{"id":75666,"date":"2020-09-09T06:00:43","date_gmt":"2020-09-08T23:00:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=75666"},"modified":"2020-09-08T16:47:42","modified_gmt":"2020-09-08T09:47:42","slug":"kenapa-orang-meninggal-harus-diazani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-orang-meninggal-harus-diazani\/","title":{"rendered":"Kenapa Orang Meninggal Harus Diazani?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di desa saya jika bulan Ramadan, sehabis tadarus biasanya orang masih duduk-duduk di emperan masjid. Masih suka ngobrol ngalur-ngidul terlebih dahulu sebelum menunggu datangnya waktu sahur. Di saat seperti itu, mereka akan bergurau sampai bisa dibilang, sudah nggak ada akhlak. Bercanda dan mengejek orang hingga yang diejek berkeringat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada suatu waktu, di kumpulan itu bergabung seorang teman saya yang baru kelar nyantri di satu ponpes ternama di daerah Bangkalan, Madura. Kepada dia, seorang teman yang lain bertanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenapa orang mati harus diazani? Bukannya azan orientasinya sebagai tanda masuknya waktu salat?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspresi Ahmad, nama teman alumni ponpes itu, langsung terlihat gugup. Wajahnya seperti menjerit memikirkan jawaban. Saya ikutan latah memikirkan jawabannya. Saya pandangi wajah Ahmad seperti mengeluarkan cahaya lampu di atas kepalanya dengan ekspresi gugupnya. Sama seperti yang di iklan TV, saat kepala sudah mengeluarkan lampu begitu, artinya sudah menemukan ide, solusi, jawaban, apa aja lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan mantapnya Ahmad menjawab, \u201cKan manusia ketika baru dilahirkan diazani, begitu pun ketika sudah meninggal.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbinar wajahnya seakan-akan jawaban itu akan bisa memenangkan \u201cadu mulut\u201d kali ini. Ahmad menyimpulkan bahwa kalau awalnya, waktu pertama lahir, harus diazani; ketika meninggal harus diazani juga. Awal dan akhir harus sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Setya, nama orang yang memberikan pertanyaan, ternyata memberi pukulan balik yang cukup membuat Ahmad babak belur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, kalau awal dan akhir disamakan kayak orang salat, seharusnya ketika ingin mengakhiri salat bukannya mengucapkan assalamualaikum, tapi allahuakbar. Kan awalnya \u2018begitu&#8217; mengakhirinya harus &#8216;begitu&#8217; juga,\u201d dengan nada meledek dan ekspresi sedikit nyengir Setya melayangkan uppercut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, mungkin Setya sudah mengalkulasikan jawaban sepeti itu. Makanya ia merasa di atas angin. Saking terhanyutnya dalam suasana saling melemparkan jawaban pertanyaan itu, waktu pun berlalu tanpa kami sadari. Menjelang waktu sahur kami pun mengakhiri obrolan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keesokan harinya Ahmad bertandang di rumah saya. Pertanyaan tadi malam ternyata tidak berakhir di masjid; masih menjadi pembahasan kami berdua di beranda rumah. Kebetulan abah saya (suami dari adik Bapak) sedang berada kursi tamu depan rumahnya. Saya menyarankan Ahmad menanyakan soal itu kepada Abah. Ahmad mengiyakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBah, kenapa orang mati harus diazani?\u201d Dalam hati kami berharap mendapatkan jawaban secara mantik, bahkan satu paket dengan dalil-dalilnya. Agar kelak kami bisa menjawab dengan sahih bila menemukan pertanyaan semacam itu kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun jawaban Abah di luar ekspektasi kami. Dengan tanggap dan santainya beliau menjawab, \u201cYa, karena tidak bisa azan sendiri.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hati saya mengumpat sekeras-kerasnya. Sebab, jawaban Abah sama ngawurnya dengan pertanyaannya. Saya menoleh kepada Ahmad, \u201cKenapa kita tidak kepikiran untuk menjawab seperti itu ya kepada Setya\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, ya. Coba aku jawab seperti itu, pasti aku bisa menguasai keadaan tadi malam,\u201d timpalnya keheranan pada diri sendiri. Ekspresinya seakan-akan mengatakan, \u201cKok bisa Abah menjawab seperti itu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak peristiwa itu saya menyimpulkan, yang namanya pertanyaan ngawur harus dijawab dengan ngawur pula. Ya, walaupun sampai detik ini saya masih penasaran apa jawaban serius dari pertanyaan Setya itu. Sialnya, karena saya pelupa, ketika bertemu orang yang boleh dibilang mumpuni, saya selalu luput bertanya perihal ini.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/daf\/corak\/khotbah\/kenapa-babi-haram\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kenapa Babi Haram?<\/a>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teman saya yang seorang santri menjawab: \u201cKan manusia ketika dilahirkan diazani, begitu pun ketika sudah meninggal.\u201d Eh, ternyata salah.<\/p>\n","protected":false},"author":1013,"featured_media":76095,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6583,3952,6128,6110],"class_list":["post-75666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-azan","tag-islam","tag-meninggal","tag-pertanyaan"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1013"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75666"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75666\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76095"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}