{"id":73614,"date":"2020-08-27T17:24:39","date_gmt":"2020-08-27T10:24:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=73614"},"modified":"2020-08-27T17:24:39","modified_gmt":"2020-08-27T10:24:39","slug":"melihat-cara-buzzer-polandia-bekerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/melihat-cara-buzzer-polandia-bekerja\/","title":{"rendered":"Melihat Cara Buzzer Polandia Bekerja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tomasz Giemza adalah seorang mahasiswa hukum dari Universitas Warsawa yang harus di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">drop out <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">karena diduga melakukan plagiasi. Alih-alih membuat Facebook seperti Mark Zuckerberg atau meniru kisah sukses mahasiswa DO lainnya, Tomasz Giemza justru menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">buzzer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berpengaruh di Polandia. Eh, ini termasuk karier sukses juga ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, tenang kawan-kawan, buzzer, kalian nggak bakal kalah saing kok. Kalian masih bisa nyakitin perasaan orang-orang dan masih bisa dapet kerjaan. Sebab Tomasz Giemza hanyalah tokoh fiksi di film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Hater<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> produksi Netflix awal Maret lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini bergenre thriller dengan bumbu-bumbu romansa dan problem anak muda pada umumnya: cinta yang nelangsa, kebutuhan akan internet, uang, dan pengakuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tomasz ingin mendapatkan pengakuan dari seorang saudara jauh dan gadis idamannya bahwa dirinya berhasil menjalankan kuliah hukum. Tapi seperti pepatah Cezka, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bagai anjing mengejar duburnya sendiri<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saudaranya itu mengetahui bahwa Tomasz hanyalah seorang penipu yang selama ini menyia-nyiakan kuliahnya. Padahal kuliah Tomasz bukan bayar sendiri, tapi diongkosin keluarga jauhnya yang merupakan salah satu keluarga terkaya di Polandia. Pengakuan tak dapat, kehormatan melayang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah di-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">drop out<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan menjadi buzzer, kita bisa menyaksikan bagaimana buzzer bekerja. Saat jadi buzzer di perusahaan buzzer terkenal di Polandia, Tomasz mampu mengubah persepsi publik terhadap salah satu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">influencer <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kecantikan. Tomasz menggiring publik agar percaya bahwa trik-trik kecantikan influencer itu bisa menimbulkan penyakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana caranya? Tomasz bikin berbagai akun yang pura-pura mengeluhkan penyakit yang sama. Tentu saja itu mampu mengubah persepsi publik terhadap si <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">influencer <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini, dan pada akhirnya si influencer meminta maaf lalu tutup akun. Familier, bukan? Tapi nggak sampe di situ, akibat keberhasilannya ini, Tomasz ingin mencoba jadi buzzer politik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia memutuskan turut ikut karena ternyata si saudara jauhnya ini dekat dengan salah seorang calon wali kota bernama Rudnicki. Singkat cerita, Thomaz berhasil mendapatkan pengakuan dengan cara mencemarkan nama baik Rudnicki lewat akun-akun anon yang mengampanyekan bahwa Rudnicki ingin mengislamisasi Polandia. Tak puas, ia pun mempengaruhi salah satu YouTuber-gamers<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">yang anti sama Rudnicki. Negosiasi pun dilakukan melalui game online yang berujung tragis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan tanpa pelajaran, film ini sebenarnya banyak menggambarkan fenomena yang deket banget sama kehidupan kita sekarang. Kalau dengan pikiran terbuka saat menontonnya kalian masih belum mengerti, itu sih tandanya kalian cuman bisa nikmatin filmnya aja. Atau jangan-jangan kalian sebenernya udah tahu atau bahkan bekerja seperti si Thomaz? Kalau saya lihat komentar-komentar di Mojok sih, saya agak yakin ya ada yang kerjaannya seperti Thomaz, hehe. Jadi, mari kita balik bendera Polandia dan lihat bagaimana buzzer bekerja di negara dengan warna kebalikan bendera Polandia ini. Beda-beda tipis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesamaan lain yang saya khawatirkan dari film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Hater <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini ialah tentang komentar-komentar negatif dan ujaran kebenciaan di kolom komentar. Saya jadi kepikiran, bisa aja sebenernya yang komentar negatif di media sosial kita cuma satu orang dengan banyak akun. Siapa tahu yang kita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">frame <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebagai \u201cnetizen yang budiman\u201d adalah satu orang yang sama, persis yang dilakukan Tomasz Giemza.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi saya nggak mau sesinis itu. Kan orang kita mah ramah-tamah dan murah senyum seperti respons bule-bule kalau ditanya alasan mereka senang tinggal di Indonesia. Nggak mungkinlah sejahat Thomaz.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalaupun mungkin, saya pikir itu bukanlah orang Indonesia, tapi hanya seorang, uhuk, oknum. Maka dari itu, saya saranin sih orang-orang Indonesia yang pernah diserang \u201cnetizen yang budiman\u201d dengan berbagai komentar pedas-pedas yang nyelekit tapi kadang bikin ketawa, mending sans aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya film ini bisa menggambarkan bagaimana si netizen yang budiman ini bekerja dan menyerang kita dengan sederhana. Nggak jelimet dengan bahasa pemograman yang bikin mual dan pening. Yaaa, meskipun di film ini lokasi kerjanya di Polandia, tapi kalau dibalik benderanya, saya pikir sama aja tabiatnya.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Trailer <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=JFcUEjVLQV4\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">The Hater<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/komen\/versus\/ternyata-buzzer-adalah-wujud-kentungan-hidup-di-pos-ronda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ternyata Buzzer Adalah Wujud \u2018Kentungan Hidup\u2019 di Pos Ronda<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ananda-bintang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ananda Bintang<\/a>\u00a0lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film The Hater (2020) produksi Netflix menggambarkan seorang mahasiswa hukum yang banting setir jadi buzzer. Indonesian can relate.<\/p>\n","protected":false},"author":604,"featured_media":73694,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3677,102,2363,8558],"class_list":["post-73614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-buzzer","tag-media-sosial","tag-netflix","tag-the-hater"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=73614"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73614\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/73694"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=73614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=73614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=73614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}