{"id":71533,"date":"2020-08-18T13:32:42","date_gmt":"2020-08-18T06:32:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=71533"},"modified":"2020-08-18T13:32:42","modified_gmt":"2020-08-18T06:32:42","slug":"membaca-kolom-komentar-itu-seru-asalkan-tidak-ikut-komentar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membaca-kolom-komentar-itu-seru-asalkan-tidak-ikut-komentar\/","title":{"rendered":"Membaca Kolom Komentar Itu Seru asalkan Tidak Ikut Komentar"},"content":{"rendered":"<p>Baru-baru ini teman saya mengalami \u201cmusibah digital\u201d. Musibah tersebut berupa perisakan warganet di media sosial yang membuatnya\u00a0bad mood\u00a0dua hari dua malam. Sebabnya sederhana, dia ikut komentar di kolom komentar sebuah\u00a0post\u00a0viral di Instagram.<\/p>\n<p>Saat ini banyak akun-akun di media sosial yang menampilkan cerita pengalaman hidup dari banyak orang. Dalam cerita yang diunggah tidak disebutkan siapa nama atau identitas tokohnya, biasanya hanya disebut \u201cmaster\u201d atau semacamnya.<\/p>\n<p>Cerita yang laris manis dan mendatangkan ribuan komentar biasanya tak jauh-jauh dari konflik rumah tangga. Pelakor atau selingkuhan, poligami, bahkan masalah ranjang. Nah, yang terakhir itulah yang membuat salah seorang teman saya terperosok dalam musibah digital.<\/p>\n<p>Teman saya itu tergugah hatinya untuk memberikan komentar pada cerita tentang masalah ranjang sepasang suami istri yang diunggah salah satu akun di Instagram. Kasusnya, sang istri kerap menolak melayani suami di ranjang dengan alasan capek. Padahal sang suami sudah memenuhi berbagai kebutuhannya. Begitu yang diceritakan di medsos.<\/p>\n<p>Teman saya pun menulis komentar singkat berbunyi, \u201cnanti kalau suaminya cari wanita lain baru deh nyesel\u201d.<\/p>\n<p>Hanya dalam hitungan menit, komentar tersebut menuai respons. Orang-orang tak dikenal mulai menanggapi di kolom komentar teman saya. Ada yang mendukung, tapi lebih banyak yang menghujat.<\/p>\n<p>\u201cJangan asal judge, mungkin si istrinya depresi.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKalo nggak bisa kasih saran mending diem aja.\u201d<\/p>\n<p>Dan puluhan respons lainnya yang membuat ponsel teman saya tak berhenti berbunyi.<\/p>\n<p>\u201cKapok aku, Mbak!\u201d tegasnya pada saya.<\/p>\n<p>Saat saya tanya alasannya memberikan komentar, dia mengaku terhanyut membaca komentar-komentar orang lain dan membuatnya juga ingin ikutan komentar. Saya pun memberi wejangan secara langsung terhadap musibah yang menimpanya itu: \u201cMembaca deretan komentar itu asik selama kamu nggak ikutan komen!\u201d<\/p>\n<p>Ya, demikianlah yang saya yakini. Saya pun salah satu penikmat komentar yang bertebaran di media sosial, khususnya YouTube dan Instagram. Biasanya setelah menyimak sebuah video atau unggahan, saya langsung beralih ke kolom komentar.<\/p>\n<p>Tak bisa dimungkiri, kita sering kali tergoda membaca kolom komentar. Menelusurinya satu per satu, sekadar ingin tahu, bagaimana, sih, tanggapan orang lain terhadap unggahan tersebut? Apakah sama dengan apa yang kita rasakan?<\/p>\n<p>Banyak komentar lucu nan menghibur yang saya temui. Sering kali komentar lucu itu berasal dari warganet di luar negeri. Entah kenapa bahasa yang mereka gunakan, bahasa Inggris, bisa menimbulkan efek-efek lucu hanya dalam beberapa kata. Walaupun tak sedikit juga yang memberi komentar negatif yang bikin sakit mata.<\/p>\n<p>Untungnya, saya sendiri tak pernah tergoda untuk memberi komentar pada\u00a0post\u00a0yang mengangkat topik sensitif dan dikomen oleh ribuan orang. Kenapa? Pertama, karena saya meyakini tidak ada gunanya ikut-ikutan memberikan pendapat di kolom komentar. Toh, si empunya akun kemungkinan besar tidak membaca semua komentar yang ada.<\/p>\n<p>Kedua, karena sekali memberikan komentar, maka kita tidak bisa menghindar dari respons warganet yang tiada ampun. Sehalus apa pun komentar yang kita berikan.<\/p>\n<p>Akan tetapi, setelah membaca\u00a0post\u00a0viral, biasanya ada dorongan kuat untuk komentar, kan? Ya, saya paham. Saya pun merasakannya. Namun, komentar tersebut biasanya saya jadikan bahan obrolan santai bersama suami saja. Bukan di ranah publik alias belantara media sosial.<\/p>\n<p>Cara ini lebih menyenangkan karena terhindari dari perisakan warganet yang tak kenal waktu. Masalahnya, tak semua orang punya mental sekuat selebgram atau artis. Teman saya itu contohnya, komentar negatif terhadapnya mampu membuat dia\u00a0bad mood\u00a0selama dua hari. Dan saya yakin, sampai sekarang pun notifikasi Instagram-nya terkait\u00a0post\u00a0tersebut masih berdatangan.<\/p>\n<p>Ada cara lain yang jauh lebih baik dan jelas menghindarkan kita dari musibah serupa, yaitu dengan tidak membaca konten viral sama sekali. Harus diakui, tidak semua yang viral itu bermanfaat. Bahkan jika tidak dipilah, bisa jadi yang kita baca itu sebenarnya\u00a0unfaedah\u00a0alias nirmanfaat. Artinya, lebih baik tidak tergoda membaca\u00a0post\u00a0tersebut sama sekali.<\/p>\n<p>Bagi saya pribadi, sangat menyebalkan ketika orang-orang yang tidak kita kenal\u2014dan tidak ada urusan\u2014bisa memengaruhi suasana hati kita. Ya, toh? Jadi, saya memilih\u00a0playing safe\u00a0dengan tidak memberi komentar liar di media sosial.<\/p>\n<p>Atau, jika Anda tetap ingin membahasnya dan memberikan pandangan, ada cara lain yang lebih elegan, yaitu melalui tulisan esai santai seperti yang sedang Anda baca ini.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/dsa\/esai\/kuliah-capek-capek-jadi-ibu-rumah-tangga-emang-kenapa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kuliah Capek-Capek Kok Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga, Lha Emang Kenapa?<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/vidiyani-utari-tampi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Vidiyani Utari Tampi<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tak bisa dimungkiri, kita sering tergoda membaca kolom komentar. Sekadar ingin tahu, bagaimana tanggapan orang lain terhadap isu tersebut?<\/p>\n","protected":false},"author":910,"featured_media":19647,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-71533","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71533","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/910"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71533"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71533\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19647"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71533"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71533"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71533"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}