{"id":75912,"date":"2020-09-09T06:02:00","date_gmt":"2020-09-08T23:02:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=75912"},"modified":"2020-09-09T12:01:53","modified_gmt":"2020-09-09T05:01:53","slug":"4-keunggulan-sistem-operasi-linux-dibandingkan-windows","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-keunggulan-sistem-operasi-linux-dibandingkan-windows\/","title":{"rendered":"4 Keunggulan Sistem Operasi Linux Dibandingkan Windows"},"content":{"rendered":"<p>Dulu ketika masih kuliah, saya pernah beberapa kali mencoba berpaling menggunakan sistem pemrograman selain Windows. Pernah sekali mencoba MacOs, sistem operasinya Apple. Namun hanya berselang 3 atau 4 bulan, laptop saya koma. Mau tidak mau, saya harus ganti laptop. Dan ini memaksa saya untuk kembali ke Windows lagi. Beberapa bulan berselang, saya mencoba lagi sistem operasi yang lain, Linux Ubuntu<\/p>\n<p>Awalnya, saya agak bingung, karena sistem yang ada di Linux ini sangat berbeda dengan Windows yang sejak kecil saya kenal. Bahkan untuk awal-awal menggunakan Linux, saya selalu bingung menemukan keberadaan tombol minimize, maximize, dan close. Di Windows, ketiga tombol itu berada di sebelah kanan atas jendela kerja. Di Ubuntu, berada kiri atas. Sebenarnya mungkin kadang kelihatan. Tapi karena sejak awalnya juga sudah terbiasa klik minimize, maximize, dan close di kanan atas, maka kebiasaan itu terbawa.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, ada banyak keunikan lainnya yang terdapat di sistem operasi Linux\u00a0ini. Berikut saya akan merangkumnya.<\/p>\n<h4><strong>Format aplikasi<\/strong><\/h4>\n<p>Kebingungan yang saya rasakan awal-awal menggunakan Linux\u00a0adalah ketika saya tidak menemukan kompatibilitas antara program yang biasa saya install di Windows\u00a0dengan di Ubuntu\u00a0ini. Di Windows, aplikasi selalu dengan format .exe. Di Linux, terutama Ubuntu, kita dikenalkan dengan format aplikasi berbeda. Ada .pkg, .deb, .bin, .rpm, .run dan masih banyak yang lainnya.<\/p>\n<p>Uniknya, jika aplikasi dengan format Linux\u00a0ini tidak bisa dijalankan di Windows, sebaliknya aplikasi berformat .exe, masih bisa kita usahakan untuk berjalan di Linux. Ada beberapa aplikasi yang bisa kita gunakan sebagai perantara untuk menjalankan program dengan format .exe di Linux. Sebut saja aplikasi playonLinux\u00a0atau winetricks. Kedua aplikasi ini lumayan familiar dengan para pengguna Linux\u00a0yang masih atau terpaksa harus menggunakan aplikasi Windows\u00a0di Linux.<\/p>\n<h4>Kapasitas file system<\/h4>\n<p>Salah satu kelemahan dari sistem operasi Windows\u00a0adalah kecepatannya. Semakin tinggi Windows, semakin besar ruang untuk disk file system (drive C:), semakin lambat Windows\u00a0atau aplikasi berjalan. Apalagi jika laptop atau PC kita masuk kategori kentang.<\/p>\n<p>Di Windows edisi terbaru, sekedar kapasitas untuk Windows-nya sendiri sudah harus menyediakan ruang minimal 15 Gigabyte (GB). belum lagi ditambah dengan aplikasi penunjang macam Office dan aplikasi lainnya. Maka sekedar untuk drive C tempat file system berada, pengguna Windows biasanya menyediakan space minimal 120GB. Hal ini tentu saja menentukan performa kecepatan PC atau laptop kita juga.<\/p>\n<p>Di Linux, terutama di Ubuntu, file system dengan kapasitas 20 hingga 30 GB sudah sangat lebih dari cukup. Selain karena tidak memerlukan banyak ruang, biasanya aplikasinya juga tidak berat. Rerata aplikasi yang penggunaannya di Windows\u00a0bisa mencapai hitungan GB, di Linux\u00a0biasanya tidak sampai 100-an MB. Misal saja aplikasi Office. Di Windows, aplikasi Office\u00a0Word bisa mencapai 2 GB sendiri. Di Linux, Office\u00a0hanya sampai pada kisaran 70-an MB.<\/p>\n<p>Oiya, di Linux, biasanya kita lebih familiar dengan Libre\u00a0Office\u00a0(yang open source dan legal) untuk program Office\u00a0dibandingkan dengan Microsoft\u00a0Office\u00a0miliknya Microsoft\u00a0yang biasanya kita bajak atau crack.