{"id":71123,"date":"2020-08-18T13:43:12","date_gmt":"2020-08-18T06:43:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=71123"},"modified":"2020-08-18T13:44:09","modified_gmt":"2020-08-18T06:44:09","slug":"arti-legislasi-dan-regulasi-dua-istilah-yang-sering-tertukar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/arti-legislasi-dan-regulasi-dua-istilah-yang-sering-tertukar\/","title":{"rendered":"Arti Legislasi dan Regulasi, Dua Istilah yang Sering Tertukar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan orang, saya lihat masih salah dalam menggunakan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih sering diartikan sebagai pengaturan entah pada produk hukum apa pun. Bahkan undang-undang (UU), termasuk yang masih berupa rancangan UU (RUU), pun kerap disebut dengan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Padahal tidak semua aturan hukum itu merupakan produk regulasi. Dan UU (baik yang masih berupa rancangan maupun yang sudah diundangkan) bukanlah produk regulasi. Ia lebih tepat disebut sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">produk legislasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Media juga masih keliru dalam penggunaan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Contoh saja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tirto <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang<\/span><a href=\"https:\/\/tirto.id\/cara-dpr-menyandera-hingga-menyingkirkan-ruu-pks-fNip\"> <span style=\"font-weight: 400;\">menyebut RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dalam esainya pernah<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/nil\/ulasan\/pojokan\/apa-itu-prekariat-dan-hubungannya-dengan-omnibus-law-yang-ramai-dibicarakan\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">menyebut RUU Cilaka model <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">omnibus law<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan sebutan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KBBI, bagi saya, juga tidak selalu menjadi rujukan yang tepat ketika kita sedang menggunakan bahasa hukum. Istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diartikan terlalu luas oleh KBBI dengan definisi \u2018pengaturan\u2019. Di sisi lain, KBBI malah terlalu sempit mengartikan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">legislasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hanya dalam definisi \u2018pembuatan undang-undang\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, apa bedanya antara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">legislasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">? Bagaimana penggunaannya yang tepat dan sesuai dengan kaidah bahasa ilmu hukum?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara praktik umum, menurut Prof. Jimly Asshiddiqie dalam buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hukum Acara Pengujian Undang-Undang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2006), ada tiga macam bentuk norma hukum sebagai hasil dari proses pengambilan keputusan hukum.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, keputusan normatif yang berisi dan bersifat pengaturan (dalam bahasa Belanda disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regeling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, keputusan normatif yang berisi dan bersifat penetapan administratif (Belanda: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">beschikking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Ketiga, keputusan normatif yang berisi dan bersifat penghakiman yang biasa disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">vonis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Belanda: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">vonnis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain ketiga bentuk norma hukum yang disebutkan Prof. Jimly tersebut, ada juga bentuk norma hukum lain yang dikenal dalam praktik, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">beleidsregel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">beleids<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">beschikking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sampai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">besluit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun itu di luar topik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Jimly kemudian menjabarkan, keputusan hukum sebagai hasil kegiatan pengaturan atau mengatur (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regeling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) terbagi jadi dua, yakni yang berbentuk legislasi (berupa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">legislative acts<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan yang berbentuk regulasi (berupa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">executive acts<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh ya, sebelum membahas lebih lanjut soal <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">legislative acts<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">executive acts<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kalian juga perlu ingat soal jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan. Mulai yang paling tinggi itu UUD Negara RI 1945, di bawahnya ada TAP MPR, bawahnya lagi ada UU\/perppu, bawahnya lagi ada peraturan pemerintah (PP), bawahnya lagi ada lagi, seterusnya sampai paling ujung adalah perda kabupaten\/kota. Selengkapnya bisa dilihat di UU 12\/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Pasal 7 ayat 1.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, sambung ke pembahasan tadi. Menurut Prof. Jimly, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">legislative acts<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (produk legislatif) pada intinya adalah sebuah produk peraturan yang ditetapkan oleh atau dengan melibatkan peran lembaga perwakilan rakyat. Contoh dari produk legislatif (bisa disebut produk legislasi), ya undang-undang. Sebab, pembentukan UU melibatkan peran lembaga perwakilan rakyat (DPR).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, produk legislasi tidak terbatas pada UU yang dihasilkan oleh DPR. Peraturan daerah (perda), baik perda provinsi, perda kabupaten, dan perda kota, oleh Prof. Jimly juga disebut termasuk dalam produk legislasi. Alasannya, Perda juga merupakan hasil kerja yang melibatkan lembaga perwakilan rakyat tingkat daerah (DPRD).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">executive acts <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(produk regulatif), menurut Prof. Jimly adalah produk pengaturan oleh lembaga eksekutif yang menjalankan peraturan yang ditetapkan oleh lembaga legislatif, setelah mendapat delegasi kewenangan untuk mengatur lebih lanjut materi muatan produk legislatif yang dimaksud itu ke dalam peraturan pelaksana yang lebih rendah (jelimet<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">nggak tuh?). Contohnya, peraturan pemerintah merupakan produk regulatif karena ditetapkan oleh pemerintah yang mendapatkan delegasi kewenangan pengaturan dari UU.