{"id":7018,"date":"2019-08-02T09:30:31","date_gmt":"2019-08-02T02:30:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=7018"},"modified":"2022-02-25T13:25:59","modified_gmt":"2022-02-25T06:25:59","slug":"perempuan-dan-3m-masak-macak-manak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempuan-dan-3m-masak-macak-manak\/","title":{"rendered":"Perempuan dan 3M (Masak, Macak, Manak)"},"content":{"rendered":"<p>Malam itu kami para perempuan desa berkumpul, tidak ada acara khusus ya untuk saling bertukar pikiran, <em>ghibah<\/em> bersama, dan tertawa <em>hahaha hihihi<\/em>. Kami semua kebetulan mahasiswi di universitas yang berbeda-beda yang sedang menempuh liburan semester genap. Usia kami selisihnya tak jauh, waktu kecil kami sering bermain dari siang sampai sore kemudian pulang ke rumah dimarahi emak karena tidak tidur siang. Eh, tahu-tahu sekarang kita sudah memasuki usia 20 tahunan.<\/p>\n<p>Memasuki fase dewasa ini, tentu kami menjadi orang yang berbeda. Dulu yang ingusan sekarang jadi cantik, dulu yang wajahnya polos dan kusam kini pandai <em>bermake up<\/em>, dulu yang gemuk sekarang <em>bodynya <\/em>bak gitar spanyol. Macam-macamlah, pokoknya kami jadi berbeda dan cantik.<\/p>\n<p>Di saat ngobrol-ngobrol inilah, salah seorang dari kami menyerukan rencananya yang setelah lulus kuliah ingin bekerja kemudian menikah, lalu punya anak. Tak lupa dia juga ingin punya pasangan yang punya \u201dkepribadian\u201d alias mobil pribadi, rumah pribadi, dan hal-hal pribadi lainnya\u2014pokoknya semua hal merujuk pada hidup yang bahagia dan mapan. Hal itu diamini oleh semua perempuan yang sedang berkumpul di sana, bahkan mereka mengimbuhi apa-apa yang diserukan. Perbincangan semakin sedap dengan tambahan bumbu-bumbu itu. Aku hanya diam dan mendengarkan.<\/p>\n<p>Hingga kediamanku itu ternyata mengundang tanya dari mereka. Sebagai orang yang ramah, mereka bertanya padaku tentang rencana masa depanku, bagaimana tipe pria idamanku, dan kukatakan, \u201caku tidak ingin menikah\u201d tentu mereka terkejut, itu sudah dalam dugaanku. Kulanjutkan dengan rencanaku setelah lulus kuliah, aku ingin melanglang buana, berkelana melakukan riset, menulis novel dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/ani\/ulasan\/pojokan\/masa-depan-mahasiswa-sastra-indonesia\/\">sastra<\/a> lainnya, menjadi sutradara, ingin juga <a href=\"https:\/\/tirto.id\/wacana-gaji-dosen-asing-rp65-juta-per-bulan-harus-dikaji-ulang-cH6H\">menjadi dosen<\/a>. Mendengar itu mereka <em>bengek<\/em> dan jahatnya aku malah tertawa jahat dalam hati melihat ekspresi mereka. Berikutnya, tentang pria idaman, aku menjelaskan siapa dan apa saja asal dapat menuntunku ke arah yang lebih baik, yang bisa memenuhi kebutuhanku, dan bisa mengerti diriku. Hahaha\u2014aku berbicara seperti itu di depan mereka padahal mereka tahu aku punya pacar.<\/p>\n<p>Mendengar semua-mua itu, mereka seperti harimau yang siap menerkamku. Pada pertengahan jawabanku, mereka memotong dan mencibir, \u201ceh, orang itu harus nikah\u201d kemudian \u201ciya, paling nggak nikah tuh umur 23-24 tahun, lewat itu makin males buat nikah, susah jodoh lu!\u201d\u00a0 Dilanjutkan lagi,\u201cnikah dulu lah, melanglang buana mah bisa sama-sama pasangan.\u201d Berikutnya dan yang paling nendang, \u201cyaelah, apa sih yang dicari cewek. Cewek yang wajib dikerjain cuma 3\u2014<em>masak, macak, manak<\/em>. Udah.\u201d<\/p>\n<p>DEG!<\/p>\n<p>Cukup disitu, aku terdiam. Otakku terbanting, batinku bergejolak. Meledak-ledak rasanya, tapi aku tidak mau membantah karena mereka lebih tua dariku. Aku susun kata dengan diksi, otakku bekerjasama dengan perasaan agar ciptakan kata-kata yang enak didengar dan berharap diterima.