{"id":74200,"date":"2020-08-31T12:24:18","date_gmt":"2020-08-31T05:24:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=74200"},"modified":"2020-08-31T12:23:45","modified_gmt":"2020-08-31T05:23:45","slug":"6-jenis-ibu-ibu-yang-selalu-ada-di-grup-whatsapp-pkk-desa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-jenis-ibu-ibu-yang-selalu-ada-di-grup-whatsapp-pkk-desa\/","title":{"rendered":"6 Jenis Ibu-ibu yang Selalu Ada di Grup WhatsApp PKK Desa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keunikan ibu-ibu nyatanya tidak hanya ada di jalan raya. Mereka ada di mana saja, menyebar di seluruh alam raya. Keunikan mereka tidak hanya tersebar secara langsung, namun merambah ke jagad baru bernama media sosial, terutama WhatsApp. Melalui studi mendalam dengan melihat grup WhatsApp PKK Dasawisma ibu saya. Btw saya pernah ditugaskan untuk mengirim sebuah video di grup mereka. Setidaknya saya bisa mengamati, ada beberapa jenis ibu-ibu yang selalu ada dan meriuhkan suasana grup tersebut.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Pertama, jenis ibu-ibu suka berdagang. <\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sangat apresiasi ibu-ibu jenis ini karena berkat mereka, intensitas ibu saya keluar rumah untuk belanja bisa berkurang. Karena kedekatan jarak, ia bisa melakukan servis antar belanjaan tanpa menambah biaya tambahan. Yang bikin bingung, ketika intensitas barang yang dijual makin banyak, ibu saya jadi nggak tahu cara menolak yang baik. Masa mau belanja terus sih?!<\/span><\/p>\n<h4><strong>Kedua, jenis ibu-ibu toksik. <\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis yang ini sungguh menyebalkan. Mungkin dalam pergaulan, sejak kecil orang ini tidak punya teman. Masalahnya sepele, yakni ketika ada ibu-ibu yang berdagang, ibu-ibu jenis ini langsung nimpali begini, \u201clho harga jambunya 20 ribu, Jeng? Padahal saudara saya jual cuma 15 ribu aja. Kualitasnya bagus, merah ranum pula jambunya. Minat PM, Gan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seriusan, ibu-ibu jenis seperti ini, jika ada di sebuah marketplace Facebook, ia langsung akan dikeluarkan karena price police yang keterlaluan. Untungnya, di grup PKK tidak mengenal apa yang namanya price police, namun sanksi sosial berupa digrenengi ibu-ibu satu kampung. Ibu-ibu seperti ini jumlahnya tidak hanya satu atau dua, namun banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lagi contoh lain, misal ada ibu-ibu yang membagikan foto seputar hobi bercocok tanam. Ibu-ibu toksik bakal nongol lagi dan bilang, \u201cDua bulan kok belum keluar jeng buahnya? Kan umumnya kangkung bakal panen cepat, kok punya Jeng Ida lama, ya?\u201d\u00a0 Orang kayak gini biasanya, tidak senang melihat ibu-ibu lain bahagia dan punya hobi. Alias sirik aja lu, Bu.<\/span><\/p>\n<h4><strong>Ketiga, jenis ibu-ibu penjilat. <\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rumah saya belakangan jadi tempat anak-anak dan ibu-ibu bermain. Barangkali karena nyaman dan banyak tanaman. Jadi selama menyiram tanaman, saya mendengar obrolan para ibu-ibu tanpa saya sengaja. Sumpah, kedengeran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ibu-ibu yang satu ini cukup endemik dan nyebelin. Di grup WhatsApp, ketika ada ibu-ibu pamer gelar anak, ibu-ibu jenis yang satu ini bakal jawab, \u201cWah, selamat ya buat anaknya Ibu Rosida. Semoga menjadi sarjana yang baik dan amanah untuk masyarakat. Mas Adib niku idola saya pokoknya. Di desa baik, jebul pinter pula.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu-ibu yang sama, omongan di halaman rumah saya pun berbeda. Ia bilangnya begini, \u201cMas Adib anaknya Bu Rosida itu katanya nyogok dosen lho, Jeng, biar bisa lulus.\u201d Aneh memang, tadinya muji-muji, di kesempatan lain justru mencela. Tapi yang seperti ini nyatanya masih ada. Endemik seperti Harimau Sumatera. Bedanya ibu-ibu jenis ini nggak usah dirawat di penangkaran, biar langka dan menjadi punah sekalian.<\/span><\/p>\n<h4><b>K<\/b><strong>eempat, jenis ibu-ibu bijak. <\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang membuat saya terenyuh sekaligus beruntung bahwa ibu saya masih punya kawan yang sedikit nggenah. Contoh nyatanya ketika ibu-ibu desa saya berdebat mengenai arisan. Satu kubu menyatakan arisan kembali diadakan, satu kubu pun menasehati dengan bijak dan sabar. Begini transkrip chat-nya; \u201cDitahan dulu ibu-ibu, rasa kangennya. Pandemi belum selesai je soalnya. Takutnya kan ada yang berpotensi membawa pandemi ini. Apalagi kita nggak tahu kegiatan ibu-ibu lain sebelum kumpul-kumpul.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ada jenis ibu-ibu bijak seperti ini, pasti ada jenis antagonisnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>Nah, keenam, lawan dari ibu-ibu bijak adalah jenis ibu-ibu garda terdepan. <\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu-ibu yang ini nggak mau ikut arus. Ia memaksa untuk tetap mengadakan arisan. Biasanya ia akan menjawab dengan sindiran nyelekit, \u201cIbu-ibu, mari kita kedepankan rasa solidaritas. Caranya apa? Ya, arisan to~\u201d Biasanya di akhiri dengan emoticon toss sepuluh biji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya ibu-ibu begini memiliki circle yang kuat. Komplotannya, akan mendukung dengan suka cita dan gegap gempita.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-harus-memiliki-muatan-positif-dan-negatif-sebagai-alat-masturbasi-kelompok-tertentu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Film Harus Memiliki Muatan Positif dan Negatif sebagai Alat Masturbasi Kelompok Tertentu<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya pernah ditugaskan untuk mengirim sebuah video di grup WhatsApp PKK ibu-ibu. Setidaknya saya bisa mengamati jenis ibu-ibu di alam raya.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[622,2595],"class_list":["post-74200","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-emak-emak","tag-grup-whatsapp"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74200","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=74200"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74200\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=74200"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=74200"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=74200"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}