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lembaga-lembaga lain yang menghasilkan peraturan (yang merupakan delegasi kewenangan dari UU), seperti Bank Indonesia yang menghasilkan peraturan Bank Indonesia atau KPU yang menghasilkan peraturan KPU, dan sebagainya. Semua produk pengaturan dalam rangka melaksanakan UU itulah yang disebut produk regulatif (bisa disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Executive acts<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam arti luas, kata Prof. Jimly, bukan cuma peraturan yang ditetapkan oleh lembaga eksekutif saja, tetapi intinya semua lembaga negara yang menetapkan sesuatu dalam rangka menjalankan ketentuan UU (meskipun lembaga itu bukan lembaga pemerintahan atau eksekutif). Contohnya, peraturan yang dihasilkan oleh lembaga kehakiman seperti Mahkamah Agung berupa peraturan MA (perma), maupun peraturan yang dihasilkan Mahkamah Konstitusi berupa peraturan MK (PMK), itu juga mesti disebut sebagai produk regulasi. Dalam buku Prof. Jimly yang lain, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Perihal Undang-Undang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2011), lembaga pengadilan yang memiliki kewenangan regulasi (seperti pada MA dan MK yang punya kewenangan untuk mengatur dengan menetapkan perma dan PMK), juga dapat disebut sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">judicial legislation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih bingung dengan penjabaran tadi? Gampangnya begini. Legislasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh (atau minimal melibatkan peran) lembaga perwakilan rakyat. Sementara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan pengaturan yang menjalankan produk legislasi dan mendapatkan delegasi kewenangan untuk mengatur dari produk legislasi itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, makanya kan berbagai RUU yang dibahas oleh DPR itu masuknya dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas), tidak bisa disebut sebagai program regulasi nasional. Dan badan di tubuh DPR yang menginisiasi RUU itu sebutannya Badan Legislasi (Baleg) DPR, bukan disebut sebagai badan regulasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian masih ingat, dulu menjelang akhir 2019, Presiden Jokowi berencana<\/span><a href=\"https:\/\/pshk.or.id\/rr\/presiden-akan-bentuk-badan-regulasi-nasional\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">membentuk Badan Regulasi Nasional (sesekali juga disebut sebagai Badan Legislasi Nasional) untuk menyederhanakan regulasi dan peraturan perundang-undangan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Nomenklatur \u201cbadan regulasi nasional\u201d malah lebih tepat bagi saya ketimbang disebut sebagai \u201cbadan legislasi nasional\u201d. Sebab badan itu nantinya berfungsi untuk melakukan deregulasi mulai dari yang peraturan perundang-undangan yang berjenis PP, peraturan presiden, dan peraturan menteri yang saling tumpang tindih (yang mana ketiga jenis peraturan itu merupakan produk regulasi, bukan produk legislasi).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian pada kasus lain, yaitu soal RUU bermodel <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">omnibus law<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014yang katanya<\/span><a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-4753213\/jokowi-akan-bikin-2-omnibus-law-untuk-revisi-puluhan-uu\"> <span style=\"font-weight: 400;\">bertujuan memangkas regulasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, oleh karena Indonesia sudah mengalami<\/span><a href=\"https:\/\/finance.detik.com\/berita-ekonomi-bisnis\/d-4875968\/alasan-jokowi-kebut-omnibus-law-kita-mengalami-obesitas-regulasi?_ga=2.196440553.471069946.1596525487-278465323.1596525487\"> <span style=\"font-weight: 400;\">obesitas regulasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun, saya kira malah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">omnibus law<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti pada RUU Cipta Kerja kurang tepat kalau disebut-sebut bakal memangkas \u201cregulasi\u201d. Alasannya,<\/span><a href=\"https:\/\/finance.detik.com\/berita-ekonomi-bisnis\/d-4936302\/jokowi-buka-ruang-dialog-apa-manfaat-omnibus-law\"> <span style=\"font-weight: 400;\">yang disederhanakan oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">omnibus law<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> RUU Cipta Kerja itu adalah sejumlah 74 UU<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> (ingat, UU itu merupakan produk legislasi, bukan regulasi).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, pembedaan istilah (produk) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">legislasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu amat penting. Dan penggunaan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara salah kaprah seperti contoh tadi, bisa fatal akibatnya, karena bisa merancukan makna istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">legislasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014yang merupakan bahasa hukum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi, lebih menyarankan agar penggunaan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (terutama untuk konteks pada contoh-contoh kekeliruan di muka tulisan) diganti dengan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pengaturan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014seperti pada definisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">regulasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di KBBI. Atau bisa juga menggunakan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aturan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebab, istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pengaturan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aturan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan istilah yang lebih umum dan luas maknanya, serta bisa mencakup aturan atau produk hukum apa pun, baik yang merupakan produk legislasi maupun regulasi. Begitu.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salah-kaprah-istilah-hukum-yang-melulu-dikaitkan-dengan-adanya-sanksi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Salah Kaprah Istilah Hukum yang Melulu Dikaitkan dengan Adanya Sanksi<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/emerald-magma-audha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Emerald Magma Audha<\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/christian-evan-chandra\/\">\u00a0<\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KBBI tak selalu bisa dirujuk untuk mengartikan bahasa hukum. Regulasi, misalnya, diartikan terlalu luas, sedangkan legislasi diartikan terlalu sempit.<\/p>\n","protected":false},"author":810,"featured_media":72146,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[761,3306,8461,8462],"class_list":["post-71123","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-bahasa","tag-hukum","tag-legislasi","tag-regulasi"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71123","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71123"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71123\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/72146"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71123"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71123"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71123"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}