{"id":77288,"date":"2020-09-16T05:03:35","date_gmt":"2020-09-15T22:03:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=77288"},"modified":"2020-09-16T12:30:56","modified_gmt":"2020-09-16T05:30:56","slug":"tidak-ada-yang-salah-dengan-merantau-ke-kota-kecil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-ada-yang-salah-dengan-merantau-ke-kota-kecil\/","title":{"rendered":"Tidak Ada yang Salah dengan Merantau ke Kota Kecil"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota besar selalu menjadi primadona. Selain dianggap bisa memperbaiki taraf hidup dan perekonomian, merantau ke kota besar ditujukan untuk membangun dan memperbaiki jaringan. Banyak remaja yang melepas masa SMA dan berkeinginan kuliah di kota-kota besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada yang salah memang, tapi bagaimana kalau kita balik? Orang yang tinggal di kota besar, sudah ada segalanya, baik tempat kerja maupun universitas favorit, namun memilih untuk merantau ke kota kecil atau kota yang perkembangannya tidak lebih baik dari kotanya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya salah satu dari sekian orang yang memilih hal tersebut. Saya sebenarnya punya banyak alasan. Saya memilih untuk merantau ke kota kecil, yaitu Kudus, karena jenuh dengan perkotaan. Melakukan rutinitas di awal minggu dan menikmati akhir minggu dengan berada di rumah saja, rasanya terlalu membosankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan kedua mengapa saya merantau ke kota kecil adalah karena saya diterima di Institut Agama Islam Negeri Kudus lewat jalur SNMPTN. Lagi pula, saya ingin berlatih survive dengan pilihan saya sendiri, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap apa yang saya pilih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan merantau ke kota kecil, ya, mau nggak mau kita harus meninggalkan kebiasaan hidup di kota besar agar bisa membaur dengan masyarakat setempat. Tidak lupa belajar bahasa dan dialek lokal, yakni bahasa Jawa. Padahal sebagai orang Betawi, saya sering dengar ucapan, \u201dBoro-boro belajar bahasa Jawa, belajar bahasa Indonesia aja jeblok mulu, emang dasar kagak dablek orangnya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika awal masuk kuliah, saya benar-benar dibuat bingung dengan apa yang dibicarakan teman-teman. Saya ajak ngomong bahasa Indonesia, mereka kesulitan karena dialeknya sudah melekat dan jadi kebiasaan. Akhirnya terpaksa saya belajar sedikit-sedikit bahasa Jawa, walau pastinya \u201cdipaido wong akeh\u201d dengan aksen Sunda dan Betawi saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari dipaido wong akeh ini, saya banyak belajar menjadi orang bermental baja dan \u201crai tembok\u201d yang nggak gampang malu, salah ra salah ra urus. Pokoknya yang penting berusaha ngomong pakai bahasa Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain soal bahasa, banyak juga perbedaan yang saya temui dari kebiasaan orang di Kudus. Kapan lagi Anda melihat seseorang dengan santainya ke Hypermart pakai sarung plus pakai peci. Muke gile nih orang, santuy amat. Saat orang-orang di kota besar memilih berpakaian rapi dan wangi demi jalan-jalan ke mal, orang Kudus nggak peduli dengan itu semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang bikin takjub adalah harga rata-rata makanan di sini. Buat ukuran orang yang lahir dan tinggal di kota besar, kapan lagi saya bisa dapatkan makan ayam dada plus sayur bening dan air putih seharga Rp8 ribu? Ngopi dengan view pemandangan hijau, bukit, dan gunung pun nggak perlu susah. Dulu saya harus capek-capek ke Warpat buat beli Indomie doang demi mendapatkan view yang bagus. Di Kudus mah banyak&#8230;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Enaknya merantau ke kota kecil kayak Kudus adalah aksesnya yang lebih mudah buat ke mana-mana. Pengin ke kota, bisa ke Semarang, pengin ke pantai, bisa ke Jepara, Pati, maupun Rembang. Jalanan juga nggak macet kayak di kota-kota besar, lancar jaya pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yang perlu kalian tahu, merantau ke kota kecil atau kota besar itu sama-sama berjuang untuk survive. Pintar-pintarlah memperluas jaringan pertemanan biar kalian bisa semakin mudah bertahan di tanah rantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada yang salah dengan memilih merantau ke kota kecil. Bersiaplah ketika kembali ke kota kalian bakal diberondong pertanyaan seputar, \u201cKok bisa ke sana sih? Di sini kan semuanya ada? Betah lu ye? Udah ada cem-ceman nih keknya&#8230;\u201d dan berbagai pertanyaan lainnya yang nggak perlu dijawab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hadapi saja dan nikmati saat-saat kalian hidup di kota kecil. Sebenarnya tidak ada yang menjamin hidup di kota besar bakal lebih berkualitas, semua tergantung pada bagaimana kita menjalaninya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/udah-bener-james-rodriguez-pindah-ke-everton-daripada-nganggur-di-real-madrid\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Udah Bener James Rodriguez Pindah ke Everton, daripada Nganggur di Real Madrid<\/a> dan artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Mojok<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak ada yang salah dengan memilih merantau ke kota kecil. Kota besar tidak menjamin kita bisa hidup lebih berkualitas.<\/p>\n","protected":false},"author":1012,"featured_media":14725,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[34,1418],"class_list":["post-77288","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-mahasiswa","tag-merantau"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1012"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77288"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77288\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14725"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}