{"id":72407,"date":"2020-08-20T16:10:08","date_gmt":"2020-08-20T09:10:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=72407"},"modified":"2021-08-13T12:22:05","modified_gmt":"2021-08-13T05:22:05","slug":"3-buku-jurnalistik-untuk-kamu-yang-sedang-belajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-buku-jurnalistik-untuk-kamu-yang-sedang-belajar\/","title":{"rendered":"3 Buku Jurnalistik untuk Kamu yang sedang Belajar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pertama kali belajar jurnalisme di pers mahasiswa kampus saya,<\/span><a href=\"http:\/\/beritaunsoed.com\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">LPM Sketsa<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bagi saya, belajar jurnalisme sangat penting. Bukan cuma untuk praktisi atau akademisi saja, tapi juga bagi masyarakat yang selalu mengonsumsi informasi dari media massa. Belajar jurnalisme membantu kita memilah mana informasi yang valid dan yang tidak, serta membantu kita mengawasi kerja pers.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kalangan insan pers, pelajaran tentang prinsip jurnalisme umumnya dimulai dari buku klasik<\/span><a href=\"https:\/\/opac.perpusnas.go.id\/DetailOpac.aspx?id=308677\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Elemen-elemen Jurnalisme<\/span><\/i><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">karangan jurnalis Amerika Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Namun, ada juga buku referensi lain yang ditulis pengarang Indonesia yang relatif lebih mudah dicerna. Buat kamu yang sedang belajar jurnalisme, berikut tiga buku jurnalistik rekomendasi saya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Buku jurnalistik #1<i> Jurnalisme Dasar<\/i><\/b><b>, Luwi Ishwara<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika dulu saya masih bergiat di persma saya, buku ini malah jadi bacaan wajib calon anggota <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sketsa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Bisa dibilang buku ini secara lengkap membahas hal-hal mendasar tentang jurnalisme.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagian pendahuluan buku ini mendedah bagaimana ciri jurnalisme dan ulasan ringkas tentang intisari dari sembilan elemen jurnalisme Kovach- Rosenstiel. Sejarah perkembangan jurnalisme di berbagai belahan dunia pun secara runut diulas dalam buku ini.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/media.karousell.com\/media\/photos\/products\/2018\/05\/06\/buku_jurnalisme_dasar_luwi_ishwara_1525592606_69cb4e8e.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/media.karousell.com\/media\/photos\/products\/2018\/05\/06\/buku_jurnalisme_dasar_luwi_ishwara_1525592606_69cb4e8e.jpg\" alt=\"\" width=\"214\" height=\"330\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Luwi Ishwara, salah satu ciri khas jurnalisme yang utama adalah skeptis. Sikap skeptis (bukan sikap sinis) wajib dimiliki oleh wartawan sebagai praktisi jurnalistik. Skeptis yang dimaksud Luwi adalah sikap selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Intinya, sikap skeptis adalah keraguan yang bikin orang bertanya, mencari, sampai memperoleh kebenaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dari sikap skeptis itulah sebagai titik mula agar wartawan senantiasa mengecek kebenaran dari informasi yang ia terima, atau dalam bahasa lain, melakukan verifikasi. Apalagi disiplin verifikasi ini, sebagai salah satu elemen jurnalisme, merupakan esensi jurnalisme. Skeptis inilah yang menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tagline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> buku ini: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat hidup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, buku ini juga mengulik bagaimana cara kerja wartawan. Juga mengupas secara detail apa itu berita dan nilai berita, apa saja sumber berita, sampai soal bagaimana cara menulis berita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi buku ini lebih memfokuskan pada penulisan berita jenis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">straight news\/hard news<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau berita lempang (dengan struktur piramida terbalik). Sementara untuk penulisan berita jenis lain seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, hanya sedikit disinggung. Meski begitu, secara keseluruhan, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk belajar hal-hal mendasar seputar kaidah jurnalistik.<\/span><\/p>\n<h4><b>Buku jurnalistik #<\/b><b>2 <i>\u2018A9ama\u2019 Saya Adalah Jurnalisme<\/i><\/b><b>, Andreas Harsono<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merupakan antologi tulisan jurnalis senior Andreas Harsono yang sudah pernah terbit<\/span><a href=\"http:\/\/www.andreasharsono.net\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">di blog-nya<\/span><\/a><b>. <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan-tulisan dalam buku ini, bagi saya, secara keseluruhan membahas kaidah jurnalistik baik pada tataran teoretis maupun praktis. Buku ini bisa dibilang versi lebih padat namun ringkas\u2014sekaligus melengkapi apa yang tak ada\u2014buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jurnalisme Dasar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Luwi.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/3.bp.blogspot.com\/_arHkKQM3oJE\/TQcCRqGfemI\/AAAAAAAABQg\/n6mNgIx_YUs\/s1600\/November%2B-%2BDecember%2B2010%2B214.JPG\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/3.bp.blogspot.com\/_arHkKQM3oJE\/TQcCRqGfemI\/AAAAAAAABQg\/n6mNgIx_YUs\/s1600\/November%2B-%2BDecember%2B2010%2B214.JPG\" width=\"1600\" height=\"1200\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak tulisan Andreas di dalamnya yang merupakan kritik terhadap praktik jurnalisme media-media di Indonesia. Contohnya, topik tentang penulisan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">byline <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> tagline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, atau topik pagar api dalam produk jurnalistik, yang masih amat jarang diterapkan media-media Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu juga kritik atas luputnya media mainstream meliput isu-isu daerah (dalam \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana Meliput Pontianak?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d). Dalam \u201c\u2018<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Asing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2019 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">di Tanah Acheh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ia membicarakan bagaimana media mempolitisasi isu kemanusiaan sebatas menjadi isu nasionalisme yang sempit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik dari buku ini adalah beragam topik tulisan dikelompokkan ke beberapa tema besar, yakni <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">laku wartawan, penulisan, dinamika ruang redaksi, dan peliputan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pembaca jadi lebih mudah menentukan dia ingin memperhatikan tema yang mana dulu. Dan karena ini buku antologi, kita bisa bebas membaca tulisan mana dulu, tanpa khawatir jadi bingung. Semua tulisannya pun bernas, ringkas namun padat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh ya, ada pernyataan Andreas yang penting dalam bukunya. Pada intinya Andreas percaya, jika jurnalisme di suatu masyarakat bermutu, kehidupan masyarakatnya akan bermutu pula.