{"id":74631,"date":"2020-09-05T18:29:45","date_gmt":"2020-09-05T11:29:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=74631"},"modified":"2020-09-05T18:29:45","modified_gmt":"2020-09-05T11:29:45","slug":"pengalaman-saya-jadi-teman-orang-yang-dikucilkan-pergaulan-kampus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-jadi-teman-orang-yang-dikucilkan-pergaulan-kampus\/","title":{"rendered":"Pengalaman Saya Jadi Teman Orang yang Dikucilkan Pergaulan Kampus"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya ditanya, hal paling heroik apa yang pernah saya lakukan selama kuliah, jawabannya adalah menemani orang-orang yang dikucilkan dalam pergaulan kampus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah di Fakultas Ilmu Sosial ternyata nggak menjamin bakal menemukan lingkungan sosial yang sehat. Kepekaan sosial sebagai pembelajar ilmu sosial juga nggak bisa diharapkan. Semua orang hanya peduli circle masing-masing. Parahnya lagi, berkembang stigma bahwa mereka yang nggak punya circle adalah manusia aneh. Jadilah orang-orang yang telanjur nggak punya temen terus dijauhi bahkan sampai dikucilkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya fenomena seperti itu bukanlah hal baru. Selama sekolah saya sering menemukan pola yang menjurus pengucilan teman. Tapi nggak sekejam realitas kampus. Di sekolah mereka yang nggak bergaul mentok dicengin sana-sini. Untungnya nggak sampai dianggap aneh. Teman yang lain juga nggak sampai merasa malu bergaul dengan dia. Ada jaga jarak, tapi pendek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana saya bisa bersahabat dengan teman yang dikucilkan pergaulan kampus, begini ceritanya\u2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bukan tipe yang susah nyari teman, juga nggak pernah insecure dengan lingkungan. Beri saya lima menit, saya bisa dapat tiga teman baru. Kalau mau bluffing, kurang lebih kayak gitulah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ospek, saya sudah berteman (atau lebih tepatnya kenalan) dengan banyak orang lintas jurusan bahkan fakultas. Begitu pun di awal masa kuliah, saya mudah akrab sana-sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seminggu lebih berjalan, saya mulai sadar ada satu teman mahasiswa yang nggak mendapat tempat dalam pergaulan. Bukan dia nggak mau bergaul, memang nggak ada yang mau bergaul dengan dia. Dia akhirnya minder, sadar diri dijauhi, lalu nggak berani mendekat ke mana-mana. Ia selalu tampak sendiri. Duduk di kursi paling depan. Datang sendiri. Pulang sendiri. Ke mana-mana sendiri. Teralienasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah membaca pendapat sosiolog Emile Durkheim bahwa ada hubungan antara integrasi sosial dan kecenderungan orang bunuh diri. Durkheim merumuskan empat tipe bunuh diri, salah satunya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">egoistic suicide.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Tipe bunuh diri ini dipengaruhi oleh integrasi sosial yang terlalu lemah, seperti tidak memiliki ikatan sosial di lingkungan, punya perasaan teralienasi dalam waktu yang panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari kesadaran itu, saya jadi berempati dengan orang-orang yang terdisintegrasi di lingkungan sosialnya. Bisa jadi dia bakal bunuh diri. Bisa jadi juga dia bakal berhenti kuliah. Atau bisa jadi dia bakal tersiksa secara psikologis selama bertahun-tahun. Itu hal-hal yang akhirnya mengganggu pikiran saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lalu memutuskan untuk membersamai teman yang dikucilkan karena dianggap aneh ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang terjadi kemudian adalah pertanyaan dan saran dari teman-teman lain. Satu teman memberi nasihat, \u201cJangan bergaul sama dia (si teman yang dikucilkan), nanti kamu dianggap golongan dia terus dijauhi orang-orang.\u201d Dan memang itu yang terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa bulan lalu saya menonton satu drama Korea, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Crash Landing on You<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Di episode 13, Yoon Se-ri menangis ketika sampai rumah karena mengira Ri Jeong-hyeok sudah pergi, pulang ke Korea Utara. Sebelum itu Se-ri memang sempat mendengar obrolan Jeong-hyeok dengan Man-bok. Se Ri tahu kedatangan Man-bok dan kawan-kawan untuk menjemput pulang Jeong Hyeok karena posisi ayahnya terancam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Se Ri khawatir itu benar-benar terjadi. Makanya Se Ri tetap menyarankan agar Jeong Hyeok segera pulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dialognya begini: \u201cAda yang namanya<\/span><a href=\"https:\/\/www.urbandictionary.com\/define.php?term=Bambi%20Syndrome\"> <span style=\"font-weight: 400;\">sindrom Bambi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Saat seekor bayi rusa bertemu manusia di gunung, ia akan dibelai karena manis. Tapi, begitu manusia pergi, bayi rusa itu tak bisa kembali ke keluarganya. Karena aroma manusia yang melekat di tubuhnya, keluarganya menolaknya. Bayi rusa itu ditolak kawanannya hingga akhirnya mati.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dialog itu menggambarkan kekhawatiran Se Ri jika Jeong Hyeok tetap tinggal di Korea Selatan. Kemungkinan akan dikucilkan oleh keluarganya maupun teman-temannya, lalu mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering kali kita tidak sadar pengucilan bisa berujung bunuh diri atau hal-hal fatal lainnya. Ketidaksadaran ini akhirnya memicu anggapan bahwa pengucilan itu biasa dan nggak akan berpengaruh apa-apa.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/corak\/curhat\/dilema-karyawan-yang-dikucilkan-bos-di-kantor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dilema Karyawan yang Dikucilkan Bos di Kantor<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-rohman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Rohman<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keputusan menemani orang yang dikucilkan datang dari bacaan. Menurut Emile Durkheim, ada hubungan antara integrasi sosial dan bunuh diri.<\/p>\n","protected":false},"author":633,"featured_media":75533,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[315,8677,921,249],"class_list":["post-74631","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bunuh-diri","tag-dikucilkan","tag-kampus","tag-pertemanan"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74631","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/633"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=74631"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74631\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75533"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=74631"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=74631"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=74631"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}