{"id":73157,"date":"2020-08-31T14:47:06","date_gmt":"2020-08-31T07:47:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=73157"},"modified":"2020-08-31T14:47:06","modified_gmt":"2020-08-31T07:47:06","slug":"3-lagu-iwan-fals-yang-kalau-diciptakan-sekarang-pasti-rame-kayak-tilik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-lagu-iwan-fals-yang-kalau-diciptakan-sekarang-pasti-rame-kayak-tilik\/","title":{"rendered":"3 Lagu Iwan Fals yang Kalau Diciptakan Sekarang, Pasti Rame kayak Tilik"},"content":{"rendered":"<p>Waktu film <em>Tilik<\/em> ramai diperbincangkan lintas media sosial, saya rada heran: kok bisa ya? Untuk ukuran film pendek, pembahasan film <em>Tilik<\/em> ini bisa dibilang cukup lama. <em>Kucumbu Tubuh Indahku<\/em> saja nggak sampe serame dan selama ini. Ya, meskipun <em>Tilik<\/em> nggak sampe diboikot sih.<\/p>\n<p>Banyak yang mempermasalahkan tafsiran film ini. Ada yang yang mengaitkannya berlawanan dengan semangat feminisme, ada juga ikut ribut dengan mengimbau orang lain agar jangan ribut. Hahaha.<\/p>\n<p>Saya pikir semua respons tersebut sah-sah saja sih. Karya kan bebas diapresiasi pemirsa. Kan orang Indonesia emang gitu, kalau ada sesuatu viral di media sosial, semua orang mendadak jadi begawan. Ahlinya ahli. Terus lama-lama kritiknya udah nggak fokus lagi sama karyanya.<\/p>\n<p>Keramaian <em>Tilik <\/em>yang terutama dianggap bermasalah karena ada tafsir yang menganggapnya misoginis bikin saya berandai-andai. Gimana ya kalau karya-karya zaman dulu diciptakan di masa sekarang? Kok kayaknya berpotensi seramai <em>Tilik<\/em> ya.<\/p>\n<p>Yang saya maksud di sini adalah karya-karya Iwan Fals. Habis, beberapa lagu cinta (yang politis?) milik Bang Iwan sepertinya nggak akan cocok dengan standar zaman sekarang. Lagu mana saja yang saya maksud? Ini dia.<\/p>\n<h4><strong>Lagu Iwan Fals #1 Pesawat Tempur<\/strong><\/h4>\n<p>Sewaktu nonton <em><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=qVb1uyxSGcA\">review Soleh Solihun<\/a><\/em> tentang album Iwan Fals, saya ikut mengiyakan, \u201cEh, bener juga ya.\u201d Soleh bilang, semisal lagu \u201cPesawat Tempur\u201d diciptakan sekarang, lagu ini bisa menyinggung perempuan. Soalnya bisa dibilang lagu ini tuh lagu tentang <em>catcalling<\/em><em>. <\/em>Coba deh baca lirik yang ini.<\/p>\n<p><em>Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitar<br \/>\nSebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu<br \/>\nSeperti kemarin kamu hanya lemparkan senyum<br \/>\n<\/em><em>Lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur<\/em><\/p>\n<p><em>Hey<\/em><em>, kau yang manis<\/em><em>, singgahlah dan ikut bernyanyi<br \/>\nSebentar saja<\/em><em>, <\/em><em>Nona<br \/>\n<\/em><em>Sebentar saja<\/em><em>, hanya sebentar<br \/>\nRayuan mautku tak membuat kau jadi galak<br \/>\nBagai seorang diplomat ulung, engkau mengelak<\/em><\/p>\n<p>Haduh, udah ngerayu tanpa <em>consent<\/em>, si perempuan masih bersikap sopan dengan cuma mengelak pula.<\/p>\n<p><iframe src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/-zYeQyyEVU4\" width=\"853\" height=\"480\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><em>Kalau saja aku bukanlah penganggur<br \/>\nSudah kupacari kau<br \/>\nJangan bilang tidak, bilang saja iya<br \/>\n<\/em><em>Iya lebih baik daripada kau menangis<\/em><\/p>\n<p><em>Lah, dia yang ngerayu, dia yang kepedean. Mungkin akan ada yang merespons begitu.<\/em><\/p>\n<p><em>Oh<\/em><em> ya andai kata dana perang buat diriku<br \/>\nTentu kau mau singgah<\/em><em>, bukan hanya tersenyum<br \/>\nKalau hanya senyum yang engkau berikan<br \/>\nWesterling pun tersenyum <\/em><\/p>\n<p>Lhaaa, kok si Nona dicap matre? Hanya mau mendekat jika si lelaki punya duit?<\/p>\n<p>Kata Soleh, lagu ini bisa dibilang paling komplet dibanding semua lagu Iwan Fals. Soalnya mulai dari masalah pengangguran, peperangan, kekuasaan, sampai menggoda perempuan disebut semua dalam lagu ini. Mungkin inilah jeniusnya Iwan Fals, meskipun saya yakin lagu ini akan didebat kalau diciptakan sekarang.<\/p>\n<h4><strong>Lagu Iwan Fals #2 <\/strong><strong>Mata Indah Bola Pingpong<\/strong><\/h4>\n<p>Lagu ini sebenernya cukup provokatif, di samping banyak metafora romantis untuk memuji seorang perempuan. Berikut reaksi-reaksi yang kayaknya bakal terjadi di setiap baitnya kalau lagu ini diciptakan sekarang.<\/p>\n<p><em>Jangan marah kalau kugoda<\/em><br \/>\n<em>Sebab pantas kau digoda<\/em><br \/>\n<em>Salah sendiri kau manis<\/em><\/p>\n<p><em>Wajar saja kalau kuganggu<\/em><br \/>\n<em>Sampai kapan pun kurindu<\/em><\/p>\n<p>\u201cLoh kok mewajarkan seorang laki-laki menggoda seorang perempuan hanya karena si perempuan manis? Ngawur banget ini,\u201d seseorang bisa berkata begitu.