<\/span><\/p>\n<h4><b>Buku jurnalistik #<\/b><b>3 <\/b><b><i>Seandainya Saya Wartawan Tempo<\/i><\/b><b>, Goenawan Mohamad<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau cara penulisan berita berstruktur piramida terbalik (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">straight news<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dikulik dalam bukunya Luwi tadi, fokus buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seandainya Saya Wartawan Tempo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah karya jurnalistik jenis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Buku ini bagi saya betulan mencerahkan buat mengerti cara menulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berkisah.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/inc.mizanstore.com\/aassets\/img\/com_cart\/produk\/seandainya-saya-wartawan-tempo.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/inc.mizanstore.com\/aassets\/img\/com_cart\/produk\/seandainya-saya-wartawan-tempo.jpg\" width=\"549\" height=\"800\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, gaya penulisan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini memang jarang dipakai wartawan dalam pemberitaan media. Bisa dibilang, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Majalah Tempo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-lah yang memelopori berita bergaya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara ringkas, ada poin plus dari berita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ketimbang berita lempang, yakni dari segi keawetan dan keragaman <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">angle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang diangkat. Jika isu yang disajikan dengan bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">straight news<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa cepat basi, karakter <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">timeless.<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mendalam juga bisa dipakai untuk memotret masalah yang sulit atau jadi bisa diwadahi berita lempang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, struktur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terdiri dari tiga bagian: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (pembuka), tubuh, dan ekor. Dalam buku ini, Goenawan membagikan resep di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Majalah<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Tempo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ketika meracik sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Contohnya, bagaimana mengail pembaca dengan sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang memancing. Menulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pun banyak macamnya seperti: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">summary lead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">descriptive lead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">quotation lead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bahkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">freak lead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Juga bagaimana menutup tulisan dengan ekor yang mengesankan. Goenawan mengingatkan betapa pentingnya transisi sebagai perekat antarbagian tulisan agar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang ditulis menjadi sebuah \u201cbangunan cerita\u201d yang utuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buku ini pun menyajikan beragam tips soal teknis penulisan (misalnya tips agar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ditulis dengan alinea pendek), apa saja hal yang perlu disiapkan sebelum menulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sampai bagaimana cara mencari ide liputan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau juga tips untuk tulisan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang panjang, yakni dengan membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">outline <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebelum menulis. Resep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">outline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini kemudian dipakai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sketsa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ketika melaporkan berita panjang. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Outline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sangat berguna agar dalam penulisan berita menjadi tersistematis dan bahasannya tidak melebar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara keseluruhan, buku ini sangat praktis seolah sedang menunjukkan langsung bagaimana praktik menulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Apalagi Goenawan menyajikan buku ini dengan bahasa yang mengalir, sangat mudah dicerna serta tak ada rasa capek membacanya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/agm\/ulasan\/pojokan\/mojok-adalah-media-yang-sangat-tidak-mencerdaskan-kehidupan-bangsa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mojok Adalah Media yang Sangat Tidak Mencerdaskan Kehidupan Bangsa<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/emerald-magma-audha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Emerald Magma Audha<\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/christian-evan-chandra\/\">\u00a0<\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<div>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pelajaran jurnalisme umumnya dimulai dari buku klasik Elemen-elemen Jurnalisme. Namun, ada buku lain yang lebih mudah dicerna. <\/p>\n","protected":false},"author":810,"featured_media":72442,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[90,5809,1013],"class_list":["post-72407","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-buku","tag-jurnalisme","tag-jurnalistik"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72407","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=72407"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72407\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/72442"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=72407"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=72407"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=72407"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}