{"id":76346,"date":"2020-09-11T07:01:33","date_gmt":"2020-09-11T00:01:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=76346"},"modified":"2020-09-11T11:12:42","modified_gmt":"2020-09-11T04:12:42","slug":"fakboi-hanyalah-gondes-kalau-dia-tinggal-di-bantul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fakboi-hanyalah-gondes-kalau-dia-tinggal-di-bantul\/","title":{"rendered":"Fakboi Hanyalah Gondes kalau Dia Tinggal di Bantul"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makin hari, istilah gondes makin melebar saja. Saya tidak paham sejarah resminya bagaimana. Sama seperti permainan kartu omben, sejarah istilah gondes itu berbeda tiap tongkrongan. Namun, dari beberapa sumber, istilah ini bermula dari celetukan ndeso. Kemudian Tukul Arwana mengadopsi untuk menyebut penonton bayaran andalannya yang duduk lesehan dekat kursinya. Istilah ini lantas menjadi makin terkenal, marak digunakan dalam kalangan muda-mudi. Apa-apa disebut ndeso. \u201cKamu nggak pernah ke Amplaz? Ndeso!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika di luar Jogja muncul istilah kamseupay atau iuwh, di sini marak sebutan ndeso. Kemudian kata ndeso kerap digunakan sebagai pengganti\u00a0 \u201cbajilak\u201d, \u201cbajindul\u201d, dan \u201cbajingan\u201d. Walau arti ketiganya lebih ke umpatan, bukan kampungan atau udik. Namun, ada juga beberapa yang menggunakan kata ndeso sebagai kata umpatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian diadaptasi lagi menjadi panggilan, yakni \u201cndes\u201d. Misalkan, \u201cMau ke mana kamu, Ndes?\u201d Tidak misuh, tidak mengata-ngatai, namun sekadar menyapa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, mulai muncul istilah gondes yang merupakan gabungan dari dua kata, yakni gondrong dan ndeso. Awalnya di tempat saya, istilah ini untuk menyebut mas-mas yang rambutnya gondrong saja. Kemudian melebar jadi mas-mas yang rambutnya warna-warni kayak kucing mbangtelon. Makin ke sini, istilah gondes semakin lebar maknanya. Dari mulai orang kalau naik motor ngebut sampai mereka yang suka klitih, pasti diteriaki, \u201cWooo, Gondyes!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, istilah gondes tampaknya di-upgrade lagi ke dalam versi beta. Bukan mas-mas gondrong, bukan mas-mas rambut poni lempar, bukan juga para gentho, tapi mereka yang doyan mbribik sana-sini. Ada yang menyebut \u201cgarangan\u201d, itu lho, hewan pemakan ayam, ada yang menyebut \u201cketela rambat\u201d karena menjalar ke sana-sini. Nah, jika di desa saya, fakboi itu diberi nama gondes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu saya tanya salah satu narasumber berkaitan starterpack fakboi Jogja, ia terbahak. Katanya, di sini fakboi itu murni kelakuan, nggak berkaitan sama sekali dengan pakaian atau motor yang digunakan. Jadi terserah jika daerah lain mendefinisikan fakboi gara-gara motor atau celana chinos. Yang jelas, di sini, naik motor Supra pun jika kelakuan seperti garangan ya dinamakan gondes alias fakboi Bantul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia kembali menuturkan, \u201cDefinisinya banyak, salah satunya ya tipikal anak muda yang wagu ketika mbribik perempuan. Ini opini saya, ya. Menclok sana, menclok sini berasa paling oke.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSejatinya ingin dikatakan keren, tapi ya jatuhnya aneh. Ini bukan berarti remaja Bantul nggak boleh jadi fakboi, kan sejatinya definisi fakboi itu kelakuan yang buruk. Ya sama seperti definisi gondes di sini kayak mereka yang mbleyer (ngegas motor dengan keras) dan yang nyolong jimpitan. Jadi sah-sah saja dong tipikal mas-mas yang mendekati banyak perempuan dengan dalih yang negatif disebut dengan gondes.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ditanya fenomena banyak mas-mas yang bangga disebut fakboi, narasumber yang tidak mau disebut namanya ini menjawab, \u201cYa, makanya namanya diganti. Jadi nggak ada lagi yang unggah status di sosial media \u2018Ya ampun style akuh gondes sekali?\u2019 Mereka tahu sejatinya gondes itu negatif. Tapi beberapa orang anggap fakboi itu keren.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagian mereka seneng dipanggil fakboi kan karena namanya keminggris. Kalau istilahnya sudah jadi gondes, bakal bingung bagaimana mengomersialisasikannya.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPaling seru itu kalau ada yang bilang begini, \u2018Kata orang-orang aku itu fakboi, masa disebut gondes.&#8217;\u201d katanya sambil menirukan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gondes maknanya kini menghimpun sifat-sifat yang negatif. Kalau mereka yang suka ngerusuh saat nonton konser dangdut dan trek-trekan di Stadion Pacar saja disebut gondes, maka mereka yang suka menggoda perempuan dengan cara sok asik juga dipanggil demikian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-fans-kimetsu-no-yaiba-banyak-dibenci-itu-memang-beralasan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kalau Fans \u2018Kimetsu no Yaiba\u2019 Banyak Dibenci, Itu Memang Beralasan<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang-orang senang dipanggil fakboi karena namanya keminggris. Kalau istilahnya sudah jadi gondes, maka nggak ada lagi yang bangga.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":46962,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4219,102],"class_list":["post-76346","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gondes","tag-media-sosial"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76346","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76346"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76346\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/46962"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76346"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76346"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76346"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}