{"id":76627,"date":"2020-09-13T05:07:08","date_gmt":"2020-09-12T22:07:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=76627"},"modified":"2020-09-13T21:18:57","modified_gmt":"2020-09-13T14:18:57","slug":"penyebab-malam-satu-suro-dianggap-sebagai-hari-rayanya-demit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penyebab-malam-satu-suro-dianggap-sebagai-hari-rayanya-demit\/","title":{"rendered":"Penyebab Malam Satu Suro Dianggap sebagai Hari Rayanya Demit"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah industri film horor yang terkesan gitu-gitu aja, pemberian judul film horor selalu tak lepas dari unsur tradisional yang membentuk mindset di kepala orang-orang. Sejak zaman film Suzanna sampai sekarang, judul film horor banyak mengambil unsur tradisional yang kemudian dibelokkan menjadi unsur mistis. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Malam Satu Suro, Jumat Kliwon, Nini Thowok, Sajen, Tembang Lingsir<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan lain-lain. Kayaknya strategi ini menjadi sarana branding yang cukup manjur untuk memikat penonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkembangan film yang demikian juga memengaruhi pola pikir masyarakat. Sejak adanya film Suzanna yang judulnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Malam Satu Suro, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">masyarakat punya pandangan jika pada malam tahun baru Jawa itu akan terjadi hal-hal yang mistis. Ada juga film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Satu Suro<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dalam dialognya ada kalimat, \u201cMalam satu Suro adalah hari rayanya makhluk halus.\u201d Lho, sik sik. Kok jadi begini? Sudah pernah tahu asal usulnya malam satu Suro belum, sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut sejarah, awal mula malam tahun baru Jawa yang bulan pertamanya disebut <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sura\/Suro <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">terjadi pada tahun 1633 Masehi. Pada waktu itu Sultan Agung Hanyakrakusuma raja kerajaan Mataram ingin menggabungkan dua tanggalan. Yaitu penanggalan Saka yang akan masuk tahun 1555 dan penanggalan Hijriah yang akan masuk tahun 1043. Hal ini dilatarbelakangi oleh kerajaan Mataram yang pada saat itu adalah kerajaan Islam, namun juga tidak sedikit rakyat Mataram yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyusunan penanggalan Jawa ini sedikit banyak mengandung unsur politik. Di satu pihak, Sultan Agung ingin membuat negeri Mataram berdaulat penuh dengan melepaskan diri dari VOC, tetapi di dalam negeri sendiri, ada perbedaan pendapat mengenai penghitungan tahun antara penganut Hijriah dan Saka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam rangka menyatukan keduanya, Sultan Agung memadukan kedua perhitungan tahun tersebut. Perhitungannya mengikuti peredaran bulan seperti tahun Hijriah sedangkan umur tahun melanjutkan tahun Saka yang sudah ada. Maka pada 8 Juli 1633 Masehi bersamaan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah. Pada saat itulah mulai digunakan perhitungan tahun Jawa yang jatuh pada \u201c1 Suro taun Alip 1555\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama-nama bulan didalamnya menggunakan nama-nama Arab yang \u201cdijawakan\u201d. Sedangkan nama-nama hari disesuaikan dengan bahasa Jawa. Perhitungan mengenai pasaran, wuku, pranatamangsa, serta windu yang sudah ada juga tetap diteruskan. Sehingga penanggalan yang baru ini seperti sesuatu yang baru, padahal hanya menggabungkan dua unsur lama. Jadi penanggalan ini bukan hanya untuk umat Islam, Hindu, dan Buddha tetapi milik bersama. Kedua belah pihak dapat menerima tahun yang baru ini yang oleh Sultan Agung disebut tahun Jawa karena menggabungkan dua kalender.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuai yang dikatakan almarhum M.C. Ricklefs, kalender Jawa atau yang biasa disebut dengan kalender Sultan Agungan ini adalah kalender paling rumit di dunia. Prinsip kalender Sultan Agungan ini tidak hanya mengenal sistem 7 harian\/seminggu, bulan, dan tahun. Namun juga menggunakan sistem 5 harian atau pancawara\/pasaran yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Jadi bukan mistis ya, ini juga nama hari biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem 6 harian yang disebut sadwara atau paringkelan yang terdiri dari Tungle, Aryang, Wurukung, Paningron, Uwas, dan Mawulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem 7 harian atau saptawara terdiri dari: Akad\/Radite, Senin\/Soma, Selasa\/Anggara, Rebo\/Buda, Kemis\/Respati, Jumat\/Sukra, Sebtu\/Tumpak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem 1 bulan yang terdiri dari 29-30 hari. Dengan masing-masing nama bulannya adalah Suro (Muharam), Sapar (Safar), Mulud (Rabi\u2019ul Awal), Bakda Mulud (Rabi\u2019ul Akhir), Jumadil Awal (Jumadil Awal), Jumadil Akir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya\u2019ban), Pasa (Ramadan), Sawal (Syawal), Dulkangidah\/Sela (Dzulkaidah), Besar (Dzulhijjah).