{"id":71185,"date":"2020-08-18T12:27:09","date_gmt":"2020-08-18T05:27:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=71185"},"modified":"2020-08-18T12:27:09","modified_gmt":"2020-08-18T05:27:09","slug":"fungsi-ruang-tamu-museum-pencapaian-dan-gagasan-ideal-keluarga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fungsi-ruang-tamu-museum-pencapaian-dan-gagasan-ideal-keluarga\/","title":{"rendered":"Fungsi Ruang Tamu: Museum Pencapaian dan Gagasan Ideal Keluarga"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ruang tamu lazimnya berada di bagian paling depan dan mudah diakses oleh tamu yang sekadar berkunjung atau acara lainnya. Di Bantul sendiri, biasanya ruang tamu dibuat secara besar dan megah, berbanding terbalik dengan ruangan untuk keluarga yang biasanya lebih kecil. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi ruang tamu sangat logis, yakni untuk menggelar acara desa atau syukuran yang kondisional. Kami biasanya tidak menggunakan tempat makan untuk sekadar acara dalam lingkup desa. Oleh karena itu, keberadaan kursi kalah oleh digdayanya tikar yang terhampar. Tikar bisa menghimpun semua tanpa cela, sedangkan kursi hanya beberapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan banyak sedikitnya tentu terjadi. Peralihan rumah simbah saya, orang tua, dan pakdhe-mbokdhe saya mewakilinya. Kini, fungsi ruang tamu diorientasikan sebagai \u201cmuseum penyambutan tamu\u201d. Apa saja yang ada di dalam ruang tamu bukan lagi menyentuh masalah \u201chimpunan\u201d, namun kini menyasar \u201cperwakilan apa saja yang dimiliki oleh seluruh rumah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui beberapa narasumber di desa saya, pertanyaan \u201cruang tamu kini untuk apa?\u201d pun saya lontarkan. Jawaban mereka berbeda-beda dan unik-unik tentunya. Saya himpun, ada tiga golongan dalam memaknai ruang tamu. Pertama, ruang tamu ya ruang untuk tamu. Kedua, sebagai hiasan. Dan ketiga, sebagai mahkota dan representasi keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, golongan yang mengatakan ruang tamu tetaplah ruang tamu, tidak ada perubahan signifikan. Salah satu narasumber mengatakan, \u201cSaya tidak melihat perubahan. Dari dulu ruang tamu ya ruang tamu. Meja, kursi, perabotan yang agak wangun, dan foto keluarga. Sepertinya, dari jaman simbah saya sudah begitu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka menganggap bahwa ruang tamu itu tetap berlandaskan kepada fungsi dan tujuannya. \u201cKan tujuannya membuat tamu nyaman. Masak iya ruang tamu digambarkan nggak ada bedanya sama ruangan pribadi. Walau sebenarnya, tiap ruangan harus nyaman, sih. Kita saja ingin dapat nyaman di rumah sendiri, apalagi mereka yang datang bertamu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, sebagaimana sebuah kerajaan menyambut kerajaan lain. Mereka akan dibawa ke sebuah altar atau balairung terbaik mereka. Jika niatnya baik-baik, tentu disambut dengan baik-baik pula. Dan ruang tamu, dari berjalannya lini masa, nggak berubah,\u201d jelas salah satu narasumber.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Golongan pertama rata-rata bersepakat bahwa ruang tamu dipergunakan ketika menyambut tamu penting. Jika yang datang adalah sanak saudara, biasanya mereka akan masuk ke teritori rumah lebih dalam, seperti ruangan keluarga atau kamar untuk menginap. Sedangkan \u201ctamu formal\u201d, biasanya merekalah yang menikmati ruang tamu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, golongan yang menjawab bahwa ruang tamu kini hanya sebagai hiasan saja. Tidak kurang, tidak lebih. Ia menjawab, \u201cIbu saya mengatakan harus ada bunga-bunga, asbak harus berbentuk kodok atau bentuk unik lain\u2014padahal di keluarga kami nggak ada yang merokok, hahaha. Bapak saya juga suka membeli patung-patung yang, suer, bikin saya merinding.