{"id":76340,"date":"2020-09-11T06:51:01","date_gmt":"2020-09-10T23:51:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=76340"},"modified":"2020-09-11T11:27:59","modified_gmt":"2020-09-11T04:27:59","slug":"4-ciri-orang-yang-perlu-dihindari-dalam-transaksi-utang-piutang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-ciri-orang-yang-perlu-dihindari-dalam-transaksi-utang-piutang\/","title":{"rendered":"4 Ciri Orang yang Perlu Dihindari dalam Transaksi Utang-Piutang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap orang yang ingin meminjami uang, pasti berharap uangnya kembali tepat waktu, entah berapa pun jumlahnya. Sayangnya transaksi utang-piutang sering tidak berjalan lancar dan justru memecah pertemanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya setiap orang, semua lembaga keuangan pemberi kredit pasti juga memiliki target waktu pengembalian. Makanya, sering kali saat menagih utang yang menunggak, pihak penagih bersikap dingin, keras, dan terkesan menyeramkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu, perlu adanya indikator penilaian secara dini untuk mengetahui apakah calon debitur (pengutang) layak diberikan pinjaman atau tidak. Kalau tidak bisa-bisa kamu yang kelimpungan menagihnya. Orangnya menghilang, uang pun tinggal kenangan. Utang-piutang tidak pernah jadi perkara sederhana. Ketahuilah ciri-ciri calon pengutang yang kayaknya nggak bakal ngembaliin uangmu ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ciri #1 Jarang berhubungan, sekali tanya kabar langsung bermaksud pinjam uang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan orang pernah menjumpai hal demikian. Dia yang tak pernah berkabar, tiba-tiba SMS, telepon, atau kirim pesan lewat medsos. \u201cAssalamu\u2019alaikum. Gimana kabarnya?\u201d Padahal kamu pun sudah lupa kapan berkontak terakhir dengan dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa ada angin lesus atau hujan durian runtuh, dia langsung bertanya,\u201cKamu ada uang ** juta nggak? Aku lagi butuh banget ini.\u201d Tentu saja kaget lah. Secara udah lama nggak kontakan, sekarang juga entah tinggal dimana. Yang beginian lebih baik dihindari. Kemungkinan besar urusan utang-piutang dengan orang seperti ini tidak berjalan lancar. Antara terlambat mengembalikan dan tidak kembali sama sekali.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ciri #2 Sering gonta-ganti nomor HP maupun WhatsApp<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pernyataan bahwa setiap orang yang nomor HP-nya sudah bertahan sampai 10 tahun lebih, maka orang tersebut bisa dipercaya. Saya sendiri memiliki nomor HP yang sudah bertahan lebih dari 10 tahun. Artinya? Artikan sendiri saja. Hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir setiap orang yang sering ganti nomor HP bisa dipastikan memiliki masalah. Entah masalah keluarga, teman, utang-piutang, atau hal lainnya. Intinya cuma satu, untuk menghindar dari teman dan kenalannya. Coba bayangkan kalau kamu memberi utang ke orang kayak gini. Eh beberapa jam setelah diberi utang, nomor sudah tidak aktif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalaupun aktif (dan saya yakin ini hanya sementara), WhatsApp yang sering digunakan untuk berkomunikasi akan diblokir olehnya. Entah alasannya apa ngeblokir. Padahal awalnya merengek minta bantuan, giliran sudah dibantu, malah ngeblokir. Mending nggak usah berurusan dengan tipe orang yang satu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Ciri #3 Orang yang suka bilang, \u201cBesok ya&#8230;\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya adalah orang ini selalu menunda-nunda pembayaran utang. Sebenarnya tidak hanya utang, dengan hal lain juga suka menunda-nunda. Artinya, sikapnya untuk memprioritaskan orang lain sudah hilang. Kalau begini gimana mau bayar utang cepet?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya kamu segera butuh uang tapi saat ditagih dia malah menjawab, \u201cBesok ya\u2026.\u201d Lalu kamu tagih lagi dan mangkir lagi dengan jawaban yang sama. Fix nggak usah diladeni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kisah yang sangat parah dialami oleh anggota koperasi tempat saya bekerja. Niatnya baik untuk membantu tetangga, dipinjamilah tetangganya beberapa rupiah. Janjinya akan dikembalikan dalam satu minggu. Setiap ditagih, jawabannya, \u201cLagi nggak punya uang, Mbak. Besok lah kalau ada uang.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu terus sampai berminggu-minggu. Yang bikin jengkel, tetangganya malah beli motor baru. Utang-piutang dengan orang yang plin-plan seperti ini sebaiknya dihindari.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ciri #4 Orang yang suka bilang \u201cBunga bank itu riba.\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk masalah riba akan bunga bank silakan kembali ke kepercayaan masing-masing. Entah halal atau haram tergantung sikap dan ilmu yang kita terima. Cuma yang paling ngeselin bagi saya, terutama para pekerja lembaga keuangan, kalau sudah tahu riba, kenapa masih pinjam uang di lembaga keuangan? Kenapa masih nabung di tempat kami?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kami, alasan tersebut sangat menjengkelkan. Belum lagi jika mereka beralasan, \u201cKemarin lagi mepet, Mas. Terpaksa pinjam di sini.\u201d Itu hal yang paling konyol dalam sejarah pendengaran nasabah. Pas ditagih, malah berteriak \u201cHaram, kuwi riba, Mas.&#8221; Ah pingin tak hiiih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah pada waktu penagihan, saya dan teman tim menagih anggota yang statusnya macet (keterlambatan angsuran lebih dari setahun). Tentu saja kami melakukan \u201cpendekatan\u201d khusus. Tapi beliau malah berujar,<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIngat Mas-mas. Bunga bank itu haram. Aku nggak mau ngasih barang haram ke kalian, Mas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, kan yang berutang wajib melunasi, Pak. Kalau gitu ngapain ngutang di tempat kami?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPokoknya saya nggak mau bayar. Titik.\u201d Eh malah ngegas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau mau berutang tanpa bunga-bungaan, mending berutang ke orang tua saja. Tidak perlu sampai ke bank. Dijamin aman dari tagihan. Malah mungkin dikasih sekalian, nggak dianggap berutang. Mau nabung di bank pun nggak usah. Daripada bikin ribet banyak orang sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Utang-piutang itu boleh saja dilakukan, yang penting komitmen buat mengembalikannya harus dijaga betul. Ada beberapa kasus utang-piutang yang bisa membantu menjalin tali silaturahmi, justru berakhir di balik jeruji besi. Kan nggak enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memberi utang juga termasuk orang baik. Membantu meringankan beban orang lain. Tapi dalam hal itu juga harus dilihat kondisi pribadi dan orang yang mau berutang.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/biar-enggak-gagal-paham-saya-kasih-tahu-bedanya-bank-leasing-dan-koperasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Biar Nggak Gagal Paham, Saya Kasih Tahu Bedanya Bank, Leasing, dan Koperasi<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/hepi-nuriyawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hepi Nuriyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Utang-piutang tidak pernah jadi perkara sederhana. Ketahuilah ciri-ciri calon pengutang yang kayaknya nggak bakal ngembaliin uangmu ini.<\/p>\n","protected":false},"author":925,"featured_media":61077,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1827,249],"class_list":["post-76340","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-menagih-utang","tag-pertemanan"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/925"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76340"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76340\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61077"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}