{"id":76621,"date":"2020-09-12T06:01:24","date_gmt":"2020-09-11T23:01:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=76621"},"modified":"2020-09-12T09:00:21","modified_gmt":"2020-09-12T02:00:21","slug":"kemunculan-akun-polisimaba-menunjukkan-bahwa-ospek-lebih-baik-ditiadakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kemunculan-akun-polisimaba-menunjukkan-bahwa-ospek-lebih-baik-ditiadakan\/","title":{"rendered":"Kemunculan Akun @polisimaba Menunjukkan Ospek Lebih Baik Ditiadakan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika pandemi, ada satu hal positif yang saya harapkan: nggak bakal ada lagi ospek aneh-aneh atau kalau bisa nggak usah ada ospek sekalian. Tapi, harapan itu pupus seperti harapan pandemi ini akan berakhir dalam waktu dekat. Saya mendengar kabar dari seorang kawan saya, di kampus saya tercinta, sudah muncul sebuah akun Twitter bernama @polisimaba. Sebuah akun anonim yang belakangan \u201cmengintai\u201d salah seorang maba.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Kemarin-kemarin ribut di grup garagara bocah ini makin dipantau makin sini makin cari garagara.<\/p>\n<p>Kalo emg gamau masuk MPM atau Fikom Unpad, gak usah masuk aja gimana?<\/p>\n<p>Jalur mandiri aja bangga sok gak mau ospek? Sampe ketemu ya<br \/>\n@adiosui <a href=\"https:\/\/t.co\/vX2sq9YPBy\">pic.twitter.com\/vX2sq9YPBy<\/a><\/p>\n<p>\u2014 polisimaba (@polisimaba) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/polisimaba\/status\/1303335233547198469?ref_src=twsrc%5Etfw\">September 8, 2020<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran akun ini jelas menimbulkan masalah baru. Alih-alih ospek online yang saya harapkan nggak bakalan ada acara bentak-bentak (ya, soalnya mau bentak-bentak juga malah nanti diomelin tetangga) atau menimbulkan intimidasi yang nggak perlu, hadirnya akun tersebut malah mengindikasikan ada ospek online atau nggak, kating-kating yang bajilak gitu tuh bakalan tetep ada bagaimanapun bentuknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ospek memang sudah mendarah daging banget di sistem pendidikan kita. Meskipun pemerintah telah melarang kegiatan penerimaan mahasiswa baru selain dalam rangka kegiatan akademik lewat SK Dirjen Dikti Nomor 38\/DIKTI\/Kep\/2000, kegiatan perpeloncoan pasti ada aja tiap tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa selalu ada perpeloncoan? Katanya sih karena ada oknum kating. Tapi, masak tiap tahun selalu ada oknum kating yang melakukan perpeloncoan? Sebenarnya, yang musti disalahkan itu konsep dan sistem ospek yang memberi potensi untuk menghadirkan oknum-oknum kating ini, bukan nyalahin (((oknumnya))) doang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seseorang yang diberi kekuasaan dan wewenang memang selalu dekat dengan kekerasan.\u00a0 Nggak heran ketika panitia ospek yang memiliki wewenang dan derajat lebih tinggi dari mahasiswa baru cenderung melakukan kekerasan, baik fisik maupun psikis seperti yang dilakukan @polisimaba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah, terus kalau nggak ada ospek gimana dong? Ya sudah, biarin aja. Biarkan berkembang sendiri. Saya yakin mahasiswa baru yang diberi keleluasaan berkarya dan berpendapat akan jadi mahasiswa yang lebih tokcer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Thorndike, psikolog pembelajaran, pernah menyatakan bahwa suatu sistem hukuman di dalam pembelajaran tidak efektif untuk meniadakan suatu perilaku tertentu. Begitu pula dengan hukuman dan sanksi pada ospek, tidak akan efektif membuat seorang mahasiswa menghilangkan perilaku-perilaku buruknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hormatnya seorang maba kepada kating nggak bisa dipatenkan melalui aturan atau sanksi. Yang bisa mengubahnya adalah perilaku kating itu sendiri terhadap maba. Semisal, jika kating hormat pada maba, maba pun akan melakukan hal yang sama. Tapi kalau kating ngehe ke maba dengan segala aturan yang bikin beban pikiran, ya dia nggak bakal