{"id":73464,"date":"2020-09-02T14:22:17","date_gmt":"2020-09-02T07:22:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=73464"},"modified":"2020-09-02T14:22:17","modified_gmt":"2020-09-02T07:22:17","slug":"surat-bambang-sumantri-untuk-bambang-sukrasana-dua-staf-milenial-rezim-arjunasasrabahu-yang-beda-nasib","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-bambang-sumantri-untuk-bambang-sukrasana-dua-staf-milenial-rezim-arjunasasrabahu-yang-beda-nasib\/","title":{"rendered":"Surat Bambang Sumantri untuk Bambang Sukrasana: Dua Staf Milenial Rezim Arjunasasrabahu yang Beda Nasib"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh Sukrasana, adikku. Piye kabarmu, Le? Ini kakangmu, Bambang Sumantri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seandainya insiden di Taman Sriwedari itu nggak pernah terjadi, wah pasti pagi ini kita masih bisa kongkow-kongkow berdua di dahan jambu monyet tepi telaga di ujung Dukuh Argasekar. Sambil rasan-rasan soal apa saja, dan sesekali mengganggu kucing kawin yang nggak tahu tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kamu lahir, aku sempat bertanya kepada ibu kita, Dewi Darini, \u201cKita sekandung, sedarah, tapi kenapa kita amat sangat berbeda?\u201d Aku terlahir nyaris sempurna sebagai pria gagah dan rupawan. Sementara kamu, sori, pendek tambun dan punya wajah yang mirip raksasa. Oh adikku, jangan anggap pernyataanku ini sebagai bentuk body shaming, ya. Aku nggak bermaksud demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban Ibu waktu itu singkat saja, Le. Katanya, \u201cBerbeda tapi toh tetap satu juga.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan penjelasan lain yang kuperoleh dari bapak kita, Resi Suwandagni, katanya kamu terlahir seperti itu lantaran kutukan dewata kepada Ibu. Pasalnya, ibu kita ini ketika dalam masa pertapaan nggak sabaran dan gampang ngeluh. Sikap yang membuat dewata geram dan akhirnya menimpakan hukuman pada janin yang sedang ia kandung. Janin yang kemudian terlahir sebagai dirimu, Sukrasana, adikku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh Sukrasana, adikku. Seandainya kita nggak pernah kepincut buat jadi staf milenial di rezim Arjunasasrabahu di Maespati, mungkin hari ini kita masih bareng-bareng. Menikmati pagi di sebuah gumuk belakang rumah sambil berburu kalau-kalau ada kijang yang berkeliaran. Dan sore harinya, seperti biasa, kita akan sama-sama mendengar Bapak mewejang di sela-sela berlatih ilmu kanuragan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku akui, kamu adalah pembelajar yang ulet. Kamu bisa menangkap wejangan Bapak dengan sekali dengar saja. Kau bisa mempraktikkan jurus-jurus yang bahkan hanya diperagakan Bapak hanya dalam sekali gerak. Yah, itu semua adalah modal berharga untuk mem-backup kekurangan fisikmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku memberanikan menulis obituari ini, Le, agar orang-orang tahu bahwa kamulah tokoh di balik pencapaian-pencapaian bombastis Republik Maespati. Terutama agar pihak kepresidenan tahu yang sebenar-benarnya, bahwa kamu bukan setan penunggu Taman Sriwedari seperti yang kadung dinarasikan Dewi Citrawati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu masih ingat? Waktu itu kita adalah dua pemuda idealis yang pengin mengabdi demi bangsa dan negara. Akhirnya, kita berdua sepakat berangkat ke Maespati. Kamu memintaku menghadap Prabu Arjunasasrabahu untuk mengajukan diri masuk ke dalam jajaran staf milenial kerajaan. Sementara kamu hanya akan bekerja dari belakang layar. Tanpa jabatan politis, tanpa legalitas apa pun. Itu lah yang kamu kehendaki sendiri, adikku. Bukan atas dasar kemauanku sepihak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSepi ing pamrih, rame ing gawe (nggak banyak pamrih, tapi banyak bekerja),\u201d begitu tuturmu waktu itu. Alhasil, beberapa capaian bombastis Maespati seolah-olah adalah hasil jerih payahku sendiri. Meski peranmu nyata-nyata jauh lebih besar dari yang pernah bisa aku lakukan. Tapi itu kan permintaanmu sendiri tho, Le?