{"id":72987,"date":"2020-08-23T12:59:26","date_gmt":"2020-08-23T05:59:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=72987"},"modified":"2020-08-23T13:08:22","modified_gmt":"2020-08-23T06:08:22","slug":"hubungan-ungkapan-akehe-sak-ndayak-dengan-konflik-majapahit-dan-nansarunai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hubungan-ungkapan-akehe-sak-ndayak-dengan-konflik-majapahit-dan-nansarunai\/","title":{"rendered":"Hubungan Ungkapan \u201cAkehe Sak Ndayak\u201d dengan Konflik Majapahit dan Nansarunai"},"content":{"rendered":"<p>\u201cDeloken, Cah, pengunjunge sak ndayak!\u201d Itulah ungkapan kawan saya ketika nongkrong di salah satu warung pinggiran alun-alun utara Jogja. jika diterjemahkan, ungkapan itu berarti \u201clihatlah, Bro, pengunjungnya banyak sekali.\u201d Ungkapan basa-basi tadi membuat saya berpikir: mengapa Dayak dipakai untuk menyimbolkan jumlah yang banyak?<\/p>\n<p>Saya berpikir, kata \u201csak ndayak\u201d ini bukan menunjukkan suku Dayak. Mungkin, memang ada kata Dayak dalam kosakata Jawa. Tapi, saya tidak menemukan kata Dayak yang berarti banyak dalam kamus-kamus yang saya baca. Dan ketika mencari tahu pada sesama penutur bahasa Jawa, mereka juga mengasumsikan kata \u201csak ndayak\u201d berhubungan dengan suku Dayak. Apakah ini stereotip?<\/p>\n<p>Saya sering mendengar stereotip kepada suku Dayak. Banyak yang memandang salah satu suku asli Nusantara tersebut sebagai \u201cpemburu kepala\u201d. Tentu ini mengingat tragedi berdarah Sampit. Stereotip positif suku Dayak adalah \u201ccantik dan ganteng\u201d. Kalau ini, saya tak bisa komentar banyak tapi mengamini.<\/p>\n<p>Tapi, perkara ungkapan \u201csak ndayak\u201d tidak cocok dengan berbagai stereotip yang lumrah dibicarakan. Sangat jarang saya mendengar stereotip orang Dayak itu banyak jumlahnya. Menurut data sensus yang diterbitkan oleh <a href=\"http:\/\/indonesia.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">indonesia.go.id<\/a>, populasi suku Dayak sekitar 3 juta jiwa. Hanya 1,27% dari total populasi Indonesia, dan kalah jauh dengan populasi suku Jawa serta Batak. Tapi, kenapa orang Jawa menggunakan suku Dayak untuk mengungkapkan jumlah yang banyak ini?<\/p>\n<p>Menurut saya, populasi suku Dayak tidak relevan dengan istilah \u201cakehe sak ndayak\u201d. Pasti ada alasan lain yang menyebabkan suku Dayak dianggap punya jumlah besar. Menurut logika saya, pasti ada satu peristiwa yang mempertemukan suku Jawa dan Dayak. Pertemuan ini berujung pada anggapan bahwa suku Dayak memiliki populasi besar. Bisa jadi, pertemuan ini adalah konflik bersenjata.<\/p>\n<p>Logika saya ini berdasarkan kecenderungan konflik menjadi sumber stereotip. Larangan suku Sunda dan Jawa menikah dikarenakan Perang Bubat. Pandangan suku Osing Banyuwangi sebagai ahli klenik dikarenakan Puputan Bayu. Suku Tionghoa dipandang benci suku Jawa gara-gara Geger Pecinan. Ngomong-ngomong, leluhur Jawa hobi terlibat konflik besar ya?<\/p>\n<p>Bicara konflik antara suku Dayak dan Jawa, pasti kita teringat tragedi Sampit. Tragedi berdarah dan kejam ini memang memberi stereotip pada suku Dayak sebagai \u201cpemburu kepala\u201d. Namun, saya tidak melihat bahwa tragedi Sampit melahirkan istilah \u201cakehe sak ndayak\u201d. Tragedi Sampit dikenang karena kekejamannya, dan bukan kuantitas orang yang terlibat. Lagipula, istilah \u201csak ndayak\u201d sudah dipakai sebelum tragedi Sampit.<\/p>\n<p>Ternyata, ada satu konflik besar yang terjadi sebelum Sampit. Konflik yang melibatkan kerajaan terbesar di Nusantara. Konflik tersebut adalah penyerangan Kerajaan Majapahit kepada Kerajaan Nansarunai. Selain penyerangan yang melibatkan banyak pasukan, perang ini juga menyebabkan lahirnya kerajaan-kerajaan kecil di Dayak hingga sekarang.