{"id":74902,"date":"2020-09-08T16:11:44","date_gmt":"2020-09-08T09:11:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=74902"},"modified":"2026-01-02T19:54:42","modified_gmt":"2026-01-02T12:54:42","slug":"panduan-memahami-spektrum-agnostik-dan-ateis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-memahami-spektrum-agnostik-dan-ateis\/","title":{"rendered":"Panduan Memahami Spektrum Agnostik dan Ateis"},"content":{"rendered":"<p>\u201cAku agnostik!\u201d tulis seorang teman di media sosial. Saya geli sendiri mas-mas ini self-proclaimed begitu. Sepengetahuan saya, dia masih menyebut diksi-diksi religius jika mengalami peristiwa. Entah saat jatuh, dapat uang, atau ditagih cicilan motor. Bagi saya, orang begini lucu-lucu menyebalkan.<\/p>\n<p>Fenomena self-proclaimed ini membuat saya gemas. Sangat sering saya temukan muda-mudi yang bangga mengakui diri sebagai agnostik atau ateis. Bukan karena urusan beginian masih terlarang di Indonesia, melainkan karena banyak yang tidak paham dengan klaim yang diutarakan sendiri. Kayak, ada yang mengaku ateis padahal maksudnya agnostik, vice versa.<\/p>\n<p>Teis dan gnostik mah lebih luas dari pengakuan lah. Tulisan ini bukan promosi agar kamu memeluk \u201ckepercayaan untuk tidak percaya\u201d lho ya. Semata-mata ingin meluruskan sesuatu yang salah kaprahnya menjadi cibiran di media sosial aja.<\/p>\n<h2><strong>Arti Kata Ateis<\/strong><\/h2>\n<p>Mari kita pahami arti kata <em>a<\/em><em>teis<\/em>. <strong>Ateis<\/strong> berasal dari kata dasar <em>theos<\/em> yang berarti \u2018tuhan\u2019. Kata ini diberi awalan \u201ca-\u201d yang berarti \u2018tanpa\u2019 sehingga berarti \u2018tanpa tuhan\u2019. Ateis adalah sudut pandang yang tidak mempercayai eksistensi tuhan berikut segala bentuk supranatural.<br \/>\nPokoknya, segala bentuk deitis (sosok spiritual) tidak akan dipercaya seorang ateis. Baik tuhan, dewa, setan, sampai roh manusia.<\/p>\n<p>Seorang ateis akan menolak hal-hal spiritual seperti jodoh yang ada sejak lahir. Jadi wajar jika seseorang yang patah hati bisa self-proclaimed menjadi ateis. Setidaknya, patah hati yang dialami punya alasan \u201ctidak ada jodoh dari lahir, cinta tidak lebih dari urusan hormonal\u201d. Terlihat lebih sangar.<\/p>\n<h2><strong><em>Apa itu Agnostik<\/em><\/strong><\/h2>\n<p>Sedangkan <strong><em>agnostik<\/em><\/strong> memiliki arti berbeda. Kata dasar agnostik adalah <em>gnosis<\/em> yang berarti \u2018pengetahuan\u2019. Kata <em>gnosis<\/em> ini merujuk pada pengetahuan spiritual. Nah, awalan \u201ca-\u201d yang berarti \u2018tidak\u2019 atau \u2018tanpa\u2019 menyebabkan agnostik berarti \u2018tanpa pengetahuan\u2019.<\/p>\n<p>Situasi \u201ctanpa pengetahuan\u201d yang dimaksud kaum agnostic adalah penolakan terhadap segala bentuk ajaran spiritual. Seorang agnostik memandang segala bentuk spiritualitas sebagai hal yang tidak dapat dipahami manusia. Mereka percaya bentuk-bentuk spiritual itu ada, tapi tidak bisa diejawantahkan. Biasanya, agnostik akan disematkan pada individu yang malas beribadah tapi masih percaya adanya hal-hal gaib.<\/p>\n<p>Sebenarnya, kedua konsep ini berbeda satu sama lain. Theos\/teis bicara di sekitar ada tidaknya eksistensi hal-hal spiritual. Sedangkan gnosis\/gnostik berbicara tentang cara kita mengetahui atau bagaimana kita tak akan pernah bisa menjangkau\/mengetahui hal-hal spiritual (ke-ruh-an). Apakah ada ateis yang gnostik? Atau agnostik yang teis? Tahan dulu rasa penasaran Anda. Memahami irisan ini akan lebih rumit dari sekadar self-proclaimed para filsuf milenial tadi.<\/p>\n<p>Kita memiliki 4 kata: teis, gnostik, ateis, dan agnostik. Dari keempat kata ini, sudut pandang seseorang perihal spiritualitas bisa dipisahkan menjadi empat jenis. Sederhananya, gabungkan saja konsep teis dan gnostik. Sebab, perkara bentuk-bentuk spiritual dan konsep ajaran spiritual akan saling beririsan. Berikut adalah 4 sudut pandang dalam memahami bentuk-bentuk spiritual.