dihormati lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perilaku feodal dan Orba banget dalam ospek sebenarnya bisa diubah, eh tapi malah dibikin ribet. Entah pakai embel-embel demi kenangan yang lebih berkesan lah, tidak adanya sekat antara kating dan maba lah. Berak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang saya ketahui, kedekatan antara maba dan kating terjadi justru bukan karena ospek, melainkan lewat kegiatan-kegiatan saat kuliah atau di luar kuliah. Seperti ketika jadi panitia acara bersama, saat berorganisasi, atau terlibat perlombaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika argumen diadakannya ospek buat mengukir kenangan, rasanya juga kurang pas. Kenangan yang bakalan lebih berkesan itu bukan cuma bisa didapat saat ospek. Tentu pasti akan ada yang bilang, \u201cIni kan kenangan sekali seumur hidup.&#8221; Halah, penyakit cacar juga kenangan sekali seumur hidup, tapi kita nggak mau mengulanginya kan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari hadirnya akun @polisimaba ini, ada indikasi yang jadi masalah tuh ada di sistem dan di konsep ospek yang nyuruh maba ngerjain begini-begitu. Padahal itu hak maba untuk nggak ngerjain tugas atau bahkan nggak ikut ospek. Emang ospek bakal ngaruh ke kuliah? Emang ngehubungin dosen harus pake goyang-goyang TikTok?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika nantinya akun @polisimaba bakal klarifikasi dengan alasan doi bukan panitia ospek fakultas yang bersangkutan atau alasan lainnya, stigma kita terhadap ospek dan tetek-bengeknya tidak akan berubah. Ospek tetap memandang maba sebagai pelampiasan atas perlakuan kating-kating sebelumnya dan mindset ini sudah turun-temurun kayak<em>\u00a0<\/em>Dynasty Warrior.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu berharap tahun depan nggak bakalan lagi yang beginian. Soalnya saya juga udah capek denger mahasiswa baru yang menggebu-gebu meneriakkan perubahan di dalam ospek, eh pas jadi panitia, malah ngomong, \u201cKalau dipikir-pikir sih, ospek ini ada nilai positifnya&#8230;.\u201d Udah cocok banget jadi aktivis yang ujung-ujungnya jadi anggota DPR.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga maba yang mengalami intimidasi di tengah pandemi ini baik-baik saja. Pandemi aja udah ngaruh ke mental kita, ini kok teganya masih mau nambah-nambahin beban mental dan tugas ke orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, kalau ada dosen yang menyusahkan panitia ospek itu dengan berjuta tugas yang sama-sama ribet, mereka akan sama-sama mengeluh dengan satu kalimat andalan, \u201cSesungguhnya Tuhan membenci orang yang mempersulit orang lain padahal mampu melakukan kebaikan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-lagu-iwan-fals-yang-kalau-diciptakan-sekarang-pasti-rame-kayak-tilik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">3 Lagu Iwan Fals yang Kalau Diciptakan Sekarang, Pasti Rame kayak Tilik<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ananda-bintang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ananda Bintang<\/a>\u00a0lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kemunculan akun Twitter @polisimaba bikin hadeeeh banger. Niat amat bikin akun cuma buat \u201cmengintai\u201d salah seorang maba yang sedang ospek.<\/p>\n","protected":false},"author":604,"featured_media":5395,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[34,1821],"class_list":["post-76621","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-mahasiswa","tag-ospek"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76621","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76621"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76621\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5395"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76621"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76621"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76621"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}