<\/p>\n<p>Perang ini dikisahkan dalam Syair Nansarunai Usak Jawa. Sebuah sastra lisan dalam bahasa Dayak. Syair yang berkisah tentang hancurnya Kerajaan Nansarunai oleh Jawa (Majapahit) ini menjadi pegangan sejumlah sejarawan dalam menafsirkan penyerangan Majapahit ke Kalimantan. Salah satunya sejarawan Dayak Fridolin Ukur, dalam risetnya tahun 1977 yang dimuat dalam <a href=\"https:\/\/jejakrekam.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">jejakrekam.com<\/a>.<\/p>\n<p>Blio meyakini Kerajaan Nansuranai adalah pemerintahan monarki yang mempersatukan Dayak Maanyan di Kalimantan. Meskipun masih kontroversial, Ukur yakin kerajaan ini berdiri pada 1309 Masehi, saat Raden Japutra Layar dinobatkan sebagai raja. Kerajaan ini lenyap usai ditaklukkan armada Majapahit pada 1389 Masehi. Sebuah catatan sejarah yang ngeri-ngeri sedap.<\/p>\n<p>Setidaknya, ada tiga ekspedisi militer yang dilakukan Majapahit. Dua ekspedisi awal gagal menaklukkan Nansarunai. Kesuksesan penaklukan baru diraih setelah ekspedisi ketiga. Hebatnya, tiga raja Majapahit terlibat dalam tiga ekspedisi ini. Dan ekspedisi ini juga melibatkan Gajah Mada sebagai bagian dari Sumpah Palapa. Saya berdecak kagum, karena kehebatan Majapahit benar-benar diuji dalam ekspedisi ini.<\/p>\n<p>Riset Fridolin Ukur ini menjadi rujukan peneliti sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Apriansyah. Dalam wawancara dengan <a href=\"https:\/\/jejakrekam.com\/\">jejakrekam.com<\/a>, blio menyatakan ekspedisi pertama Majapahit melibatkan 40 ribu pasukan. Angka tersebut bukanlah angka kecil, apalagi sampai terjadi tiga kali.<\/p>\n<p>40 ribu pasukan bisa dipukul mundur oleh sebuah kerajaan. Logika sederhananya, pasukan yang memukul mundur pasti memiliki jumlah yang sama atau lebih besar. Maka, wajar jika ada asumsi pasukan Narasarunai memiliki jumlah lebih besar daripada Majapahit. Seolah-olah, pasukan Narasarunai tidak habis-habis meskipun digempur Majapahit berulang kali. Bahkan setelah digempur Gajah Mada yang digdaya dalam strategi maupun kanuragan.<\/p>\n<p>Maka, saya mengajukan hipotesis: karena Majapahit mengalami kekalahan berulang dalam ekspedisi yang melibatkan puluhan ribu pasukan, muncul stigma bahwa Kerajaan Nasarunai memiliki jumlah pasukan yang lebih besar. Maka, suku Jawa memandang bahwa suku Dayak punya populasi yang sangat besar. Maka lahirlah penyebutan sesuatu yang berjumlah besar dengan istilah \u201cakehe sak ndayak\u201d.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/ajr\/ulasan\/pojokan\/harus-gimana-lagi-sama-orang-yang-percaya-konspirasi-wahyudi-covid-19\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Harus Gimana Lagi sama Orang yang Percaya Konspirasi Wahyudi Covid-19?!<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dimas Prabu Yudianto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya berpikir, kata \u201csak ndayak\u201d ini bukan menunjukkan suku Dayak. Tapi, saya nggak nemu kata Dayak yang berarti banyak dalam kamus.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":72991,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8523,3209],"class_list":["post-72987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-dayak","tag-majapahit"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=72987"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72987\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/72991"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=72987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=72987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=72987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}