{"id":76527,"date":"2020-09-12T05:02:01","date_gmt":"2020-09-11T22:02:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=76527"},"modified":"2020-09-12T09:24:24","modified_gmt":"2020-09-12T02:24:24","slug":"menggoreng-isu-pelakor-lewat-album-baru-taylor-swift-folklore","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menggoreng-isu-pelakor-lewat-album-baru-taylor-swift-folklore\/","title":{"rendered":"Menggoreng Isu Pelakor Lewat Album Baru Taylor Swift, &#8216;Folklore&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat 23 Juli lalu, Taylor Swift yang mengawali karier musiknya dalam genre country secara mengejutkan mengumumkan rilisnya album ke-8. Saya pribadi menyenangi Taylor Swift dari sejak 2009. Setahu saya, selama ini Swift selalu memberi tanggal rilis album barunya dari jauh-jauh hari. Entah itu hanya berupa postingan di Facebook, pasang tanggal rilis di bio Twitter, hingga yang agak niat dengan pasang fitur countdown di Instagram Story.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Taylor Swift mungkin kini sudah tidak terlalu membutuhkan promo jangka panjang seperti dulu. Empat belas tahun berkarya membuatnya memiliki jutaan fans yang tersebar di berbagai negara. Hasilnya, meski merilis album secara mendadak tanpa diawali promosi apa pun, atensi yang didapatkannya tetap sangat besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Album<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Folklore<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> digambarkan sebagai album dadakan yang ia buat selama karantina diri di rumah. Album ini juga dianggap paling santuy dibanding album-albumnya yang lain.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Folklore<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dibuat seolah se-mager mungkin, dari nada-nada dalam setiap lagunya, dari jumlah instrumennya, bahkan huruf-huruf yang digunakan dalam album tersebut semuanya menggunakan huruf kecil seperti dibuat sepersonal mungkin, kayak isi chat WhatsApp kita ke tetangga sebelah.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Folklore<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki 16 lagu yang semuanya ciamik dan bagi saya, ini album paling estetik yang pernah Taylor Swift telurkan. Tapi, entah mengapa ada beberapa lagu yang paling memantik atensi dari para pendengar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Album <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Folklore<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> digadang-gadang sebagai albumnya orang-orang yang pernah terjebak dalam cinta segitiga. Terbukti dengan adanya tiga buah lagu yang dibuat seolah bersahut-sahutan satu sama lain. Ketiganya adalah \u201cCardigan\u201d, \u201cAugust\u201d, dan \u201cBetty\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila Evie Tamala pernah punya lagu \u201cTunggara\u201d dan Maia Estianty punya \u201cSang Penggoda\u201d, saya rasa \u201cAugust\u201d punya isi mirip-mirip tapi dengan warna dan perspektif lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya mendengar liriknya untuk diinterpretasikan sendiri, sebagai fans saya merasa berkewajiban untuk ikut merusuh di timeline atau cari tahu tanggapan-tanggapan Swifties lain mengenai album tersebut. Taylor Swift sendiri sudah menjelaskan tiga lagu dari tiga perspektif berbeda tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang awam mungkin akan berpikir, lagu \u201cAugust\u201d hanyalah lagu curahan hati biasa seorang perempuan yang tidak bisa memiliki seseorang secara utuh. Nyatanya, \u201cCardigan\u201d menceritakan pandangan seorang perempuan yang diselingkuhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBetty\u201d digambarkan sebagai lagu permintaan maaf seorang anak laki-laki berusia 17 tahun yang menyesali perbuatannya, tapi bagaimanapun terlihat ketidakseriusannya melalui nada dalam lagu tersebut yang dibuat ceria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan \u201cAugust\u201d adalah lagu yang menceritakan sisi perempuan yang berselingkuh dengan si cowok as known as pelakor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAugust\u201d merupakan lagu yang paling saya suka dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Folklore<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dari sisi musik dan instrumen, semua harmoninya perfecto<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Di lagu ini kita seolah dipaksa untuk memahami pahitnya dampak cinta segitiga yang ternyata juga dirasakan si pelakor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam \u201cAugust\u201d, digambarkan bagaimana si cewek tadi sadar dengan kesalahannya tapi tidak bisa bersikukuh dengan hati nuraninya. Walau ia sadar si cowok bisa kembali kapan saja ke pacarnya, ia tidak bisa tidak menikmati setiap detik kebersamaan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini saya merasa Taylor Swift tengah fokus menargetkan pasarnya ke Indonesia, soalnya isu pelakor adalah isu paling laku untuk digoreng di Indonesia. Hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terbukti dengan kehadiran sinema Indosiar yang tayang seharian penuh dengan model cerita yang itu-itu saja dan mudah ditebak endingnya, tapi sangat laku di pasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara keseluruhan, ketiga lagu tadi dibuat dengan sangat apik dan enak didengar. Kayak lagi dengar orang berantem, tapi pakai nada. Apa yang bisa saya simpulkan dari tiga lagu tersebut, isinya adalah cinta segitiga antara James, Betty, dan si August girl yang masing-masing mereka punya kegetiran masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski pada ending lagunya masing-masing mereka seolah tidak bisa melepaskan satu sama lain, kita bisa belajar bahwa selingkuh dan perselingkuhan adalah hal yang membingungkan.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebuah-pledoi-dari-acne-fighter-soal-kesholehan-pengguna-skincare-yang-sering-dipertanyakan\/\"> <b>Sebuah Pledoi dari Acne Fighter Soal Kesholehan Pengguna Skincare yang Sering Dipertanyakan<\/b><\/a> <b>atau tulisan <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/elsa-fitriyani\/\"><b>Elsa Fitriyani<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini<\/span><\/i><\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya merasa Taylor Swift tengah menargetkan pasarnya ke Indonesia, soalnya isu pelakor adalah isu paling laku untuk digoreng di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"author":672,"featured_media":76612,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8761,248,8732,8760],"class_list":["post-76527","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-folklore","tag-musik","tag-review-album","tag-taylor-swift"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76527","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/672"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76527"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76527\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76612"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76527"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76527"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76527"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}