{"id":76843,"date":"2020-09-19T07:20:28","date_gmt":"2020-09-19T00:20:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=76843"},"modified":"2020-09-21T09:51:39","modified_gmt":"2020-09-21T02:51:39","slug":"decoy-effect-penghancur-prioritas-belanja-yang-menyebalkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/decoy-effect-penghancur-prioritas-belanja-yang-menyebalkan\/","title":{"rendered":"Decoy Effect, Penghancur Prioritas Belanja yang Menyebalkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah dengar decoy effect nggak? Kalau belum, saya kasih gambarannya aja dulu. Pernah nggak kamu kebingungan saat sedang jajan atau belanja sesuatu? Ya, penyebabnya apa lagi kalau bukan perkara harga. Saya dan istri sering mengalami hal ini. Saya atau istri selalu tanya pendapat satu sama lain sebagai bahan pertimbangan atas keputusan yang akan diambil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMas, menurut kamu beli satu kotak isi 8 dimsum harga Rp30.000 atau yang isi 16 harga Rp50.000?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang isi 8 biji aja, Dik.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu mau nggak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, mau.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBeli 16 aja, yah? Nanti bagi dua. Pas tuh, aku delapan, kamu delapan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh, ya udah. Gasss!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sih nggak masalah kalau beli satu kotak isi delapan dimsum lalu dibagi dua. Tapi kalau mau beli yang isi 16 juga nggak apa-apa, toh dimsumnya juga enak. Yang udah-udah, ketika saya makan empat biji, saya masih belum puas. Okelah, mari kita beli dengan porsi yang lebih besar daripada biasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, keputusan yang udah diambil buat beli satu kotak isi 16 dimsum nggak bertahan lama. Rasa bimbang itu menyerang kami lagi ketika mendapatkan penawaran satu kotak dimsum isi 25 biji dengan harga Rp65.000.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGimana, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBeli secukupnya aja deh, Dik.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa tapi sayang banget kalo nggak diambil.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni kan sifatnya cuma jajan, bukan makanan pokok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYah, padahal cuma nambah Rp15.000 kita bisa dapet 11 dimsum lagi. Sisanya nanti bisa taro di kulkas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKan kita makannya cuma berdua.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, kan\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni soal kebutuhan, Yang\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adu pendapat nyaris terjadi. Untung ada mas-mas penjaga toko yang melerai. Kami tersadar harus segera memutuskan mau beli satu kotak dimsum yang isi berapa. Dengan selisih harga lebih murah tentu sangat menggiurkan, akhirnya kami jadi membeli 25 dimsum tapi yang frozen aja. Sisanya biar bisa masuk kulkas terus bisa dikukus lagi sesuai kebutuhan yang mau dimakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya hal itu tadi adalah win-win solution yang masih saya ragukan tepat atau nggaknya, padahal saya rasa keputusan awal sudah tepat. Gegara si mas-mas toko juga sih, pakai ngasih penawaran lain. Kondisi kayak gini cukup sering terjadi pada kami. Lalu membuat saya bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya terjadi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untung saja ada alat serbatahu bernama Google yang memudahkan saya mencari pencerahan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri ini. Ternyata yang saya alami secara nggak sadar ini disebabkan oleh decoy effect<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.paper.id\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Paper<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> menjelaskan bahwa decoy effect adalah sebuah fenomena psikologi yang terjadi pada kebanyakan manusia di mana kita akan mempertimbangkan dua buah opsi di depan kita berdasarkan kebutuhan dan keperluan. Tapi, pilihan kita itu dipatahkan dengan munculnya opsi ketiga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya, decoy effect adalah sebuah trik marketing yang sudah banyak diterapkan oleh para penjual. Contohnya aja soal dimsum itu.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>8 dimsum: Rp30.000<\/li>\n<li>16 dimsum Rp50.000<\/li>\n<li>25 dimsum Rp65.000<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini saya disuguhkan sebuah produk yang memang sengaja dibuat untuk jadi pembanding, yakni pilihan B. Bisa jadi produk utama yang ditargetkan untuk dijual adalah yang C. Memang jumlahnya terkesan kebanyakan, tapi bagi saya pelanggan dimsum di sana yang udah berkali-kali beli, harga Rp65.000 cukup menguntungkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan A dan B harganya jadi terkesan nggak masuk akal. Padahal biasanya kelipatan harga berdasarkan yang A. Pemasangan harga tersebut membuat produk dengan ukuran besar jadi lebih menggiurkan. Dengan kata lain produk B dibuat memang bukan untuk dipilih. Hah? Bukannya produk dibuat agar dipilih oleh pembeli yah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, betul. Tapi, produk yang C itulah lebih tepatnya dibuat agar dipilih oleh pembeli. Maka dari itu juga, triknya saya akan ditawari lebih dulu yang A atau B. Ketika sudah memilih B, muncullah tawaran utama; produk C. Sama halnya dengan beli minuman atau popcorn saat nonton bioskop, kita cukup menambah beberapa ribu rupiah aja untuk mendapatkan ukuran upsize.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Efeknya saya jadi memilih porsi yang ekstra kemudian mengesampingkan hal-hal yang semestinya dibeli sesuai keperluan atau kebutuhan. Sebetulnya hal ini nggak lepas dari sifat alami saya sebagai manusia yang\u2014terkadang\u2014rakus. Kalau saya bisa dapat lebih banyak daripada apa yang saya keluarkan, kenapa nggak?!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal ketika produk dengan ukuran besar itu sudah saya beli, malah jarang sekali bisa saya habiskan dalam sekali waktu. Meskipun tetap habis sih dengan embel-embel kata \u201csayang kalau dibuang\u201d. Nah, saya sadar, di sinilah kuncian dari decoy effect itu. Apakah dengan keteguhan dalam mengambil satu keputusan berdasarkan kebutuhan bisa menang melawan decoy effect?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lain waktu saya akan coba kuatkan pertahanan ini.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/honda-ct125-motor-yang-cocok-untuk-para-kurir\/\"> <b>Honda CT125, Motor yang Cocok untuk para Kurir<\/b><\/a><b> dan tulisan<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/allan-maullana\/\"> <b>Allan Maullana<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah bingung karena ketemu dua opsi yang &#8220;terlihat&#8221; menguntungkan? Hati-hati, itu namanya decoy effect. Salah perhitungan, bablas duitmu.<\/p>\n","protected":false},"author":65,"featured_media":29758,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4503,8815,209],"class_list":["post-76843","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-belanja","tag-decoy-effect","tag-keuangan"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76843","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/65"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76843"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76843\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29758"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76843"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76843"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76843"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}