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu masih ada sistem 8 harian atau disebut asthawara dan 9 harian yang disebut padangon. Ada pula siklus yang dihitung seminggu sekali sebanyak 35 minggu yang disebut wuku, siklus 8 tahunan yang disebut windu, 1 windu memiliki nama tahun yang berbeda-beda. Masih ada lagi siklus 4 windu. Lalu ada sistem pranata mangsa yang biasa digunakan acuan oleh petani yang menggunakan hitungan matahari yang dibagi sekitar 23-43 hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena banyaknya sistem perhitungan, horoskop penanggalan Jawa ini jauh lebih lengkap, kompleks, dan detail dalam membagi hari dan waktu dibandingkan dengan zodiak dalam kalender Gregorian yang hanya membagi menjadi 12 bintang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan kalender Islam yang setiap bulan baru dapat disesuaikan dengan melihat bulan sesungguhnya dengan metode rukyat, kalender Sultan Agungan menggunakan metode hitung pasti. Kapan tiba tanggal 1 Suro sudah dapat ditentukan jauh-jauh tahun bahkan windu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu mengapa malam satu Suro dianggap mistis? Padahal hari ini juga sama dengan kalender yang lain. Sebenarnya 1 Suro sama dengan 1 Muharam. Mengapa 1 Muharam kita rayakan dengan begitu mewah namun ketika disebut &#8220;malam satu Suro&#8221; justru dianggap sebagai hari rayanya makhluk halus? Padahal jatuhnya 1 Suro itu sama dengan 1 Muharram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keduanya sama-sama hasil olah pikir manusia tentang ilmu astronomi. Kalau kata Cak Nun \u201cAngger saka Arab halal, angger saka Jawa haram.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Artinya, \u2018Kalau dari Arab halal, kalau dari Jawa haram.\u2019<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita mungkin belum bisa menangkap nasehat dari orang tua dulu. Kebanyakan orang tua Jawa memberitahu anak cucunya jangan main-main waktu bulan Suro, akeh demite. Itu bukan berarti harus ditelan mentah-mentah bahwa bulan Suro itu banyak demitnya. Kebiasaan orang Jawa dulu, tahun baru itu untuk sarana refleksi. Menengok apa yang sudah terjadi untuk bekal ke depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama halnya jika dulu anak-anak disuruh bermain ketika bulan purnama. Bukan hanya bulan purnama itu dulu dianggap sebagai sumber penerangan, namun kita lihat juga apa yang dilakukan orang-orang tua. Mereka ada yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kungkum <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(berendam), semedi di senthong tengah, dan lain-lain. Untuk apa? Untuk refleksi juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sadar nggak ketika bulan purnama kadang emosi kita ikut labil? Lha wong air laut aja pasang waktu bulan purnama, apalagi manusia. Maka dari itu, anak-anak disuruh senang-senang, sedangkan yang dewasa kesempatan untuk menenangkan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, berhentilah mengerdilkan malam satu Suro. Jangan menganggap warisan leluhur itu sesuatu yang kuno hasil ijtihad dengan genderuwo. Menganggap semua warisan simbah dulu adalah sesuatu yang mistis, horor. Dosa apa yang akan kita terima jika kita menyakiti hati orang tua? Sudah tidak mau belajar, mengolok-olok lagi.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kisah-kelinci-di-bulan-dalam-kebudayaan-jawa-dan-dunia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kisah Kelinci di Bulan dalam Kebudayaan Jawa dan Dunia<\/a> dan artikel <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adi-wisnurutomo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adi Wisnurutomo<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berhentilah mengerdilkan malam satu Suro dan menganggap semua warisan simbah dulu adalah sesuatu yang mistis bin horor.<\/p>\n","protected":false},"author":1004,"featured_media":41750,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[762,1944],"class_list":["post-76627","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-budaya","tag-sejarah"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76627","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1004"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76627"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76627\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/41750"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76627"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76627"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76627"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}