipun tidak merokok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, Lik, katanya uang rokok bisa ditabung untuk bangun rumah,\u201d ujar saya mengingat meme perihal satu bungkus rokok sama dengan tiga batako. Lik Yat dan Mas Kopik menganggap argumen itu mengada-ada. Terbukti Lik Yat tetap tidak punya rumah meskipun berhenti merokok. Justru Mas Kopik punya rumah padahal perokok berat. \u201cTapi, itu rumah warisan, Mas,\u201d demikian klarifikasi dari Mas Kopik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya makin tertarik dengan Lik Yat. Saya bertanya mengapa blio berhenti. Alasan Lik Yat berhenti adalah karena cucu blio tinggal serumah. Ternyata setelah berpuasa rokok cukup lama, blio jadi tidak doyan rokok. Wah, diam-diam Lik Yat pernah menjadi perokok santun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak puas dengan jawaban-jawaban tadi, saya coba menggunakan salah satu argumen utama antirokok. \u201cDaripada untuk beli rokok, lebih baik uangnya untuk makan saja.\u201d Pernyataan saya ini langsung dijawab Mas Kopik dengan tindakan sederhana: blio mengambil gorengan dan memakannya. Itu bisa diartikan sebagai \u201csaya tetap bisa makan meskipun perokok\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Rudi yang sempat diam saja menimpali, makan dan rokok itu adalah perkara yang beda. Menurut blio, orang akan tetap makan agar tidak lapar. Di tengah tanggapan Pak Rudi, Mas Ojol misterius menyahut, \u201cJika ingin makan, tinggal kerja. Jika ingin merokok, tinggal kerja. Tak perlu mengatur-atur orang yang merokok untuk makan.\u201d Tentu dalam bahasa Jawa seperti yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obrolan mereka makin seru perihal makan dan rokok. Intinya adalah urusan makan dan rokok tiap orang berbeda. Setiap orang bisa mengatur kebutuhan pribadi untuk uang dan rokok, termasuk menentukan uang yang mepet digunakan untuk membeli makan atau rokok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Ojol misterius tadi menambahi, \u201cSeorang perokok kadang memilih untuk membeli rokok daripada makan. Tapi tidak pernah ada berita yang mengatakan seorang perokok mati kelaparan karena memilih beli rokok.\u201d Ungkapan tersebut disetujui teman-teman sesama driver ojol. Ternyata ada sekitar tiga driver lain yang nongkrong di dekat angkringan. Saya malah bingung, kapan mereka datang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obrolan yang makin ngalor-ngidul ini tidak bisa saya ingat semua. Selain temanya makin meluas, saya juga terganggu kabar dari teman saya. Maka sebelum membayar es susu dan sate usus, saya berikan pertanyaan terakhir yang intinya, \u201cLalu mengapa Anda semua tetap merokok meskipun uang tak seberapa dan banyak yang bilang untuk berhenti?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lik Yat tidak memberi tanggapan, toh blio sudah berhenti. Mas Kopik menjawab, \u201c(Merokok itu) agar saya tetap segar saat mburuh, Mas. Kalau belum merokok, rasanya kerja itu berat. Merokok juga menghilangkan bosan saat bekerja. Meskipun cuma disedot-sedot, setidaknya mengurangi rasa jenuh.\u201d Aslinya jawaban blio lebih panjang, tapi intinya itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Rudi menambahkan, \u201cSaat saya kerja, saya juga butuh hiburan, Mas. Saya kan tidak bisa mainan handphone seperti Anda,\u201d sambil menunjuk smartphone saya. \u201cApalagi saat menambal ban tangan saya sibuk. Daripada saya cuma diam saja, saya merokok. Setidaknya saya tidak terlalu sepaneng saat kerja.\u201d Jawaban ini saya tanggapi dengan tepuk tangan kecil sambil manggut-manggut. Saya setuju 100% dengan jawaban blio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kenapa Mas Ojol tadi tidak memberikan tanggapan? Padahal punchline blio selalu membuat suasana pecah. Ternyata Mas Ojol misterius tadi sudah pergi. Kata satu driver lain, Mas Ojol misterius tadi mendapat orderan. Sayang sekali, padahal saya menanti jawaban renyah, pedas, dan sederhana dari sosok misterius tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya diskusi ini harus berakhir. Saat sudah mengendarai motor, saya manggut-manggut mengingat jawaban dari akar rumput perihal kampanye antirokok ini. Obrolan selama kurang lebih satu jam inilah tanggapan yang tepat untuk komentar \u201corang miskin dilarang merokok\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/cps\/esai\/hantu-dan-kebanggaan-negeri-sendiri\/\"><b>Hantu dan Kebanggaan Produk Negeri Sendiri<\/b><\/a><b> dan tulisan <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\"><b>Prabu Yudianto<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah benar rokok membuat rakyat miskin makin miskin? Kalau iya, kenapa ada orang yang tetap miskin meski tidak merokok?<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":55554,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[14280],"tags":[790,3526,309],"class_list":["post-77567","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sebat","tag-kemiskinan","tag-rakyat","tag-rokok"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77567","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77567"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77567\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55554"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77567"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77567"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77567"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}