{"id":77226,"date":"2024-02-04T11:38:41","date_gmt":"2024-02-04T04:38:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=77226"},"modified":"2024-02-05T10:27:39","modified_gmt":"2024-02-05T03:27:39","slug":"piagam-perjanjian-tni-al-dengan-nyi-roro-kidul-beneran-ada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/piagam-perjanjian-tni-al-dengan-nyi-roro-kidul-beneran-ada\/","title":{"rendered":"TNI AL Punya Perjanjian dengan Nyi Roro Kidul, dan Ini Beneran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi Markas Komando Armada II Surabaya ada prasasti perjanjian antara TNI AL sama Nyi Roro Kidul lho,\u201d kata teman saya ketika malam Minggu kemarin kami nongkrong bareng. Seketika saya terenyak dan berpikir: dia halu ya? Mana mungkin tentara bersenjata di sebuah negara modern membuat kesepakatan dengan keraton gaib?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua hari berselang, teman saya itu mengirim bukti valid yang bikin saya tak bisa menyanggah lagi. Foto prasasti tersebut, bertarikh 1966. Dan memang benar, isinya adalah perjanjian antara TNI Angkatan Laut dan Nyi Roro Kidul. Isi prasasti itu adalah sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Piagam<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Keradjaan Bawah Air Yang Manyakrawati Mambaudenda berkenan memberikan \u201cpiagam\u201d ini kepada,<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ANGKATAN LAUT REPUBLIK INDONESIA<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">sebagai tanda menjambut dan memberikan idzin serta kebebasan sepenuhnja tanpa batas. Masuknja setiap anggauta angkatan laut didalam keradjaan bawah air baik untuk mendjeladjah sampai se-luas2nja dan se-dalam2nja. Ataupun untuk membangun, menggali serta membawa keluar segala sesuatunja. Karena dharma baktinja adalah demi amanat penderitaan rakjat.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Disertai doa restu semoga dengan \u201cwicak wireng warih\u201d angkatan laut tetap \u201cJalesveva Jayamahe.\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rebo Wage, 1-Juni-1966<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Di<br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Keraton<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nji Roro Kidul<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anda merasa bingung? Merasa isi piagam ini tidak masuk akal? Atau merasa saya dan teman saya sedang halu? Tidak apa-apa. Sampai saat saya menulis artikel ini, saya masih tidak habis pikir dengan adanya piagam TNI AL dan Nyi Roro Kidul ini. Tapi baiklah, untuk kali ini mari kita anggap piagam ini benar adanya. Juga bahwa perjanjian antara TNI AL dengan Kerajaan Bawah Air nyata eksis di dunia ini.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/piagam-perjanjian-tni-al-dengan-nyi-roro-kidul-beneran-ada\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Pengakuan atas Kerajaan Bawah Air&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>Pengakuan atas Kerajaan Bawah Air<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya melihat bahwa prasasti ini punya nilai besar dalam sejarah dan kedaulatan Indonesia. Yang pertama, Indonesia mengakui adanya Kerajaan Bawah Air. Umumnya, kerajaan gaib yang dipimpin oleh Kanjeng Ratu Kidul ini selalu dipertanyakan eksistensinya. Namun, dengan piagam ini, eksistensi Kerajaan Bawah Air ini secara tertulis telah diakui oleh Negara Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang kedua, kedaulatan Indonesia atas perairannya tidak hanya diakui oleh negara lain. Kedaulatan atas perairan Indonesia juga diakui oleh kerajaan yang ada di dalam perairan tersebut. Kerajaan gaib saja mengakui kedaulatan Indonesia lho. Harusnya negara lain pikir dua kali sebelum mengganggu perairan Indonesia. Terutama perairan utara yang selalu kisruh dan diperebutkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, selain melihat dua nilai besar di atas, saya juga punya banyak pertanyaan. Tentu bukan mempertanyakan eksistensi Kerajaan Bawah Air. Pertanyaan pertama saya adalah jabatan dan wewenang Nyi Roro Kidul sebagai pihak yang menandatangani piagam ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir-akhir ini, jabatan Nyi Roro Kidul sering dibahas oleh berbagai pakar spiritual. Maklum, salah paham tentang Nyi Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul sudah terjadi lama. Salah satu yang meluruskan adalah Om Hao dalam<\/span><a href=\"https:\/\/youtu.be\/OPIyTaz4AX8\"> <span style=\"font-weight: 400;\">video<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di kanal YouTube \u201cKisah Tanah Jawa\u201d pada April 2019. Singkatnya, Nyi Roro Kidul adalah \u201cMenteri Luar Negeri\u201d yang menjadi jembatan antara manusia dengan kerajaan astral ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, apakah menlu dari sebuah kerajaan berhak memberikan kedaulatan pada negara lain untuk menjelajah wilayah kedaulatannya? Menurut saya, bukankah perjanjian seberat ini harus disahkan oleh kepala negara langsung? Memang dalam paragraf pertama ditekankan bahwa yang memberikan piagam tersebut adalah Kerajaan Bawah Air. Namun, bukankah lebih tepat jika Kanjeng Ratu Kidul sendiri yang menandatangani piagam ini?