<\/p>\n<h4>Aplikasi free dan legal<\/h4>\n<p>Dengan komersialisasi berbagai aplikasi di Windows, program standar macam Office\u00a0dan pendukungnya biasanya tidak gratis. Walau terkesan murah untuk beberapa kalangan, banderol harga 350 ribu (Office) untuk kalangan tertentu masuk kategori mahal.<\/p>\n<p>Belum lagi untuk membayar aplikasi lainnya macam aplikasi grafis dan pemrograman. Saya pernah ditawari untuk sepaket aplikasi buatan Adobe, mulai photoshop, premiere pro, after effect dan teman-temannya dengan harga 850 ribu rupiah. Dan itu bayar pake uang, Mylov. Makanya banyak aplikasi bajakan dan crack berformat Windows yang berseliweran di internet.<\/p>\n<p>Di Linux, kita tidak menemukan eksklusivitas itu. Program standar untuk sekedar bikin dokumen bisa kita dapatkan dengan gratis. Ada Libre Office (sudah saya terangkan di atas), WPS Office, Calligra Office dan masih banyak lainnya.<\/p>\n<p>Untuk desain grafis, kita bisa belajar menggunakan GIMP sebagai pengganti Photoshop dan Inkscape sebagai pengganti CorelDraw. Walau tidak seterkenal aplikasi di Windows, kedua aplikasi ini setara dengan kembaran mereka di Windows.<\/p>\n<p>Untuk aplikasi pengolah video, jangan tanya lagi. Kdenlive, Shotcut, Openshot, Lightworks dan masih banyak lainnya. Bahkan salah satu aplikasi besar edit video yang terkenal, daVinci Resolve juga dikembangkan dan gratis di Linux\u00a0sebelum didistribusikan juga ke Windows.<\/p>\n<h4>Application Center (AppCenter) dan Terminal<\/h4>\n<p>Salah satu keunggulan yang saya temui di sistem operasi Linux, adalah keberadaan pusat aplikasi (application center). Walau Windows\u00a0juga sudah mulai menerapkan ini, tapi Linux\u00a0berbeda. Hampir semua aplikasi untuk kebutuhan kita di Linux\u00a0ada di sini. Bahkan para pengembang aplikasi berbondong-bondong memasukan aplikasi garapan mereka ke pusat aplikasi ini.<\/p>\n<p>Namun, jika ada aplikasi yang mungkin tidak ada di AppCenter, kita bisa menggunakan jasa Google untuk mencari kodenya lantas meng-install-nya dengan bantuan aplikasi terminal. Aplikasi bantuan untuk instalasi ini sangat unik, karena kita akan diperlihatkan bagaimana kumpulan kode dalam sebuah aplikasi di-running agar aplikasi tersebut bisa ditanam di PC atau laptop kita.<\/p>\n<p>Paling tidak, itu beberapa keunggulan yang saya temui setelah penggunaan Linux sampai saat ini. Untuk saat ini sendiri, saya menggunakan sistem operasi Linux, Elementary OS. Tampilannya yang unik membuat saya tertarik menggunakannya.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-program-selain-podcast-di-youtube-deddy-corbuzier-yang-sebenarnya-nggak-laku-laku-amat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Deddy Corbuzier Pernah Bikin Program yang Nggak Laku-laku Amat di Kanal YouTubenya<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/taufik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Taufik<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Linux, terutama Ubuntu, file system dengan kapasitas 20 hingga 30 GB sudah cukup. Selain tidak butuh ruang besar, aplikasinya pun ringan.<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":76056,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8583,8697,8584],"class_list":["post-75912","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-linux","tag-sistem-operasi","tag-windows"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75912","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75912"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75912\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76056"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75912"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75912"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75912"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}