{"id":72380,"date":"2020-08-27T06:00:16","date_gmt":"2020-08-26T23:00:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=72380"},"modified":"2020-08-27T03:16:52","modified_gmt":"2020-08-26T20:16:52","slug":"dark-comedy-genre-kontroversial-yang-digeluti-gus-dur-haji-bolot-hingga-para-komika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dark-comedy-genre-kontroversial-yang-digeluti-gus-dur-haji-bolot-hingga-para-komika\/","title":{"rendered":"Dark Comedy, Genre Kontroversial yang Digeluti Gus Dur, Haji Bolot, hingga Para Komika"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dark comedy atau komedi gelap, seperti namanya, merupakan genre komedi yang membawakan materi seputar tragedi atau topik yang masih dianggap tabu. Misalnya isu agama, perceraian, pemerkosaan, hingga disabilitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita merunut kehadirannya di Indonesia, komedi jenis ini tak lepas dari seni stand up comedy. Rindradana merupakan salah satu komika yang lekat dengan dark comedy sejak awal kemunculan di stand up comedy 2011. Meskipun bebarengan dengan komika senior lain macam Raditya Dika, Ernest dan Pandji, namanya masih asing bagi penikmat mainstream stand up comedy. Komedi jenis ini juga masih dianggap segmental.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah Rindrana, kompetisi SUCI 5 Kompas TV kedatangan komika disabilitas penderita cerebral palsy bernama Dani Aditya. Ia menjadi penerus genre dark comedy di acara ini. Salah satu materi pembukaannya yang populer berbunyi, \u201cJadi orang cacat itu enak lho, kalau nggak percaya coba aja sendiri.\u201d Penonton kala itu jadi bingung, antara mau tertawa atau tidak mengingat sang komika manggung dengan kursi roda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di fase ini, komedi gelap masih belum begitu populer. Entah karena publik yang tidak ngeh atau karena Dani Aditya yang tidak pernah mengklaim bahwa komedi yang ia bawakan adalah dark comedy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu munculah duo MLI Coki Pardede dan Tretan Muslim yang terang-terangan menyatakan bahwa komedi yang mereka bawakan adalah komedi gelap. Dari sinilah komedi gelap mulai populer dan digandrungi anak muda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadirannya tentu tidak baik-baik saja. Awal tahun ini misalnya, cuitan Coki yang menjadikan banjir Jakarta dan virus corona sebagai bahan komedi memancing amarah publik. Publik terbelah, antara mereka yang menganggap becandaan tersebut menyalahi moral dan yang memaklumi twit tersebut semata candaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum dark comedy dihidupkan lagi oleh para komika, ada pelawak yang sudah populer berkat genre ini. Haji Bolot bisa dikatakan komedian gelap karena sumber humor lawakan bolot ada pada kondisi cacat pendengaran. Tak cuma itu, sejumlah joke Gus Dur juga bisa dilabeli dark comedy. Bahkan sebagian orang menganggap jokes-nya tak wajar. Misal ketika Gus Dur menertawakan pelengserannya sebagai presiden. \u201cAku ini maju aja susah, harus dituntun. Apalagi suruh mundur.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jadi masalah: kenapa orang kini lebih mudah tersinggung? Apakah masyarakat kita berubah, tidak ngeh komedi yang dibawakan Haji Bolot dan Gus Dur adalah dark comedy, atau karena dark comedy sekarang lebih liar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak hendak menjawab pertanyaan itu dan lebih menyorot ke batasan dark comedy. Yang harus dipahami, meskipun terkesan sangat liar, dark comedy tetap memiliki batasan. Pagarnya adalah konteks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya dalam isu rasisme, kalau saya dikatai teman sebagai, \u201cAlah, Jawa, pantes lemot,\u201d tidak akan jadi masalah karena kami punya konteks pertemanan yang akrab dan saya sadar bahwa itu memang candaan belaka. Cuma masalahnya kan, tak semua candaan bisa ditangkap penerima pesan sebagai candaan. Kalau yang mendengar atau yang jadi sasaran candaannya menanggapi serius, ya memang bisa jadi berabe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau komedi Dani Aditya. Dengan menertawakan dirinya sendiri, Dany sebenarnya sedang menyampaikan masalah diskriminasi yang sering diterima penyandang disabilitas. Jadi ia sedang menyampaikan pesan yang lebih besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep komedi gelap sendiri memang rumit. Jika kita tidak paham bagaimana konteks dan batasan tipis kapan suatu candaan adalah candaan atau kapan suatu candaan tak lagi jadi candaan, baiknya sih nggak usah dulu ikut-ikutan membawakan komedi ini. Kan tidak semua tren harus kita praktikkan. Ya nggak sih?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ampun-dah-memahami-dark-joke-coki-pardede-emang-susah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ampun Dah, Memahami Dark Joke Coki Pardede Emang Susah<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dark comedy bukan genre baru di Indonesia. Tapi belakangan komedi ini sangat populer di kalangan anak muda karena jasa MLI. <\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":73593,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1567,2126,8549,1565],"class_list":["post-72380","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-dark-comedy","tag-komedi","tag-lawakan","tag-stand-up-comedy"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72380","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=72380"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72380\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/73593"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=72380"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=72380"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=72380"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}