{"id":75337,"date":"2020-09-04T15:52:14","date_gmt":"2020-09-04T08:52:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=75337"},"modified":"2020-09-04T15:52:14","modified_gmt":"2020-09-04T08:52:14","slug":"meniti-karier-itu-harus-pelan-nggak-usah-ngebet-pengin-terkenal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meniti-karier-itu-harus-pelan-nggak-usah-ngebet-pengin-terkenal\/","title":{"rendered":"Meniti Karier Itu Harus Pelan, Nggak Usah Ngebet Pengin Terkenal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah minggu sebelumnya disambangi Mustofa, kawan nyantri Kang Salim dan Misbah yang sekarang jadi redaktur surat kabar terkenal, siang itu keduanya ketamon kawan nyantrinya yang lain lagi, Danang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan siang itu Danang baru saja kelar membuat konten video review makanan khas daerah situ. Ia sengaja mampir ke rumah Kang Salim dan Misbah setelah mengetahui alamatnya dari Mustofa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHla yo bejo kamu, Nang. Tadi pagi kami baru saja panen rambutan di kebun belakang,\u201d sambut Misbah saat Danang tiba di kediaman Kang Salim dan Misbah. \u201cMantep tenan ini diganyang sambil ngobrol-ngobrol santai di cangkruk.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKebetulan juga saya tadi ke warung lontong Tuyuhan yang legend itu loh, Mis. Ini saya bungkus buat disantap bareng-bareng,\u201d timpal Danang sembari menyodorkan bungkusan plastik hitam di tangan kanannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSikaaattt, Bos. Dibikin satu nampan gitu makin gayeng kayaknya,\u201d usul Kang Salim. \u201cItung-itung nostalgia jaman di pesantren dulu, hehehe.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, ketiganya menyantap lontong Tuyuhan dalam satu nampan dengan lhab-lheb, sampai tandas tak bersisa sama sekali. Bahkan sisa kuahnya pun turut disombor Misbah dengan ganas, sebagaimana kebiasaannya dulu kalau lagi makan ramai-ramai di pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usai makan, sambil mencomot satu per satu rambutan yang tersaji, Danang kemudian membuka obrolan dengan pertanyaan, \u201cSampean udah pada tahu belum kalau Mustofa sekarang jadi redaktur di koran terkenal?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan tersebut terbesit di benaknya setelah beberapa saat sebelumnya Kang Salim menyinggung soal Mustofa yang baru saja main ke rumah minggu lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSementara saya. Duh, bikin konten video udah tahunan, tapi kok ya nggak terkenal-terkenal channel saya ini,\u201d keluh Danang tiba-tiba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi konten-kontenmu itu bagus loh, Nang,\u201d aku Misbah. \u201cJangan salah, saya ini sering kok ngikutin konten-konten video yang kamu up. Lebih-lebih yang review tempat-tempat horor. Saya sering nyimak kalau itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBagus itu lak menurut kamu tho, Mis,\u201d respons Danang lesu. \u201cKamu bilang gitu hanya karena saya ini temen sampean saja, bukan karena konten saya bener-bener bagus. Iya tho, Mis?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar ucapan Danang yang demikian, Misbah agak tersentak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLoh, loh, loh. Serius bukan gitu, Nang. Hla wong emang kontenmu itu bagus-bagus, kok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau konten saya bagus, kok kayak-kayak susah banget buat ngangkat,\u201d keluh Danang lagi. \u201cPadahal saya udah banyak evaluasi dan eksplorasi banyak hal. Saya malah jadi kepikiran, apa saya harus improve bikin konten prank sampah atau jual keperawanan gitu ya biar cepet viral.