{"id":75884,"date":"2020-09-13T13:31:51","date_gmt":"2020-09-13T06:31:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=75884"},"modified":"2020-09-13T13:33:00","modified_gmt":"2020-09-13T06:33:00","slug":"westerling-percobaan-kudeta-dan-candaannya-tentang-nyawa-sukarno","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/westerling-percobaan-kudeta-dan-candaannya-tentang-nyawa-sukarno\/","title":{"rendered":"Westerling, Percobaan Kudeta, dan Candaannya tentang Nyawa Sukarno"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama lengkapnya Raymond Paul Pierre Westerling. Lahir pada 31 Agustus 1919 di Istanbul, saat itu masih Kesultanan Utsmaniyah Turki. Ayahnya keturunan Belanda, ibunya berdarah Yunani. Nama panggilannya Ray sementara dunia mengenalnya sebagai Westerling. Oleh karena asalnya dari Turki, ia di Belanda dijuluki sebagai Kapten Turk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi masyarakat Indonesia, sejarah Westerling merekam fakta kekejaman dan kebengisan. Aksinya sepanjang 1946-1947 di Sulawesi Selatan menimbulkan korban jiwa tak terhitung. Saking banyaknya, tak ada sumber akurat yang bisa menyebut jumlahnya. Pada Desember 1946 hingga Februari 1947, ia dan pasukannya menggenangi Makassar sampai Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Enrekang dengan lautan darah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usai Jepang kalah di Perang Dunia II dan Belanda berusaha masuk kembali ke Indonesia, kondisi Makassar dianggap Belanda begitu genting. Untuk melakukan normalisasi keadaan, Kapten Turk memimpin pasukan bernama Depot Speciale Troepen (DST) memasuki Makassar pada 6 Desember 1946. Namun, konsep normalisasi ala Kapten Turk ini artinya pembantaian membabi buta. Ada yang mengapresiasi kelakuannya, ada pula yang mencibirnya. Bagaimanapun, perbuatannya tetap kejahatan perang. Pada 1948 ia pun dipecat dari dinas militer Belanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, anehnya, tingkah polah Kapten Turk tak reda. Sesudah dipecat, ia malah membentuk Ratu Adil Persatuan Indonesia (RAPI). Organisasi rahasia itu memiliki kesatuan bersenjata bernama Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Pada 1950, ia hendak mengudeta Sukarno.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walentina Waluyanti de Jonge memaparkan kisah hidup Westerling dalam buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Apa maksud pernyataan di judul tersebut? Berikut penuturan Walentina:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya pernah mendengar kisah tentang gaya humor Westerling. Walau bercanda pun, tetap tak menghapus kesan terhadap sosoknya yang \u2018berdarah dingin;. Simak saja gaya humor Westerling yang pernah diungkapkannya saat ditanya, \u2018Kenapa Anda tidak menembak Sukarno waktu kudeta dulu?\u2019 Apa jawab Westerling? \u2018Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga Sukarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.\u2019 Westerling bercanda karena ia tahu pada hari terjadinya kudeta itu, ia tidak bisa menembak Sukarno. Sebab hari itu, pukul 06.00, 23 Januari 1950, Sukarno dan Fatmawati terbang ke India untuk kunjungan kenegaraan pertama.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam catatan kaki, Walentina menambahkan komentar, \u201cDi Belanda, dalam beberapa kesempatan, saya bertemu beberapa veteran perang, eks tentara KNIL, yang dulu pernah bertugas di Indonesia. Jika saya bertanya tentang Westerling, umumnya mereka punya cerita senada tentang candaan Westerling ini. Bahkan, di Spanyol pun, saya juga bertemu seorang veteran KNIL asal Belanda, Paul Leenders, yang juga menceritakan hal yang sama.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengupas sosok Kapten Turk, Walentina sungguh beruntung bisa memperoleh buku langka berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mijn Memoires<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Buku ini ditulis Westerling sendiri dan dicetak pada 1952 oleh N.V. Uitgeverij P. Vink di Antwerpen, Amsterdam. Dalam buku itu memang terungkap bahwa Kapten Turk sangat membenci dan menyudutkan Sukarno. Westerling menganggap Sukarno memakai Komunisme demi menarik simpati kalangan Islam dan dunia Barat. Ia ingin menyaingi Sukarno, makanya mengklaim diri sebagai Ratu Adil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mijn Memoires<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga terungkap kebengisan Kapten Turk telah terbentuk sejak cilik. Dunia kekerasan, pertarungan, dan perang telah disukainya. Westerling mengaku rasa takut telah lenyap dalam dirinya sejak kecil. Saat usia 7 tahun, ia sudah mengenal senjata api dan bisa mengoperasikannya. Obsesinya pada