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Termasuk ketika Prabu Arjunasasrabahu menitahku untuk melamarkan Dewi Citrawati, putri raja Magada, Prabu Citradarma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, Le, Sukrasana. Kamu inget nggak, berapa raja yang pada saat itu turut hadir ke Magada buat melamar? Ada sekitar seribu raja, yang salah satunya adalah Prabu Darmawisesa dari Negara Widarba. Raja ini bahkan sudah memberi ultimatum, jika lamarannya ditampik, dia yang kemudian bersekutu dengan 70 raja lainnya nggak akan segan-segan mengobrak-abrik Magada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sialnya, pas aku sampai di istana kerajaan, Prabu Citradarma malah mengutusku untuk membereskan perkara pelik itu. Dengan iming-iming, boleh memboyong Putri Citrawati ke Maespati bilamana aku berhasil menang. Hla yo mumet tho, Le.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi berkat kerjamu di balik layar, berkat kesaktianmu, seribu raja itu akhirnya malah tumbang satu per satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Termasuk juga soal pemindahan Taman Sriwedari itu. Sebagai hukuman atas kelancanganku pengin menguji kesaktian Prabu Arjunasasrabahu, aku disuruh untuk memindahkan taman Sriwedari dari kahyangan. Sebab itulah yang diinginkan Putri Citrawati yang sudah jadi permaisuri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, lagi-lagi, berkat kerjamu pula akhirnya taman itu berhasil aku\u2014lebih tepatnya kita\u2014boyong ke Maespati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duh, Le, Sukrasana. Hingga akhirnya tragedi itu datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika Putri Citrawati dan para emban kebetulan sedang jalan-jalan di Sriwedari, kau justru berkeliaran di depan mata mereka. Sontak saja mereka kalap dan ketakutan, mengiramu adalah setan penunggu Sriwedari. Keadaan nggak memberiku banyak pilihan, Le, maafkan kakangmu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku ingin membiarkanmu kabur, tapi atas nama reputasi dan profesionalisme, aku juga harus menuruti perintah Sang Prabu untuk melenyapkanmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu nggak salah, Le. Aku sendiri nggak tahu persis apa yang ada di benakmu hingga berani-beraninya kau menampakkan diri di hadapan rombongan Dewi Citrawati. Terlepas itu sengaja atau tidak, tapi harusnya dari awal memang kamu nggak sembunyi. Dari awal orang-orang harusnya tahu bahwa kamu telah bekerja dan berjasa jauh melampaui kekurangan fisikmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Le, tahukah kamu? Saat kabar kematianmu di tangan kakangmu sendiri ini sampai di telinga Bapak dan Ibu, betapa remuk hati mereka. Ibu bahkan sempat berbisik di telingaku, \u201cLe, Sumantri, apakah dalam politik akal sehat dan hati nurani tidak diperlukan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, mbuhlah. Aku kembali ke Maespati dielu-elukan bak pahlawan. Padahal di hadapan Ibu dan Bapak, oke fisikku sempurna, tapi nuraniku cacat dan buruk rupa. Dan sekarang aku pengin bertanya kepadamu, adikku. Seperti apakah aku di matamu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kutunggu jawabanmu pada mimpi malam nanti, Le. Itu pun kalau aku nggak sedang bergadang. Sebagai staf milenial rezim Arjunasasrabahu, aku masih harus kerja, kerja, dan kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salam dari Sumantri, kakangmu. Semoga kamu bahagia di Swargaloka.<\/span><\/p>\n<p><em>Foto oleh FaizAttariqi via <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Pertunjukan_Wayang_Kulit.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/antasena-dan-wisanggeni-pemuda-pilih-tanding-dari-negara-amarta\/\"> <b>Antasena dan Wisanggeni, Pemuda Pilih Tanding dari Negara Amarta<\/b><\/a><b> dan tulisan <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\"><b>Aly Reza<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Oh, adikku Bambang Sukrasana, saat Bapak dan Ibu tahu kamu mati di tangan kakangmu sendiri, Bambang Sumantri ini, hati mereka remuk.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":74855,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8625,8624,8623,8626],"class_list":["post-73464","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-arjunasasrabahu","tag-bambang-sukrasana","tag-bambang-sumantri","tag-cerita-wayang"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=73464"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73464\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74855"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=73464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=73464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=73464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}