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNang, saya mau nanya, nih,\u201d Kang Salim menengahi sembari tangannya menimang-nimang sebuah rambutan. \u201cUmpama pengin punya pohon rambutan yang rimbun dan berbuah ranum gitu, kira-kira apa yang perlu dilakukan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah bisa menebak arah pertanyaan Kang Salim, Danang pun menjawabnya dengan sedikit kikuk. \u201cAnu, anu, Kang, ya harus menanam benihnya di tanah yang cocok. Habis itu disiram terus, kalau perlu dipupuki, sampai akhirnya nanti bakal tumbuh pohon rambutannya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah, gitu itu apa tumbuhnya langsung instan, Nang?\u201d sentil Kang Salim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHehehe, ya nggak tho, Kang. Harus sabar dan konsisten merawat benihnya dulu. Sedikit-sedikit, nanti tiba masanya benih tersebut tumbuh jadi pohon rambutan berbuah lebat seperti punya sampean ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat gerak tubuh Danang yang agak kikuk karena secara tak langsung telah menjawab keresahannya sendiri, Misbah cengar-cengir dari pojok cangkruk, sambil tak henti-hentinya mengganyang rambutan yang manisnya masya Allah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau begitu, tetep sabar dan konsisten saja lah, Nang,\u201d ucap Kang Salim dengan menyunggingkan senyum. \u201cKalau kata Ibnu Ajibah, rata-rata keberhasilan seseorang itu justru dimulai dari situasi khumul, situasi titik nol. Yaitu situasi ketika seseorang harus suquuth al-manzilah inda al-nas: nggak dianggap atau nggak dilihat sama sekali oleh orang lain.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh, saya inget maqalah itu, Kang,\u201d sahut Misbah tiba-tiba. \u201cIntinya, kalau pengin berhasil, maka tindakan pertama yang harus dilakukan itu kerja keras, mengerjakannya dengan pelan-pelan, tekun dan penuh komitmen, serta harus dibarengi dengan puasa dulu dari popularitas dan sorot publik. Pokoknya, nggak usah buru-buru pengin terkenal dulu lah, Nang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEmang kenapa kalau awal-awal udah ngebet pengin terkenal?\u201d protes Danang. \u201cBukankah itu justru bisa jadi pelecut semangat, tho, Mis?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, mana? Nyatanya kamu malah putus asa gitu, og. Malah terbesit buat lewat jalur alternatif, bikin konten-konten sampah. Hayooo,\u201d balas Misbah yang langsung membuat Danang menundukkan wajah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNang, ilustrasi sederhananya ya dari kasus nanem pohon rambutan tadi itu, loh. Dan kamu udah tahu jawabannya,\u201d Kang Salim kembali berujar setelah menelan kunyahan rambutan di mulutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang dikatakan Misbah tadi itu juga masuk banget, Nang. Yang kalau dibahasakan pakai dawuhnya Ibnu Athaillah, jadinya itu gini, \u2018Kuburlah dirimu di dalam bumi khumul; bumi ketidaktenaran. Sembunyikan dirimu atau proses kerjamu dari perhatian orang banyak. Sebab, pohon besar yang menghasilkan buah yang banyak bermula dari benih kecil yang ditanam dan tersembunyi di dalam tanah.\u2019 Pelan-pelan, nggak usah terburu-buru, apalagi sampai ngambil langkah sembrono. Sekarang terus tekun berkarya saja. Lebih awet orang yang terkenal lantaran prestasi dan kualitas karyanya kok ketimbang yang hanya moncer lewat sensasi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya sih, Kang. Udah banyak kasus artis, penyanyi, atau YouTuber yang tanpa proses kreatif yang panjang tapi tahu-tahu jadi viral,\u201d kini Danang mulai tercerahkan. \u201cDan kebanyakan emang mendompleng sensasi yang mereka buat-buat. Tapi umur kariernya juga nggak panjang sih, Kang. Ujung-ujungnya juga ngilang dari peredaran.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIyap, betul banget. Banyak juga contoh kalangan artis, musisi, atau yang lain-lain bisa eksis sampai hari ini,\u201d imbuh Misbah. \u201cItu karena mereka memulainya bener-bener dari titik nol, dari keadaan khumul yang dibarengi dengan ketekunan, komitmen, konsistensi berlatih, dan kerja keras. Bener begitu, Kang?