{"id":77183,"date":"2020-09-15T10:15:31","date_gmt":"2020-09-15T03:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=77183"},"modified":"2022-01-20T15:27:40","modified_gmt":"2022-01-20T08:27:40","slug":"review-film-pendek-pria-dan-penerimaan-masyarakat-terkait-homoseksual","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/review-film-pendek-pria-dan-penerimaan-masyarakat-terkait-homoseksual\/","title":{"rendered":"Review Film Pendek &#8216;Pria&#8217; dan Penerimaan Masyarakat Terkait Homoseksual"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film sering kali menjadi media penyampai nilai-nilai budaya. Isu-isu sosial juga kerap disisipkan dalam konflik dan plot. Tidak terkecuali isu yang berkaitan dengan homoseksualitas. Film pendek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pria<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan salah satunya. Film karya Yudho Aditya ini mengangkat hal yang sensitif dengan latar budaya di pedesaan. Film pendek ini bisa diakses di <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LWfaoP4J9k\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">YouTube secara gratis.<\/a><\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pria<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> telah memborong sebanyak 10 penghargaan dan 23 nominasi penghargaan internasional. Film pendek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pria<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menceritakan tokoh Aris (Chicco Kurniawan) yang memiliki orientasi seks ke sesama jenis namun dipaksa menikah dengan seorang wanita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini seolah ingin menampilkan bahwa masyarakat timur adalah masyarakat yang heteroseksis. Segala hal yang bertolak belakang dengan heteroseksual bakal ditentang dan tidak diterima oleh kelompok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tokoh Aris tinggal di pedesaan yang masyarakatnya sangat agamis dan sangat heteronormatif. Ketertarikan Aris, seorang pria, terhadap guru bulenya yang juga seorang pria sangat ditentang dan dianggap aib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehidupan Aris sebagai seorang homoseksual di budaya masyarakat Timur tidaklah mudah. Aris harus menghadapi anggapan bahwa laki-laki sepertinya hina dan lemah. Sang ibu yang menyadari hal tersebut segera menjodohkannya dengan seorang gadis. Aris dalam posisi lemah sehingga ia tak kuasa menolak perjodohan itu. Bahkan Aris beberapa kali menerima perlakuan kurang mengenakkan dari orang sekitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, saat Aris bertemu dengan calon mertuanya, Pak Fauzi, usai salat berjamaah di masjid. Ditepuknya leher Aris sambil berkata, \u201cTapi leher kamu lemah sekali ya, nggak pernah latihan ya? Lain kali latihan sama Bapak.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Fauzi berkata seolah-olah Aris adalah lelaki lemah. Kedua, saat bertemu dengan keluarga Gita, calon istrinya, Aris dinasihati Pak Fauzi untuk memuaskan kebutuhan istri di ranjang. Secara cerdas, Yudho Aditya memperhalus nasihat dewasa tersebut dengan analogi kencang dan kerasnya jari Pak Fauzi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan bercakap di tengah hujan yang seharusnya menjadi adegan romantis bagi calon pengantin, justru jadi pil pahit bagi tokoh Aris dalam film pendek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pria<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Gita dengan ketus mengatakan bahwa di rumah ada sesuatu yang bau. Sesuatu yang bau yang dimaksud adalah Aris. Aris terlihat menahan amarah. Dia menyadari bahwa Gita mulai tahu orientasi seksual Aris yang sebenarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak cukup mendapat hinaan sebagai orang \u201cbau\u201d, Aris yang merasa kesal karena telah dihina calon istrinya menumpahkan kekesalannya di rumah. Sang ibu yang mengetahui hal tersebut, kemudian berusaha menenangkannya. Ironisnya, bukan ketenangan yang ia dapat. Sang ibu memintanya untuk menggunakan kesempatan menikah untuk hidup tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarahan Aris semakin menjadi saat ibunya memaksanya untuk memakan beras merah yang diketahui berguna untuk membantu kejantanan pria. Adegan ini cukup menyayat hati, sang ibu yang dikiranya akan menerima kondisinya justru tetap memaksanya menikahi seorang wanita. Sang ibu masih juga menganggap bahwa anak laki-lakinya harus makan beras merah untuk mengokohkan posisi Aris sebagai seorang pria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat sehari sebelum hari pernikahannya, Aris pergi ke rumah pria yang dicintainya, sang guru bule. Dengan pencahayaan yang redup, Aris bercerita jika ia tidak ingin menikah dengan Gita. Terjadi percakapan intens dan adegan Aris dan sang guru berciuman, laki-laki dan laki-laki. Mereka kemudian menangis bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari film pendek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pria<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, masyarakat timur yang digambarkan heteronormatif membuat Aris wajib menikahi seorang wanita walau orientasinya homoseksual. Seolah jika menikah, Aris mampu menjadi lelaki yang sebenar-benarnya. Stigma negatif seperti \u201cbau\u201d dan \u201claki-laki lemah\u201d juga disandangkan kepadanya, bahkan ia mendapatkan julukan tersebut dari keluarga calon istrinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, keluarga terdekat Aris, sang ibu, tidak dapat menerima kondisi Aris yang menyukai sesama jenis. Maka tidak heran bila homoseksual lebih memilih merahasiakan hal tersebut dari keluarganya dan memilih kehidupan normal versi masyarakat heteroseksual. Beberapa terpaksa menikah hanya untuk status. Orientasi seksual mereka sama sekali tidak berubah. Pernikahan hanya menjadi sebuah pelarian dan kedok untuk menutup-nutupi perkara yang dianggap sebagai \u201caib\u201d oleh masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LWfaoP4J9k\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Yudho Aditya<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-menahan-diri-ke-bioskop-saat-resmi-buka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">5 Alasan Menahan Diri ke Bioskop Saat Resmi Buka<\/a><\/strong> <strong>dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nimatul-faizah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nimatul Faizah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film pendek Pria seolah ingin menampilkan masyarakat heterosexism, segala hal yang bertentangan dengan heteroseksual tidak akan diterima.<\/p>\n","protected":false},"author":712,"featured_media":77379,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[3830,2005],"class_list":["post-77183","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-pendek","tag-lgbt"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/712"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77183"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77183\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/77379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}