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Angkatan Air pemegang otoritas utama diplomasi dengan Kerajaan Bawah Air (?)<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan kedua adalah masalah siapa yang diberi wewenang. Dalam piagam tersebut, wewenang diberikan kepada Angkatan Laut Republik Indonesia. Apakah piagam ini berarti hanya Angkatan Laut yang berhak menjelajah dan mengeksploitasi perairan yang menjadi wilayah Kerajaan Bawah Air? Tentu ini menjadi pertanyaan serius. Sebab, saya tidak belum menemukan piagam serupa yang ditujukan pada bangsa maupun pemerintahan Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara eksploitasi, ini juga perkara serius. Dalam piagam tersebut Angkatan Laut Republik Indonesia diizinkan \u201cuntuk membangun, menggali serta membawa keluar segala sesuatunja\u201d. Apakah ini berarti hasil laut Indonesia hanya boleh dieksploitasi oleh Angkatan Laut? Bagian ini membuat saya pikir dua kali untuk makan cumi-cumi asam manis favorit saya. Saya takut bahwa cumi-cumi saya tidak punya izin penangkapan dari Kerajaan Bawah Air dan Nyi Roro Kidul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan ketiga adalah tempat piagam ini diterbitkan. Dalam bagian terakhir piagam ini hanya disebutkan tanggal piagam dan lokasi \u201cDi Keraton\u201d. Pertanyaan saya, keraton mana yang dimaksud? Penyebutan singkat kata keraton bisa menimbulkan multitafsir. Piagam ini malah mengesankan Nyi Roro Kidul adalah penguasa Kerajaan Bawah Air. Mungkin, ini yang menyebabkan salah paham perihal siapa Nyi Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Nyi Roro Kidul punya tanda tangan nggak sih?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan keempat adalah perkara nama resmi kerajaan tempat Nyi Roro Kidul menjabat sebagai menlu. Dinyatakan bahwa yang memberi piagam tersebut adalah Keradjaan Bawah Air Yang Manyakrawati Mambaudenda. Jika benar \u201cKeradjaan Bawah Air\u201d adalah nama resmi kerajaan gaib ini, benar-benar antiklimaks. Bayangkan sebuah kerajaan yang menjadi legenda dan mitologi rakyat Jawa punya nama yang lebih sederhana dari nama kedai kopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah nama ini, saya juga tidak menemukan data yang pasti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan sastra Jawa yang menyinggung tentang sang penguasa laut ini hanya menyebutkan nama dan jabatan blio. Sebagai contoh, dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Serat Darmogandhul<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Ni Mas Ratu Anginangin (yang kemungkinan besar Kanjeng Ratu Kidul) hanya disebut sebagai \u201cratuning dhemit nusa jawa\u201d yang memiliki istana di Pantai Selatan. Tidak ada penjelasan tentang nama kerajaan blio maupun nama istana blio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terakhir, dan mungkin pertanyaan yang paling penting, apakah Nyi Roro Kidul memiliki tanda tangan? Dalam piagam ini hanya tertulis nama Nyi Roro Kidul. Tidak ada tanda tangan sebagai bentuk pengesahan. Apakah tanda tangan bukan budaya dari masyarakat gaib Pantai Selatan? Lalu bagaimana pihak keraton mengesahkan sebuah peraturan penting kerajaan Pantai Selatan ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Piagam perjanjian antara Angkatan Laut Republik Indonesia dan Keradjaan Bawah Air ini memang unik dan nyeleneh. Tapi besar harapan saya agar piagam ini diklarifikasi oleh pihak TNI AL, khususnya Komando Armada II. Piagam ini bisa meluruskan salah paham antara siapa Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, klarifikasi ini menguatkan kedaulatan Indonesia. Bisa jadi, Indonesia adalah satu-satunya negara yang diakui kedaulatannya oleh kerajaan gaib.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/amangkurat-ii-raja-mataram-dan-anak-emas-voc\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Amangkurat II, Raja Mataram Anak Emas VOC<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya baru tahu, di Markas Komando Armada II Surabaya terdapat sebuah prasasti yang memuat perjanjian antara TNI AL dan Nyi Roro Kidul. <\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":261340,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8783,3977,23083,8784],"class_list":["post-77226","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-nyi-roro-kidul","tag-perjanjian","tag-prasasti","tag-tni-al"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77226","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77226"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77226\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/261340"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77226"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77226"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77226"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}