senjata akhirnya membulatkan tekadnya terjun dalam dunia militer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkait kudeta yang dilakukan Kapten Turk, pemerintah Belanda menyangkal terlibat, menyebutnya sebagai inisiatif pribadi. Banyak pihak di Indonesia meyakini keterlibatan Belanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Kapten Turk sudah dipecat pada 1948 akibat kekejaman di luar batas kemanusiaan di Sulawesi Selatan, mengapa ia masih memiliki kekuatan senjata dan bisa membentuk organisasi rahasia di Indonesia? Pemaparan Walentina dalam buku ini menegaskan bahwa kudeta terhadap Sukarno bukan kerjaan Westerling sendirian. Ada otak intelektual di belakang Kapten Turk yang ia tudingkan kepada Pangeran Bernhard. Ia adalah pria Jerman yang menikah dengan Juliana, ratu Belanda. Konon Pangeran Bernhard terobsesi menjadi gubernur jenderal di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teka-teki otak intelektual di belakang Kapten Turk ketika melancarkan kudeta terhadap Sukarno terkuak dari penelitian sejarawan Belanda Harry Veenendaal dan wartawan Belanda Jort Kelder yang dilakukan selama delapan tahun. Ketika menanyakan motif Pangeran Bernhard, Harry Veenendaal mendapatkan jawaban dari seorang pejabat Nationaal Archief di Belanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut penuturan Walentina:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPejabat yang memegang rahasia negara itu tidak menjawab secara lisan, namun menuliskannya di atas kartu kecil, dengan satu kata: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Vice-Roi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Vice Roi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah kata bahasa Perancis\u2014di Belanda artinya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Onderkoning<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (penguasa yang bertindak sebagai representatif raja\/ratu di negara koloni). Dalam bahasa Indonesia disebut Gubernur Jenderal. Jabatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Vice-Roi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah kekuasaan tertinggi yang mewakili monarki di tanah jajahan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kapten Turk sebagai wayang Pangeran Bernhard ini bahkan tercatat dalam dokumen resmi negara. Televisi Belanda NCRV sempat menyiarkannya pada 30 November 2009 dalam program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Netwerk<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bahwa Pangeran Bernhard tak puas hanya berfungsi sebagai suami ratu. Pers Belanda, papar Walentina, mengibaratkan Pangeran Bernhard ingin seperti Lord Mountbatten yang pernah berkuasa atas nama Raja Inggris sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Vice-Roi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di India.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejahatan perang Westerling di Sulawesi Selatan dan percobaan kudeta terhadap Sukarno hanya terekam sebagai fakta sejarah. Pemerintah Indonesia tak pernah berhasil mengekstradisinya ke Indonesia. Westerling meninggal sebagai orang bebas pada 1987 di Purmerend, Belanda.<\/span><\/p>\n<p><em>Foto Westerling (tengah) pada 1952 oleh Harry Pot via <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Rechtszaak_Pot_Westerling._Vlnr._Mr._Pauwels,_Westerling,_Mr._Velthuis,_Bestanddeelnr_905-2714.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/miq\/esai\/sang-terpidana-mati-kusni-kasdut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sang Terpidana Mati Kusni Kasdut<\/a> dan artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/hendra-sugiantoro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hendra Sugiantoro<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kapten Westerling dikenal sangat kejam. Ia pernah membantai penduduk Sulsel pada 1946-1947. Ia juga pernah mencoba mengudeta Sukarno.<\/p>\n","protected":false},"author":993,"featured_media":77104,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8770,2361,8769],"class_list":["post-75884","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kudeta","tag-sejarah-indonesia","tag-westerling"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75884","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/993"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75884"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75884\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/77104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75884"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75884"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75884"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}