{"id":77327,"date":"2020-09-19T05:25:54","date_gmt":"2020-09-18T22:25:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=77327"},"modified":"2022-01-27T16:10:01","modified_gmt":"2022-01-27T09:10:01","slug":"memprediksi-omset-penjualan-kicimpring-kang-mus-di-sinetron-preman-pensiun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memprediksi-omset-penjualan-kicimpring-kang-mus-di-sinetron-preman-pensiun\/","title":{"rendered":"Memprediksi Omset Penjualan Kicimpring Kang Mus di Sinetron &#8216;Preman Pensiun&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau sudah menyatakan turung gunung dari dunia preman Kota Bandung, nama Kang Mus susah untuk digeser begitu saja. Saya sedang tidak membicarakan sengketa kekuasaan terminal dari kelompok Willy kontra Gugum yang layaknya laga tanding <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Games of Thrones<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Penuh dengan tumpah darah dan pengkhianatan dan air mata. Bukan juga membicarakan peninggalan kekuasaan Kang Bahar yang sudah dipegang oleh orang-orang asing. Sederhana saja, saya sedang membicarakan transformasi bisnis kicimpring Kang Mus dalam sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi beberapa orang, singkong cuma bahan pangan biasa. Berbeda jika singkong berada di tangan Kang Mus. Olahannya memang biasa, menjadi kecimpring\u2014karena banyak olahan singkong yang berubah jadi kicimpring\u2014layaknya combro. Namun, sangat istimewa manakala Kicimpring Kang Mus menjadi mahkota baru dalam mempertahankan eksistensinya di Kota Bandung. Jika dulu masalah eksistensi wilayah kekuasaan, kini masalah eksistensi keuangan keluarganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kang Mus juga membawa martabat dan nama baik para pegawainya di sebuah rumah industri olahan kicimpring. Salah satunya adalah Ujang yang dulunya bukan siapa-siapa, bahkan pernah menjadi kompetitor karena ia membelot ke Jamal, kini menjadi tangan kanannya. Urusan preman dan kicimpring memang beda. Ketika jadi bos preman, ada problematika melawan Jamal. Namun, ketika jualan Kicimpring Kang Mus, problematika utamanya adalah sepatu Adinda daun singkong tiga itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa harus kicimpring? Kang Mus memberikan identifikasi permasalahan yang matang. Ia sempat mengatakan, keripik singkong pedas, makaroni pedas, dan tela goreng memang sempat menjamur dan banyak peminatnya. Namun, usaha itu ada tendensi musiman. Ia bertahan selama beberapa waktu saja, setelahnya selera orang sudah berubah. Nah, beda lagi kalau kicimpring, dari zaman Emak masih kasmaran sama Bapak, kicimpring tetap menjadi favoritnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, sesudah pensiun sebagai preman, ketika anak buahnya ada yang memilih usaha sablon pakaian, ternak lele, ternak bebek, jadi satpam, dan lainnya, Kang Mus memilih jualan kicimpring. Dibilang lancar sih, nggak juga. Malahan Kang Mus sempat hancur-hancuran dalam meniti bisnis ini. Tidak sesakit perang besar antarpreman, tidak berdarah-darah seperti digorok celurit, namun sakit masalah kerugian keuangan jauh lebih menyiksa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Produknya sempat mengalami banyak transformasi. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kicimpring yang dibuat dengan pengemasan sederhana memang sempat meledak di pasar. Namun, masalah legalitas menjadi pertanyaan. Kang Mus pun maju dalam pendaftaran merek dagang ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Nama \u201cKicimpring Kang Mus\u201d menjadi pilihannya. Dengan logo emas dibubuhi fotonya sedang tersenyum lebar.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, di era \u201cKecimpring Kang Mus\u201d, ia mulai jor-joran dalam mengeluarkan modal. Dalam percakapan dengan Ujang, ia mengatakan keluar uang sebesar Rp20 juta untuk sewa tempat. Ceu Edoh, tenaga tambahan satu-satunya, sudah tidak dipekerjakan (hanya bantu-bantu rumah) dalam penggarapan kicimpring. Terhitung, saat itu, anggota Kicimpring Kang Mus hanya ada tiga orang (termasuk Ujang).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ketika pandemi dan saingan bisnis berdatangan, Kicimpring Kang Mus perlahan tumbang. Dalam season 4, Serena hadir sebagai kartu mati Kang Mus dalam mengembangkan bisnis ini. Sempat dilanda tanda tanya karena arus bisnis yang diinginkan Serena dan hadirnya Silvia, pada muaranya Kang Mus, Silvia, dan Serena terlibat bisnis yang saling menguntungkan. Nama yang dipilih pun kini menjadi \u201cKicimpring Family\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kok bisa menguntungkan? Padahal, trek rekor Silvia adalah seorang lintah darat. Jawaban tersaji di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun Kesempatan Kedua<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Diperlihatkan bahwa bisnis Kang Mus meningkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, sekarang, berapa harga satu pack Kicimpring Family, yang agak modern\u2014karena banyak varian rasa\u2014ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita bisa melihat tokoh Joni di \u201cTukang Ojek Pengkolan\u201d yang menjual Kicimpring Kang Mus (merek terdahulu) dengan harga Rp20 ribu. Secara logika, dengan kemasan lebih baik dan rasa yang variatif, Kang Mus bisa menyiapkan range harga kicimpring olahannya dari Rp15 ribu sampai Rp20 ribu. Namun, dari data yang didapat di sinetron, Kang Mus hanya menyediakan satu pack yang berukuran sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita ambil perkiraan satu pack Kicimpring Family harganya Rp21 ribu. Para penjual di pasar, online, maupun supermarket, memberi harga Rp25 ribu. Jika melihat suksesnya strategi bisnis ini, Kang Mus bisa menjual 1.000 pack lebih sebulan (daya jangkau produk, bertambahnya anggota pekerja, dan banyaknya reseller diperhitungkan). Jadi, Kang Mus memperoleh omset sebesar Rp21 juta sebulan (Rp21 ribu dikali 1.000).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angka ini belum dibagi untuk Serena dan Silvia. Belum untuk bayar tempat, gaji pegawai, dan jangan lupa sepatu Adinda yang gambarnya daun singkong tiga seharga Rp1,5 juta buat Emak. Melihat hasil perkiraan dengan jumlah angka yang lumayan, barang apa lagi ya yang diinginkan oleh Emak? Raketnya Susi Susanti?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ini-yang-terjadi-kalau-para-youtuber-jadi-komdis-panitia-ospek\/\"> <b>Ini yang Terjadi kalau para YouTuber Jadi Komdis Panitia Ospek<\/b><\/a> <b>dan tulisan <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\"><b>Gusti Aditya<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kicimpring Kang Mus menjadi mahkota baru dalam mempertahankan eksistensinya di Kota Bandung. Sekarang bukan soal kekuasaan wilayah preman.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":45974,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[6711,1134],"class_list":["post-77327","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-preman-pensiun","tag-sinetron"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77327","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77327"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77327\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45974"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77327"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77327"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77327"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}