{"id":76991,"date":"2020-09-14T12:03:28","date_gmt":"2020-09-14T05:03:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=76991"},"modified":"2020-09-14T12:03:28","modified_gmt":"2020-09-14T05:03:28","slug":"soccer-istilah-ciptaan-orang-inggris-yang-dibenci-orang-inggris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soccer-istilah-ciptaan-orang-inggris-yang-dibenci-orang-inggris\/","title":{"rendered":"Soccer, Istilah Ciptaan Orang Inggris yang Dibenci Orang Inggris"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepak bola memang tak ada habisnya untuk dikuliti. Olahraga yang digandrungi segala lapisan masyarakat membuat pembahasannya berlanjut meski pertandingan sudah selesai. Salah satu contohnya adalah tentang penyebutan nama olahraga ini. Bahasa Inggris punya dua penyebutan untuk olahraga ini. Bahasa Inggris British menyebut sepak bola dengan \u201cfootball\u201d, namun bahasa Inggris American menyebutnya dengan \u201csoccer\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski remeh, nyatanya perbedaan penyebutan ini menimbulkan sentimen orang Inggris khususnya dan orang Eropa umumnya terhadap orang Amerika Serikat. Di beberapa negara, kesucian \u201cfootball\u201d tetap terjaga walau diterjemahkan ke ragam bahasa, misalnya voetlball (Belanda), fotboll (Norwegia), futebol (Portugis) dsb. Atau di Indonesia disebut \u2018sepak bola\u2019 sebagai terjemahan kata \u2018football\u2019. Sedangkan di Amerika Serikat, football melenceng jauh menjadi soccer. Meskipun bukan satu-satunya negara yang menggunakan istilah \u201csoccer,\u201d orang Amerika sering dianggap biang kerancuan penyebutan olahraga ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini menjadi rumit ketika sepak bola sebagai olahraga paling populer di dunia nyatanya tak bisa menjadi paling populer di Amerika Serikat. Sering dibahas pula di pelbagai artikel alasan mengapa orang Amerika tak terlalu antusias terhadap sepak bola walau virusnya menjangkit dunia, yang jelas ketidaksukaan orang Amerika terhadap sepak bola pula yang dianggap sebagai alasan mereka enggan menyebut sepak bola sebagai \u201cfootball\u201d lazimnya warga dunia lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Amerika justru menggunakan istilah \u201cfootball (saja)\u201d untuk menyebut olahraga \u201cAmerican football,\u201d bukan untuk sepak bola. Hingga orang luar Amerika mempertanyakan mengapa tidak menyebut American football sebagai rugby meski sejatinya rugby dan American football berbeda. Orang Amerika juga sering menjadi olok-olokan netizen penganut football (sepakbola), dengan memplesetkan American football menjadi \u201ceggball,\u201d karena bolanya dianggap lebih mirip telur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keengganan orang Amerika untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">umum koncone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> baik dari penyebutan maupun kegemaran ini menumbuhkan anggapan bahwa orang Amerika sengaja mendiskriminasi sepak bola yang notabene produk luar. Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat memang dikesankan menjaga kehormatannya, tak terkecuali olahraganya seolah tak mau kalah populer dengan olahraga luar negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sentimen orang Eropa khususnya Inggris ini sering saya ditemui di akun-akun olahraga khususnya sepak bola, di mana ketika ada orang yang menulis \u201csoccer\u201d bisa dipastikan kolom komentar dipenuhi bully-an dan pembelaan antara yang menyebut football dan soccer. Jangankan orang Eropa, orang Indonesia pun terjangkit virus yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba deh kamu nulis kata \u201csoccer\u201d salah satu postingan akun olahraga, saya yakin walaupun tidak ada akun orang Eropa di sana, pasti ada yang berusaha membenarkan soccer menjadi football.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sentimen ini juga diangkat dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Green Street Elite<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menceritakan tentang gaya hidup pendukung West Ham United. Diceritakan, Matt Buckner sebagai mahasiswa asal Amerika yang mengunjungi kakaknya di London, sering dipandang sinis oleh pemuda-pemuda London. Aksen Amerika yang kental membuatnya gampang dikenali dan langsung dicap sebagai orang aneh karena di negaranya tak menyukai sepak bola. Puncaknya ketika Matt Buckner mengucapkan \u201csoccer\u201d langsung kena semprot Pete Dunham, pemuda asli London sekaligus sepupu ipar Matt Buckner, \u201cStop saying soccer!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira, kepopuleran film ini di Indonesia pula lah yang membuat sentimen orang Eropa terhadap soccer menyebar sampai negara kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketidaksukaan orang Inggris dan Eropa terhadap istilah soccer, sebenarnya adalah kesalahan mereka sendiri. Dalam artikel Pandit Football yang berjudul \u201cMenelusuri Jejak Lahirnya \u2018Soccer\u2019\u201d, dijelaskan bahwa pada masa perkembangan sepak bola, terjadi perpecahan antara yang memainkan sepak bola dengan tangan dan kaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, orang-orang yang memainkan bola dengan tangan mengasosiasikan dirinya dalam \u201cRugby football\u201d dan yang memainkan bola dengan kaki mengasosiasikan diri dalam \u201cAssociation football\u201d. Karena kebiasaan orang Inggris menyebut \u201cAssociation football\u201d dengan \u201cSock\u201d, orang Amerika meniru hal tersebut dan terciptalah istilah soccer<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Inggris boleh mempertahankan dan membenarkan \u201cfootball\u201d, sementara orang Amerika boleh memakai pembenaran kalau \u201csoccer\u201d mereka gunakan bukan atas kebencian terhadap sepak bola, tapi atas dasar meniru orang Inggris. Yang jelas sebagai orang Jawa yang lebih lazim menyebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bal-balan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saya tidak mau terlalu larut dalam perdebatan ini. Hanya saja, kalau disuruh memilih saya lebih menyarankan \u201cfootball\u201d sebagai sesuatu yang murni dan benar dibanding soccer yang lahir karena kesalahan. Toh mau football atau soccer yang penting olahraga ini tetap dimainkan dengan kaki, bola dan lapangan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/mod\/esai\/bully-yang-dialami-adik-saya-dan-surat-cinta-terbuka-untuknya\/\">\u00a0Bully yang Dialami Adik Saya dan Surat Cinta Terbuka Untuknya<\/a>\u00a0dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sepak bola tak pernah habis untuk dibahas. Salah satunya adalah asal mula orang Amerika menyebut sepak bola dengan sebutan &#8220;soccer&#8221;.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":76800,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5137,8777,6333,711,8776],"class_list":["post-76991","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-amerika","tag-football","tag-inggris","tag-sepak-bola","tag-soccer"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76991","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76991"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76991\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76800"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76991"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76991"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76991"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}