{"id":71556,"date":"2020-08-18T15:11:59","date_gmt":"2020-08-18T08:11:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=71556"},"modified":"2020-08-18T15:11:59","modified_gmt":"2020-08-18T08:11:59","slug":"maksud-kata-cepat-yang-17-kali-disebut-jokowi-di-pidato-sidang-tahunan-mpr","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/maksud-kata-cepat-yang-17-kali-disebut-jokowi-di-pidato-sidang-tahunan-mpr\/","title":{"rendered":"Maksud Kata &#8216;Cepat&#8217; yang 17 Kali Disebut Jokowi di Pidato Sidang Tahunan MPR"},"content":{"rendered":"<p>Alih-alih menyimak pencapaian pemerintah dalam setahun terakhir atau mengaminkan rencana pemerintah ke depan, saya lebih tertarik mengamati dan menghitung pengulangan penggunaan kata di pidato Presiden Jokowi pada sidang tahunan MPR kemarin. Dari hasil pengamatan itu, saya berhasil menemukan bahwa ternyata Pak Jokowi suka sekali menggunakan kata <em>cepat<\/em>.<\/p>\n<p>Beliau saya dapati menggunakan kata <em>cepat<\/em>, baik yang berimbuhan maupun tidak, sebanyak 17 kali. Lalu, kata itu paling banyak digunakan dalam kalimat tentang kinerja dan program kerja pemerintah, seperti:<\/p>\n<p><em>\u201cDengan peristiwa pandemi ini, maka reformasi fundamental di sektor kesehatan harus kita <strong>percepat<\/strong><\/em><em>,<\/em><em>\u201d<\/em><\/p>\n<p>atau<\/p>\n<p><em>\u201cMPR dengan <strong>cepat<\/strong> membuat payung program baru <\/em><em>\u2018<\/em><em>MPR Peduli Covid-19<\/em><em>\u2019<\/em><em> serta terus melakukan sosialisasi dan aktualisasi Pancasila serta pengkajian sistem ketatanegaraan dan konstitusi kita<\/em><em>,<\/em><em>\u201d<\/em><\/p>\n<p>atau<\/p>\n<p><em>\u201cKetika krisis kesehatan tersebut berdampak pada perekonomian nasional, kita juga harus <strong>cepat<\/strong> bergerak: memberikan bantuan sosial bagi masyarakat melalui bantuan sembako, bansos tunai, subsidi dan diskon tarif listrik, BLT Desa, dan subsidi gaji; membantu UMKM untuk memperoleh restrukturisasi kredit, memperoleh banpres produktif berupa bantuan modal darurat, dan membantu pembelian produk-produk mereka; membantu tenaga kerja yang menjadi korban PHK, antara lain melalui bantuan sosial dan Program Prakerja<\/em><em>.<\/em><em>\u201d<\/em><\/p>\n<p>Saya jadi kepo, kenapa Pak Presiden sering menggunakan kata <em>cepat<\/em> di pidato itu ya? Hanya kebetulan atau memang ada hal yang ingin beliau sampaikan secara implisit? Seperti YouTuber-YouTuber yang suka ngasih kode-kode kalau lagi dalam bahaya gitu\u2026.<\/p>\n<p>Kan bisa jadi beliau sebenarnya ingin bilang ke pendengar dan haters, \u201cHey! Ini loh aku tuh sama bawahanku kerja dan kita selalu cepat nanggepin persoalan yang ada. Ngga cuma leyeh-leyeh aja di istana.\u201d Tapi karena ngomong frontal seperti itu akan dianggap kurang etis, jadinya beliau ngomongnya tersirat, lewat pidato.<\/p>\n<p>Atau bisa juga beliau orangnya nggak enakan buat menegur menteri-menteri dan bawahannya yang lain yang sampai sekarang belum bikin apa-apa dan cuma numpang mejeng dalam susunan kabinet. Ibaratnya presiden ngomong begini ke mereka, \u201cDear menteri-menteriku yang belum ngapa-ngapain, apa tidak malu sama menteri ESDM dan Pertamina yang kerjanya cepat dan sudah punya pencapaian? Ayolah kerja juga. Jangan cuma duduk-duduk aja!\u201d<\/p>\n<p>Selain menimbulkan pertanyaan (buat saya sih, nggak tahu kalau kalian), penggunaan kata <em>cepat<\/em> yang berulang-ulang ini menurut saya bisa memicu timbulnya perbedaan pendapat antarpendengar.<\/p>\n<p>Haters yang memang sudah menyimpan kebencian membara, mungkin akan serta-merta berkomentar, \u201cCepat, cepat, cepat. Pantas saja peraturan atau program kerja yang dibuat suka tidak tepat sasaran dan belum matang. Ternyata pemimpinnya emang maunya asal cepat-cepat saja toh!\u201d<\/p>\n<p>Mereka kemudian mulai mengait-ngaitkannya dengan keputusan-keputusan yang pernah dikeluarkan Presiden dan cukup menuai kontroversi, seperti pelaksanaan Program Prakerja atau izin memperbolehkan sekolah tatap muka padahal wabah belum selesai.<\/p>\n<p>Beda haters, beda pula simpatisan. Mereka akan melihat penekanan cepat di pidato Jokowi sebagai hal positif. Bagi mereka ini tanda bagus, artinya Presiden selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan persoalan rakyat, cepat-cepat membantu rakyat keluar dari kesulitannya.<\/p>\n<p>Berulang kali menggunakan suatu kata tertentu dalam pidato bisa jadi sebuah kebetulan sepele yang tidak artinya. Namun, bisa jadi juga ada maksud tersembunyi yang ingin disampaikan si pembicara kepada pendengarnya. Bahasa kerennya sih <em>riddle<\/em><em>, teka-teki<\/em>. Tapi soal ada atau tidaknya <em>riddle<\/em> dalam pidato presiden kemarin, sepertinya hanya akan jadi rahasia Pak Jokowi, penulis pidato, dan Tuhan aja yang tahu. Saya sih cuma menerka-nerka. Terlepas dari itu, pidato kenegaraan Pak Jokowi kemarin sebenarnya sangat informatif. Dari sana, masyarakat sebagai pendengar jadi tahu selama setahun belakangan ini pemerintah ngapain aja sih.<\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Twitter <a href=\"https:\/\/twitter.com\/jokowi\/status\/1294224471843196929\/photo\/1\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@jokowi<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/isj\/esai\/masih-mau-jadi-bucin-pemerintahan-pak-jokowi-pada-situasi-begini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Masih Mau Jadi Bucin Pemerintahan Pak Jokowi Pada Situasi Begini?<\/a>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya jadi kepo, kenapa Pak Presiden sering menggunakan kata cepat di pidato itu ya? Hanya kebetulan atau&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":967,"featured_media":72169,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[761,559,8468],"class_list":["post-71556","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa","tag-jokowi","tag-pidato"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71556","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/967"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71556"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71556\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/72169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71556"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71556"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71556"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}