<\/p>\n<p>Tidak peduli dengan cibiran mereka. Hanya saja, aku tidak habis pikir. Kita dirawat, disayangi, dididik, di sekolahkan oleh orang tua kita, kemudian ketika besar kita menikah dan ikut suami. Lalu? Sudah? Hanya segitu saja? Sebuah perjalanan hidup yang mainstream. Apa balasan untuk kedua orang yang bersama kita? Minimal itu yang pertama.<\/p>\n<p>Kedua, kita disekolahkan tinggi-tinggi sampai jadi sarjana kemudian menikah, punya anak, dan jadi ibu rumah tangga. Terus buat apa sekolah tinggi-tinggi? Okelah kita adalah seorang ibu yang jadi madrasah pertama bagi anak kita. Akan tetapi \u201capa?\u201d yang harus kita lakukan untuk kita sendiri? Kita menjadi seorang \u201cistri\u201d dan melakukan kewajibannya untuk suami, kita menjadi seorang \u201cibu\u201d dan melakukan kewajibannya untuk anak. Lalu apa yang kita lakukan untuk menjadi diri kita sendiri dan melakukan kewajiban untuk kita sendiri.<\/p>\n<p>Bermimpi misalnya, mewujudkan cita-cita misalnya, mewujudkan keinginan begitu. Kita, perempuan pasti punya mimpi untuk \u201cmenjadi\u201d sehingga kita punya \u201csesuatu\u201d yang menjadikan kita beda, yang menjadikan kita punya\u201djati diri\u201d. Sehingga mungkin kita bisa berkarir dan mandiri dengan tidak lepas tanggung jawab pada suami, anak, dan keluarga kelak.<\/p>\n<p>Sudah tidak zaman sepertinya hanya mengandalkan nafkah suami sebagai tonggak ekonomi keluarga. Apalagi di zaman seperti ini yang apa-apa butuh materi. Perempuan bisa dikatakan dari yang <em>mubah<\/em> menjadi <em>sunnah<\/em> yang mungkin bisa menjadi <em>wajib<\/em> untuk berkarir.<\/p>\n<p>Benar memang perempuan tidak lepas dari 3M. <em>Masak, macak, manak<\/em> akan tetapi selama kita bisa lebih kenapa tidak? Toh sekarang ruang-ruang diskusi, lowongan kerja sudah terbuka lebar-lebar bagi perempuan. Jadi, kenapa kita perempuan harus membatasi diri sedangkan kesempatan terbuka lebar.<\/p>\n<p>Jujur saja sebenarnya aku muak dengan perempuan yang pikirannya hanya nikah dan laki-laki, nikah dan laki-laki, nikah dan laki-laki. Kenapa sesekali tidak coba dengan ngopi-ngopi dan bicara tentang mimpi kemudia diskusi tentang cara mewujudkannya. Sebab laki-laki akan menghampiri dan menikahi kalau perempuannya punya visi dan misi bukan yang kerjaannya sehari-hari mantengin Instagram <em>story<\/em> yang isinya baper-baper nikah, <em>ndusel-ndusel halal<\/em>, dan apalah itu.<\/p>\n<p>Iya sih, tidak salah menikah untuk menghindari zina, menghindari dosa, hanya saja kalau mental dan materi belum terpenuhi, ya bagaimana membangun keluarga yang <em>sakinah, mawaddah, warrohmah<\/em>? Sebab menikah berarti membangun rumah, mengaruhi bahtera rumah tangga, dan lain sebagainya. Menikah bukan hanya menyatukan dua hati atau <em>ndusel-ndusel halal<\/em>, pikirkan juga tentang penyatuan dua keluarga. Banyak hal yang perlu disiapkan dan dimatangkan sebelum menikah, bukan sekadar <em>makan apa besok?\u2014<\/em>kalau kamu bilang begitu nanti kamu dimarahi Mbah Sujiwo Tedjo karena menghina Tuhan yang Maha Pemberi Rezeki.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jujur saja sebenarnya aku muak dengan perempuan yang pikirannya hanya nikah dan laki-laki, nikah dan laki-laki, nikah dan laki-laki.<\/p>\n","protected":false},"author":205,"featured_media":8848,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[],"class_list":["post-7018","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7018","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/205"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7018"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7018\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8848"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7018"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7018"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7018"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}