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ditanya apakah ruang tamunya hanya kepuasan bagi orang tuanya, dengan gamblang narasumber ini menjawab, \u201cIya, sih, kita kan nggak bisa kasih selebaran survei kepada tamu rumah kami mengenai tingkat kepuasan (ruang tamu yang orang tuanya hias). Siapa tahu ada yang seperti saya, takut sama patung-patung yang bapak saya beli.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia mengatakan, ruang tamu itu jadi tolok ukur kepuasan kita dalam mengelola rumah. \u201cSederhananya, sih, Bapak dan Ibu mau repot-repot urus tamu ingin muncul perspektif dari tamu bahwa: ruang untuk tamu saja dibuat wangun, apalagi ruangan yang lebih privat, kan? Niatnya gitu, padahal dapur kami udah kayak kapal pecah!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, golongan yang mengatakan bahwa ruang tamu adalah mahkota dan representasi keluarga. Uniknya, salah satu narasumber bicara begini, \u201cRuang tamu rumah saya itu harus ada piala adek saya. Mulai dari nyanyi sampai renang. Padahal buat apa, kan, ya? Disimpan di kamar saja bisa. Ini saya usul begini; nggak sekalian tempelin ijazah kuliah saya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Narasumber lain mengatakan, \u201cFoto keluarga harus ada. Keluarga saya, sih, Ayah pakai seragam kebanggaan, kakak saya juga sama, sedangkan saya pakai beskap. Ada lagi foto ketika kakak saya sedang naik pangkat, itu penting, setidaknya penting bagi orang tua saya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ditanya apakah dirinya sendiri menganggap foto keluarga seperti itu penting, blio menjawab, \u201cSekarang, sih, enggak. Tapi saya yakin ketika punya anak, pasti ada rasa ingin umuk kepada khalayak ramai mengenai prestise dan pencapaian keluarga. Dan tamu-tamu itu adalah korban \u201cmuseum hidup\u201d panggung sandiwara hidup keluarga kami\u2014tentunya, yang bahagia-bahagia thok. Edan po menampilkan sisi melankolisnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka menegaskan, ruang tamu itu bisa menggambarkan kondisi keluarga. \u201cBanyak yang menginginkan tamu-tamu itu bisa menerka, misal, \u201cOh, anaknya udah lulus, lulus di universitas terbaik lagi,\u201d atau \u201cOh, jebul anak keduanya itu anggota TNI.\u201d Ya, begitulah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun bertanya, salah nggak semisal definisi ruang tamu kini sudah mengarah ke seperti itu? Mereka kompak mengatakan tidak salah. Proses ini sudah pasti akan terjadi. Lini masa waktu pasti akan membawa kepada kejadian seperti ini. Entah ke depannya bagaimana. Perubahannya apa lagi. Namun, proses seperti ini wajib dilalui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ruang tamu kini sudah bergeser seakan menjadi museum hidup mengenai kehidupan keluarga yang berada di dalamnya. Sebagai perwakilan, hanya melalui satu ruangan, ruangan ini seakan mencoba memberikan gambaran kondisi di seluruh penjuru rumah. Hal ini menjadi logis jika disodorkan sebuah pertanyaan: siapa yang tidak ingin menyambut tamu sehormat-hormatnya walau tidak memiliki kewajiban melakukan hal tersebut?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/prm\/ulasan\/pojokan\/kritik-untuk-desain-rumah-minimalis-yang-sering-dicontoh-pengantin-baru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kritik untuk Desain Rumah Minimalis yang Sering Dicontoh Pengantin Baru<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kini, fungsi ruang tamu adalah sebagai museum penyambutan tamu. Sebelum kepalsuan dipajang di medsos, ruang ini sudah duluan dapat tugas.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":72116,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8458,534],"class_list":["post-71185","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ruang-tamu","tag-rumah"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71185"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71185\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/72116"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}