{"id":76071,"date":"2020-09-09T11:48:11","date_gmt":"2020-09-09T04:48:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=76071"},"modified":"2020-09-09T11:47:24","modified_gmt":"2020-09-09T04:47:24","slug":"alasan-saya-rela-beli-kopi-mahal-padahal-saya-konsumen-bergaji-umr","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-rela-beli-kopi-mahal-padahal-saya-konsumen-bergaji-umr\/","title":{"rendered":"Alasan Saya Rela Beli Kopi Mahal padahal Saya Konsumen Bergaji UMR"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua artikel dari<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/minum-kopi-itu-biasa-saja-nggak-usah-dibikin-ribet-dan-diromantisasi\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Mas Sofyan Azis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/minum-kopi-itu-tidak-biasa-saja-dan-pantas-untuk-diromantisasi\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Mas Riyanto<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> memang menarik bagi saya. Sebuah tesis yang segera bersambut antitesis. Bagaikan Plato dan Aristoteles. Tema yang sejajar dengan sabda para filsuf. Menurut saya, kedua artikel tersebut lebih layak diromantisasi daripada kopi mahal dan tidak mahal itu sendiri!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita amati, Mas Sofyan menawarkan sudut pandang dari penikmat kopi yang merasa kopi harus murah. Sedangkan Mas Riyanto menawarkan sudut pandang dari seseorang yang terjun dalam dunia kopi dan mengetahui kenapa kopi bisa mahal. Tapi, dari kedua argumen tersebut harus dilengkapi dari sudut pandang konsumen yang merasa kopi mahal itu wajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, saya menawarkan diri sebagai orang ketiga. Orang yang menyampaikan argumen mengapa kopi yang dipandang mahal tetap dibeli. Apalagi, saya merasa pantas memberikan argumen dengan gaji saya yang mepet-mepet UMR Jogja. Bagaimana bisa seseorang bergaji \u201cnarimo ing pandum\u201d masih mau membeli kopi yang seharga 2 liter pertalite?<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Saya tahu apa yang saya beli<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah alasan utama saya. Sedikit banyak saya mengerti rata-rata Harga Pokok Penjualan (HPP) dari segelas es cappucino (yang selalu saya pesan dimanapun saya berada). Dengan memahami HPP ini, saya tidak keberatan merogoh kantong lebih dalam demi segelas kopi. Dan saya tidak pikir pusing membandingkan harga segelas kopi saset dengan segelas kopi artisan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentunya, mengetahui rerata HPP membuat saya pemilih. Saya tetap rewel ketika melihat harga kopi yang (menurut saya) terlalu mahal. Tapi, kadang kala saya tetap membeli kopi yang (menurut saya) terlalu mahal karena alasan berikutnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Saya menyewa tempat dan fasilitas.<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang saat ini menjadi alasan utama seseorang rela nongkrong berjam-jam di kedai kopi. Dari uang yang kita bayarkan saat membeli kopi, kita juga membayar \u201csewa\u201d atas tempat dan fasilitas yang tersedia. Mulai dari tempat duduk, pajangan dinding, sampai wifi yang selalu saya butuhkan saat menulis artikel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan kedua ini yang membuat saya tidak terlalu hype pada kultur kopi susu cup. Alasannya, tempat yang mereka sediakan cenderung kecil, ramai, dan tidak bisa merokok. Saya lebih nyaman menikmati kopi di lokasi yang nyaman, tidak terlalu ramai, dan bisa merokok. Daripada memaksa diri ngopi di tempat yang tidak sesuai demi Story Instagram saya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Saya membeli suasana<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit bersinggungan dengan alasan kedua, suasana juga sesuatu yang membuat saya rela merogoh kantong lebih dalam. Beberapa kedai kopi sudah membuat saya nyaman sejak turun dari motor. Dan kenyamanan ini cukup pantas untuk saya bayar lebih. Tentu urusan nyaman ini sangat relatif, dan cocok-cocokan. Hal ini menyebabkan saya jarang berpindah dari kedai langganan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan ini juga membuat saya rela melakukan perjalanan belasan kilometer demi mampir ke kedai kopi. Mungkin, alasan ketiga ini bisa disebut meromantisasi kopi seperti opini Mas Sofyan Azis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu Mas Sofyan akan terkejut dan berpikir saya terlalu halu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan dikira saya terlalu halu dan meromantisasi kopi. Alasan saya melakukan perjalanan ini sama seperti orang lain yang rela jauh-jauh menuju tempat wisata atau rumah ibadah yang nyesss di hati. Dan saya tidak sendiri kok Mas Sofyan, biasanya saya boncengan atau rame-rame 5 motor setiap \u201cwisata kopi\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Saya membeli seni<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah alasan ini juga sering dicap sebagai meromantisasi kopi. Apalah arti seni dalam segelas kopi. Apalagi saya selalu mencampur gula yang katanya \u201cmerusak rasa kopi\u201d. Tapi, kopi artisan tetaplah sebuah karya seni. Dari latte art sampai kompleksitas rasa segelas kopi tetaplah memiliki nilai lebih dari segelas kopi yang dibuat serampangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai ada kopi murah dengan \u201cnilai\u201d yang sama dengan selera saya, belum tentu saya berpindah ke lain hati. Toh, 3 alasan di atas juga harus diperhatikan. Tapi, alasan keempat ini juga membuat saya enggan membeli kopi kekinian yang umum dijumpai di mal atau bioskop (dan berlogo perempuan berwarna hijau putih).<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Saya menganggarkan \u201cdana plesiran\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini alasan terakhir saya selalu siap mampir ke kedai kopi. Saya memperhatikan kesehatan mental yang seringkali diabaikan seorang pekerja. Untuk menjaga agar mood dan kinerja dalam posisi maksimal, saya selalu memiliki waktu khusus untuk relaksasi dan melepas penat. Kebetulan, relaksasi terbaik saya adalah ngopi di kedai yang memenuhi 4 alasan di atas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, alasan saya dipandang terlalu berlebihan dan meromantisasi kopi. Namun, tidak saya pungkiri bahwa saya tetap nyaman menikmati kopi dengan gaji saya yang mepet UMR Jogja. Justru, saya tahu persis apa yang saya butuhkan dan apa yang saya beli. Jadi saya tidak perlu terjebak dalam situasi membenci romantisnya kopi yang memang ada.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-memahami-spektrum-agnostik-dan-ateis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Panduan Memahami Spektrum Agnostik dan Ateis<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Prabu Yudianto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Argumen Mas Sofyan dan Mas Riyanto harus dilengkapi dari sudut pandang konsumen yang merasa kopi mahal itu wajar.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":11718,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[636,625],"class_list":["post-76071","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kopi-kekinian","tag-warung-kopi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76071"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76071\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11718"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}