{"id":74152,"date":"2020-09-03T06:00:02","date_gmt":"2020-09-02T23:00:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=74152"},"modified":"2020-09-03T05:01:28","modified_gmt":"2020-09-02T22:01:28","slug":"bahasa-medan-yang-berkali-kali-bikin-saya-putar-eh-pusing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-medan-yang-berkali-kali-bikin-saya-putar-eh-pusing\/","title":{"rendered":"Bahasa Medan yang Berkali-kali Bikin Saya Putar, eh, Pusing"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah menikah dengan seorang wanita yang berasal dari Medan. Ia sudah tinggal di Medan sejak lahir hingga lulus SMA. Oleh karena itu, wajar saja jika ia sudah terbiasa dengan kultur di sana. Bagaimana caranya bersosialisasi satu sama lain, gaya bicara dengan logat yang khas, termasuk penggunaan bahasa Medan yang mungkin sudah sering kalian dengar, mungkin juga belum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awal mula pertemuan kami, saya harus beradaptasi dengan beberapa kosakata yang ia ucapkan ketika berbicara, karena memiliki makna berbeda dari kosakata bahasa Indonesia sesuai KBBI. Semacam gegar budaya tersendiri bagi saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya saja, penggunaan kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kereta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sepeda motor<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Di Medan, orang-orang terbiasa menyebut sepeda motor dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kereta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Awalnya terdengar rancu bagi saya. Saya pikir, kereta ini maksudnya KRL atau commuterline. Meski tidak sepenuhnya salah jika menyebut sepeda motor dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kereta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dalam KBBI, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kereta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki makna \u2018kendaraan yang beroda (biasanya ditarik oleh kuda)\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klean pikir sudah selesai dan berhenti di kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kereta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawabannya, tentu saja belum. Meski saya sudah saling mengenal dengan istri total selama tujuh tahun, masih ada beberapa kosakata lain yang harus saya pahami, pelajari, dan dicerna lebih lanjut ketika istri juga keluarga besarnya sedang mengajak saya untuk berbincang agar tidak terjadi salah kaprah berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa kosakata yang saya maksud, antara lain:<\/span><\/p>\n<h4><b>Bahasa Medan #1 \u201cCocok ko (kau) rasa?\u201d = \u201cMenurutmu bagaimana?\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir, ketika ditanya, \u201cCocok ko rasa?\u201d pertanyaan tersebut lebih merujuk kepada ketika saya mencicipi suatu makanan tertentu dan ditanya soal rasanya bagaimana. Enak atau tidak, sesuai selera atau tidak. Namun, dugaan saya salah. Ternyata, pertanyaan ini lebih merujuk kepada bertanya soal pendapat dan digunakan pada saat berdiskusi satu sama lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mangkanya, saya sempat keliru dalam menjawab pertanyaan tersebut. Sebelum saya mengetahui maksudnya, saya malah menjawab, \u201cEnak-enak aja, kok.\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>Bahasa Medan #2 \u201cCo\u2019 (coba) ko apakan lah itu!\u201d = \u201cTolong dicek\/diperbaiki\/dirapikan dulu itu!\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kali pertama saya mendengar kalimat ini adalah pada saat kondisi rumah berantakan karena sebelumnya bermain mobil-mobilan dengan anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kondisi rumah yang berantakan, istri saya berkata, \u201cCo\u2019 ko apakan lah itu!\u201d Sambil keheranan, dengan polosnya saya malah merespons, \u201cHah? Harus diapain? Emang kenapa?\u201d Istri saya langsung meralat dan menjelaskan, \u201cMaksudku, tolong dirapikan. Ini udah berantakan banget.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ternyata, kalimat ini bisa bermakna ganda. Selain dirapikan, bisa juga bermakna dicek atau diperbaiki. Menyesuaikan kondisi, gitu.<\/span><\/p>\n<h4><b>Bahasa Medan #3 \u201cMaju kali!\u201d = \u201cSombong\/belagu\/tengil\/songong banget!\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini terucap ketika ada seseorang yang sikapnya kurang baik dan bikin nggak nyaman. Entah dari tatapan, ucapannya, juga sikapnya secara langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan lagi-lagi, salah kaprah pun terjadi saat saya mendengar ungkapan ini. Karena yang saya tahu, maju itu ya bergerak ke depan. Tapi, punya makna lain dalam bahasa Medan. Tentu saja ini sebuah pengetahuan dalam berbahasa. Biar nggak salah kaprah dalam berkomunikasi. Hehehe.<\/span><\/p>\n<h4><b>Bahasa Medan #4 Galon minyak = pom bensin, pusing = putar (arah)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kata yang satu ini, situasinya saya bersama istri, juga mama mertua, sedang jalan-jalan menggunakan mobil pribadi. Karena bensin berkurang banyak, mama mertua meminta saya untuk menuju ke galon minyak terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah, lah, lah. Sambil nyetir, saya hanya melongo dan berkata, \u201cHa? Galon minyak itu maksudnya apa, Ma?\u201d Mama mertua saya langsung memberi klarifikasi, \u201cMaksud Mama ke pom bensin. Halah, Mama lupa kau bukan orang Medan. Ya udah, sekarang kita pusing dulu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kan. Belum selesai saya memahami satu kata, sudah muncul kata lain yang maknanya kurang familier bagi saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan sepertinya, sebelum saya bertanya maksudnya bagaimana, Mama mertua saya sudah mudeng bahwa saya kebingungan memahami ucapan tersebut. Itu kenapa, ia segera memberi klarifikasi. \u201cMaksud Mama putar arah, Mama nggak lagi pusing, kok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, rasanya seru juga bisa belajar penggunaan kosakata baru karena menyesuaikan bahasa yang baru pula. Setidaknya, jadi menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang ragam bahasa yang digunakan di Indonesia. Saya cukup yakin, pengetahuan dan penggunaan bahasa ini akan bermanfaat.<\/span><\/p>\n<p><em>Foto oleh Christian Advs Sltg via <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Welcome_gate_to_City_of_Medan_01.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/yrn\/esai\/hal-yang-perlu-anda-ketahui-jika-jatuh-cinta-pada-perempuan-batak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hal yang Perlu Anda Ketahui Jika Jatuh Cinta pada Perempuan Batak<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/setowicaksono\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Seto Wicaksono<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tujuh tahun mengenal istri saya yang besar di Medan dan suka keceplosan bahasa Medan, masih saja saya roaming sama kosakatanya.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":74965,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6078],"class_list":["post-74152","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-medan"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74152","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=74152"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74152\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74965"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=74152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=74152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=74152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}