<\/p>\n<h2><strong>#1 Gnostik Teis<\/strong><\/h2>\n<p><strong>Gnostik Teis<\/strong> adalah sudut pandang seseorang yang percaya adanya bentuk spiritual beserta ajaran spiritual. Mudahnya, Teis Gnostik adalah orang beragama. Selain orang beragama, Teis Gnostik juga merujuk pada orang-orang yang memiliki kepercayaan spiritual non-agama mainstream. Orang-orang yang masih melakukan komunikasi spiritual seperti meditasi atau pemujaan termasuk dalam golongan ini.<\/p>\n<h2><strong>#2 Agnostik Teis<\/strong><\/h2>\n<p><strong>Agnostik Teis<\/strong> adalah sudut pandang seseorang yang percaya adanya bentuk spiritual namun tidak percaya pada konsep pengetahuannya. Inilah yang sering disebut agnostik di media sosial. Sudut pandang ini tetap memberi tempat pada unsur spiritual meskipun bisa menolak atau meragukan adanya bentuk spiritualitas ala agama seperti tuhan dan dewa. Agnostik Teis memandang bahwa bentuk spiritual tidak dapat dipahami atau dipelajari seperti yang terjadi dalam agama.<\/p>\n<h2><strong>#3 Gnostik Ateis<\/strong><\/h2>\n<p><strong>Gnostik Ateis<\/strong> adalah sudut pandang ketika seseorang tidak percaya adanya bentuk spiritual namun masih mengakui adanya ajaran spiritual. Lho kok bisa? Jadi, Gnostik Ateis menolak eksistensi spiritual karena adanya ajaran spiritual. Sudut pandang ini yakin 100 persen bentuk-bentuk spiritual tidak pernah ada. Pada saat yang bersamaan, ketidakpercayaan ini berawal dari penerimaan pada pengetahuan spiritual. Sudut pandang inilah yang dianggap sebagai Ateis pada umumnya.<\/p>\n<h2><strong>#4 Agnostik Ateis<\/strong><\/h2>\n<p><strong>Agnostik Ateis<\/strong> bisa dianggap sebagai puncak dari ketidakpercayaan. Sudut pandang ini tidak mempercayai adanya bentuk spiritual karena merasa bentuk spiritual memang tidak ada. Agnostik Ateis sering dianggap sebagai lawan dari Gnostik Ateis. Berbeda dengan Gnostik Ateis, Agnostik Ateis meragukan pengetahuan perkara spiritual karena memang meragukan atau menolak adanya eksistensi spiritual.<\/p>\n<p>Bagaimana, apakah Anda makin pusing? Memahami spektrum perkara kepercayaan memang tidak semudah self-proclaimed seseorang di media sosial. Dan karena tulisan ini bukan sebagai promosi sebuah ajaran, silakan memahami konsep ini sebagai pengetahuan. Minimal dengan memahami spektrum ini, Anda bisa menyinyiri teman-teman yang merasa koar-koar sebagai agnostik maupun ateis itu keren.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/ack\/esai\/kalau-saya-menyembah-pohon-anda-mau-apa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kalau Saya Menyembah Pohon, Anda Mau Apa?<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Prabu Yudianto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang yang suka pamer bahwa dirinya ateis atau agnostik itu menggelikan. Soalnya mereka sendiri nggak bisa bedain kedua istilah tersebut.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":76085,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[78,2721,7627],"class_list":["post-74902","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-agama","tag-agnostik","tag-ateis"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74902","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=74902"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74902\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76085"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=74902"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=74902"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=74902"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}