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMantep sekali kawan saya ini,\u201d ujar Kang Salim sambil menggeleng-gelengkan kepala kepada Misbah. \u201cHasilnya bakal kelihatan tho, Mis, Nang. Penyanyi yang terkenal setelah melewati proses latihan yang lama, pasti bakal awet. Karena dia memperhatikan betul kualitas karyanya. Begitu sebaliknya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIbnu Athaillah yang kemudian disarahkan oleh Ibnu Ajibah juga menyebut, khumul sama maknanya dengan proses uzlah, mengisolasi diri dari keramaian,\u201d lanjut Kang Salim. \u201cDari uzlah inilah seseorang akan mengambil langkah besar dan prestisius dalam hidupnya. Seperti Kanjeng Nabi yang setelah uzlah kemudian jadi sayyidu al-anbiya, pemimpin para Nabi, penyempurna ajaran-ajaran Tuhan. Namun dengan catatan, harus uzlah bi al-fikrah, uzlah dengan tafakur dan penuh perenungan. Karena tanpa itu, kata Ibnu Ajibah, uzlahmu hanya menyepi biasa, tanpa menghasilkan efek apa-apa bagimu sendiri, apalagi buat sekitarmu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa maksud sampean, proses khumul saya; pelan-pelan dalam meniti karier, nggak keburu pengin viral dan terkenal itu, bakal sia-sia belaka jika tanpa saya barengi dengan perenungan, saya berkarya ini sebenernya buat apa dan untuk siapa?\u201d respons Danang. \u201cProses khumul saya nggak akan ada hasilnya jika saya nggak mengikutinya dengan ketekunan, komitmen, dan kerja keras. Begitu, Kang?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kang Salim mengangguk membenarkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu pasti akan menikmati gemerlap popularitas kok, Nang, kalau udah melewati situasi khumul atau uzlah yang panjang itu,\u201d sambung Kang Salim. \u201cTapi itu hanya bonus, jangan jadikan sebagai tujuan utama kamu berkarya. Mmmm, uzlah bi al-fikrah itu juga bisa dimaknai uzlah pikiran. Mengasingkan atau mengosongkan pikiran dari harapan-harapan duniawi yang kesemuanya itu sesaat belaka, yang sejatinya hanyalah fana.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLantas, apa dong yang harus saya jadikan tujuan utama dalam berkarya?\u201d Tanya Danang. \u201cDan, oh ya, bisa sampean perjelas lagi soal tafsir kedua dari uzlah bi al-fikrah tadi?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDua pertanyaanmu itu, coba tanyakan saja pada Mustofa,\u201d jawab Kang Salim. \u201cMinggu lalu kami udah ngobrol banyak soal itu. Agak panjang kalau harus diulangi lagi sekarang, hahahaha.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWooo, asem tenan sampean ini, Kang,\u201d ujar Danang tidak terima. \u201cSaya udah kadung sepaneng, je.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Kang Salim dan Danang masih beradu mulut, di pojok cangkrung, diam-diam Misbah menandaskan sendiri rambutan di hadapannya yang tinggal tiga biji.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Disadur dari <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi Manusia Rohani<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Ulil Abshar Abdalla.<\/span><\/i><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bekerja-kok-untuk-duit-aneh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bekerja Kok untuk Duit, Aneh<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cKalau kata Ibnu Ajibah, rata-rata keberhasilan seseorang itu justru dimulai dari situasi khumul, situasi titik nol.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":75341,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4316,6431,8657,8658,4516],"class_list":["post-75337","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-karier","tag-khotbah","tag-khumul","tag-sabar","tag-sukses"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75337","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75337"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75337\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75341"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75337"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75337"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75337"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}