<\/p>\n<p>Atau, \u201cNggak lah, yang harusnya menentukan kepantasan digoda atau nggaknya ya si objek godaannya.\u201d Disusul dengan keluarnya kata-kata mutiara itu: \u201c<em>Please educate yourself<\/em><em>!<\/em>\u201d<\/p>\n<p><iframe src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/vwyO4aCmyDk\" width=\"640\" height=\"480\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><em>Engkau baik<\/em><br \/>\n<em>Engkau cantik<\/em><br \/>\n<em>Kau wanita<\/em><\/p>\n<p>\u201cIh, menilai wanita kok cari baik dan cantiknya doang!\u201d<\/p>\n<p><em>Kau betina<\/em><br \/>\n<em>Bukan gombal<\/em><br \/>\n<em>Aku yang gila<\/em><\/p>\n<p>Nah loh, sampe ada kata <em>betina<\/em>. Bisa jadi santapan buas SJW nih.<\/p>\n<p><em>Mata indah bola pingpong<\/em><br \/>\n<em>Masihkah kau kosong?<\/em><br \/>\n<em>Bolehkah aku membelai<\/em><br \/>\n<em>Bibirmu yang aduhai<\/em><\/p>\n<p>Akhirnya, ada selarik lirik yang bener. Meski dari tadi berpotensi bikin feminis marah, Iwan Fals ternyata memberlakukan <em>consent <\/em><em>di lagu ini <\/em>dengan bertanya sebelum bertindak<em>, \u201c<\/em><em>B<\/em><em>oleh nggak aku membelai bibirmu yang aduhai?\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>Tapi, kalau sekarang ada laki-laki asing ujug-ujug nanya gitu ke perempuan, jatohnya tetep nggak sopan sih.<\/em><\/p>\n<h4><strong>Lagu Iwan Fals #3 <\/strong><strong>Maaf Cintaku<\/strong><\/h4>\n<p>Lagu ini adalah tentang pujian (lagi!) kepada perempuan, namun dibungkus dengan cara yang tidak menyenangkan.<\/p>\n<p><em>Ingin kuludahi mukamu yang cantik<\/em><br \/>\n<em>Agar kau mengerti bahwa kau memang cantik<\/em><br \/>\n<em>Ingin kucongkel keluar indah matamu<\/em><br \/>\n<em>Agar engkau tahu memang indah matamu<\/em><\/p>\n<p>Wadaw. Pertama, ngapain si cewek harus disadarin bahwa dia cantik? Kedua, bisa nggak pakai cara-cara penyadaran yang penuh empati dan halus?<\/p>\n<p><iframe src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/tQYOSX8tANo\" width=\"853\" height=\"480\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><em>Harus kuakui bahwa aku pengecut<\/em><br \/>\n<em>Untuk menciummu juga merabamu<\/em><br \/>\n<em>Namun aku tak takut untuk ucapkan<\/em><br \/>\n<em>Segudang kata cinta padamu<\/em><\/p>\n<p><em>Oh, jadi meski dia nggak berani bilang cinta, dia menyimpan obsesi buat grepe-grepe. Ih!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Saya nggak lagi menghujat lagu-lagu cinta Iwan Fals. Menurut saya, memang pada masanya, tindakan-tindakan kepada perempuan sebagaimana disebut di atas masih dinormalisasi. Mungkin karena di masa itu, informasi nggak sebanyak dan seterbuka sekarang. Ya, tahu sendirilah Orba kayak apa. Apalagi setelah gerakan perempuan progresif ikut dipukul habis selama tragedi \u201965-\u201968.<\/p>\n<p>Ketimbang bikin ide aneh-aneh kayak mari boikot lagu lama Iwan Fals karena isinya nggak sesuai dengan standar moral masa kini, kita dudukkan saja lagu-lagu ini sebagai catatan sejarah masa pada suatu masa di Indonesia, perempuan itu diharuskan pasif serta laki-laki harus agresif. Imajinasi karakter gender demikian juga bisa ditemukan dalam film-film masa itu. Tugas kita sekarang tinggal jangan mengulangi lagi aja.<\/p>\n<p>Hidup kesetaraan gender!<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/agm\/esai\/empat-lagu-dangdut-koplo-yang-cocok-jadi-bahan-kontemplasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Empat Lagu Dangdut Koplo yang Cocok Jadi Bahan Kontemplasi<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ananda-bintang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ananda Bintang<\/a>\u00a0lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Coba deh simak lirik tiga lagu Iwan Fals ini, rasanya gimana gitu. Kalau diciptain di masa kini, pasti udah dibuatin thread deh.<\/p>\n","protected":false},"author":604,"featured_media":74452,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[324,1718,3620,2682,10,122],"class_list":["post-73157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-feminisme","tag-gender","tag-iwan-fals","tag-lagu","tag-lirik-lagu","tag-perempuan"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=73157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74452"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=73157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=73157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=73157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}