{"id":75544,"date":"2020-09-10T13:30:42","date_gmt":"2020-09-10T06:30:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=75544"},"modified":"2020-09-10T13:30:42","modified_gmt":"2020-09-10T06:30:42","slug":"nasihat-pernikahan-istri-memang-orang-lain-bagi-suaminya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasihat-pernikahan-istri-memang-orang-lain-bagi-suaminya\/","title":{"rendered":"Nasihat Pernikahan: Istri Memang Orang Lain bagi Suaminya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu sempat viral komentar dari akun seorang suami yang menyebut istrinya sendiri sebagai \u201corang lain kebetulan harus diurus\u201d. Dalam skrinsut yang beredar di media sosial, si suami menulis begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya ngasih uang jatah tidak semua gajih saya kasikan, saya tabung buat anak, karna anak darah daging sedang istri adalah orang lain yg kebetulan harus kita urus, intinya jangan terlalu royal, juga jangan terlalu pelit.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa diduga, pernyataannya tersebut membangunkan para istri yang terlukai hatinya. Segala sumpah serapah dan komen pedas diarahkan pada pernyataan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini saya tidak hendak membahas luka istri yang dianggap sebagai orang lain. Suara sebagian besar netizen sudah mewakili perasaan saya. Apalagi Lambe Turah juga sudah mengedarkan skrinsut itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang ingin saya katakan lewat tulisan ini: jika mau jujur, ada benarnya bahwa istri memang orang lain bagi suaminya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bukan orang lain mana mungkin dinikahi toh? Hehehe. Tapi tentu saja maksudnya bukan begitu. Saya mencoba melihatnya dari sudut pandang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lima belas tahun lalu, saya hanyalah orang lain yang secara kebetulan dinikahi suami saya. Menikah tanpa pacaran terlebih dahulu pasti lebih banyak duri ketimbang bunga-bunganya. Terlalu banyak impian muluk saya sandarkan kepada lelaki asing ini dan berakhir kekecewaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingin dia bisa menulis puisi buat saya. Saya ingin dia lebih banyak bicara. Saya ingin dia tidak menaruh handuk basahnya sembarangan. Saya ingin dia memencet odol dari bawah bukan dari tengah. Masih banyak ingin-ingin lain yang ternyata kemudian harus saya kompromikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai akhirnya saya harus meyakini, saya hanya \u201corang lain\u201d yang datang belakangan di kehidupannya. Saya bertemu dia ketika dia sudah menjadi manusia. Manusia seperti yang saat itu saya dapati. Saya tidak boleh memaksakan keakuan saya pada dirinya, begitu pun sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski secara hukum dan agama kami sepasang suami istri, kami tetap dua manusia berbeda. Memiliki keinginan berbeda, kepribadian berbeda, terbentuk dari lingkungan yang juga berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya selalu terbuai kata-kata romantis \u201cketika aku dan kamu menjadi aku\u201d. Dengan segenap ego, saya memaksa dia menjadi sesuai keinginan saya, juga sebaliknya. Hasilnya? Bukan hanya saya yang stress, dia mulai menunjukkan tanda-tanda merasa salah meminang orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga tahun pertama pernikahan adalah masa ngotot-ngototan itu. Sayangnya, semakin berusaha, kami malah semakin menjauh. Untungnya dalam tiga tahun pertama itu kami disibukkan mengurus dua anak dan lupa bahwa kami masing-masing menyimpan bara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lima tahun berikutnya, bara itu pelan-pelan padam. Kami mulai menerima perbedaan, menerima keakuan dan kelakuan masing-masing. Kami mulai bisa tahu waktu, kapan harus menjadi orang lain (menjadi \u201caku\u201d), kapan harus menjadi \u201csatu\u201d tim ketika dihadapkan pada urusan rumah tangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulailah tercipta kata me time. Mulai ada waktu untuk diri sendiri. Ya, karena tak semua waktu bulat-bulat harus didedikasikan untuk keluarga. Ada waktu me-recharge energi dengan melakukan sesuatu yang disukai. Dia dengan hobinya yang tidak ada saya di dalamnya, saya dengan dengan hobi saya yang tidak ada dia di dalamnya. Clear, sekarang kami adalah dua orang asing yang berbeda di waktu-waktu tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, setelah berhasil mengenyangkan sisi keakuan masing-masing, tiba saatnya \u201ckembali\u201d ke rumah. Kedua orang lain ini sama-sama membawa energi positif yang membahagiakan seluruh penghuni rumah. Anak-anak jadi bahagia melihat orang tuanya bahagia. Seketika ingin saya teriakkan kepada suami, \u201cHei, orang lain! Terima kasih mau kembali ke rumah dan sama-sama membagi kebahagiaannya di sini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami telah sadar, kami tak punya ikatan darah sehingga ikatan rasalah yang harus dipupuk tiap hari jika ingin memanen bahagia kelak. Itu kata orang-orang bijak. Jangan sampai kami bertahan bersama hanya karena anak-anak. Sebab, ketika anak-anak telah mandiri dan keluar dari rumah, kami akan ditinggalkan berdua lagi, bersama masalah lama yang belum selesai. kembali menjadi orang asing tanpa ikatan rasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan menganggap suami sebagai orang lain, saya bisa menghargai keberadaan dia sebagai pribadi yang berbeda dari saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, beda ceritanya kalau pasangan menganggap dirinya sebagai orang lain pas ngurus kerjaan rumah tangga. Awas aja. Kalau kata netizen, bisa kelar idup lu!<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/@jenitosk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText\">Jeniffer Ara\u00fajo<\/a> on <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/s\/photos\/family?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/rus\/esai\/mendukung-istri-bekerja-meski-dikira-jadi-suami-tertindas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mendukung Istri Bekerja Meski Dikira Jadi Suami Tertindas<\/a>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa waktu lalu seorang pria yang menganggap istrinya semata orang lain yang kebetulan harus ia urus, memicu kemarahan netizen.<\/p>\n","protected":false},"author":1020,"featured_media":76569,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[129,767,228,412,5087],"class_list":["post-75544","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-cinta","tag-istri","tag-keluarga","tag-rumah-tangga","tag-suami"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75544","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1020"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75544"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75544\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76569"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75544"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75544"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75544"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}