{"id":7013,"date":"2019-09-06T10:30:44","date_gmt":"2019-09-06T03:30:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=7013"},"modified":"2019-09-06T11:53:21","modified_gmt":"2019-09-06T04:53:21","slug":"jangan-sampai-gagal-move-on","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-sampai-gagal-move-on\/","title":{"rendered":"Jangan Sampai Gagal Move On"},"content":{"rendered":"<p>Saat saya masih kecil, bapak sering berkata yang diawali dengan, \u201czaman bapak dulu &#8230;\u201d Bapak biasanya ngomong begitu saat sedang makan bersama. Kami anak-anaknya biasanya tidak berani menyanggah walau dalam hati menggerutu. Kami makan dengan hening sambil mendengarkannya.\u00a0 Cerita bapak biasanya seputar perjuangan hidupnya saat muda\u2014zaman orde baru. Suaranya penuh dengan rasa bangga saat bercerita.<\/p>\n<p>Sesudah kuliah, saya beberapa kali bertemu dengan senior dari SMA yang sama. Mereka biasanya bertanya hal-hal yang dekat dengan pengalaman mereka saat itu. Misalnya, \u201cOspek masih dipukuli senior nggak?\u201d atau \u201csetiap Rabu masih jalan kaki ke kolam renang?\u201d Kadang-kadang mereka tanya pula, \u201ckalian masih sering juara untuk pertandingan bola kaki antar sekolah?\u201d<\/p>\n<p>Dari beberapa contoh pertanyaan itu, biasanya jawaban saya sudah cukup berbeda dengan pengalaman mereka. Saya sudah naik bis saat renang, tidak ada lagi ospek kekerasan dan angkatan saya sudah jarang memenangkan pertandingan bola. Mendengar jawaban saya, mereka biasanya berkomentar seperti bapak. \u201cZaman kami dulu,..\u201d Dengan sigap dan percaya diri, mereka menceritakan berbagai kehebatan atau prestasi\u2014pengalaman militeristis\u2014mereka \u00a0dulu.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu. Saat saya kuliah di musik, saya juga mendapati pengalaman yang sama. Biasanya mereka memberikan pertanyaan yang dekat dengan pengalaman mereka. Misalnya, tidur di kampus, kuliah pakai sandal jepit, konser wajib, ospek per instrumen dan seterusnya. Nah, lagi-lagi jawaban saya berbeda jauh dari mereka. Saya tidak bisa memuaskan ekspektasi mereka. Lagi-lagi saya mendengar ceramah kebanggaan dari mereka. \u201cGenerasi kami dulu,..\u201d<\/p>\n<p>Sampai suatu ketika, tanpa saya sadari, saya pun ikut-ikutan. Ketika bertemu adik-adik dari SMA yang sama, saya bertanya seperti para senior. Setelah mendengar jawaban mereka yang berbeda dengan pengalaman saya, saya pun mulai berkata-kata dengan bangga, \u201czaman saya dulu &#8230;\u201d Hal serupa saya ulangi ketika sudah lulus dari musik dan bertemu dengan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/mola-tv-siarkan-laga-timnas-indonesia-senior-hingga-junior-ehtN\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">junior<\/a>.<\/p>\n<p>Sampai suatu hari, kebiasaan itu terbawa-bawa saat berbicara dengan pacar\u2014sekarang tinggal kenangan. Saat itu kami sedang marah-marahan. Saya berkata dengan lantang, \u201cmantanku dulu &#8230;\u201d Saya merasa mantan\u2014pertama\u2014lebih bisa memahami saya daripada dia. Mendengar itu, dia pun mengeluarkan kata-kata yang kejam nan pedas. \u201cYa udah, balik aja sana sama mantanmu. Aku nggak suka dibanding-bandingin.\u201d<\/p>\n<p>Singkat cerita, saya akhirnya sadar bahwa saya ternyata sudah gagal <em>move on. <\/em>Dalam psikologi disebut <em>post power syndrome. <\/em>Penyakit itu sudah menjangkiti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/lya\/esai\/gangguan-jiwa-bukan-cuma-gila-tak-perlu-menolak-odgj-dikasih-hak-pilih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">kejiwaan<\/a> saya sejak lama. Saya selalu membangga-banggakan diri\u2014pengalaman atau prestasi di masa lalu. Bapak atau para senior yang sama-sama sakit malah saya ikuti.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata banyak orang yang selalu membanggakan \u201czaman\u201d atau \u201cgenerasinya\u201d. Masing-masing generasi membanggakan diri sekaligus menjelekkan generasi yang lain. Generasi X\u2014<em>baby boomers\u2014<\/em>menjelekkan generasi Y\u2014<em>echo boomers <\/em>atau milenials. Di belakang, diam-diam generasi Y juga menjelekkan generasi X. Generasi kolot katanya. <em>hehe<\/em><\/p>\n<p>Sekarang sudah muncul generasi Z. Rantai itu akan terus berlanjut. Senior menganggap generasi di bawahnya tidak lagi setangguh atau sehebat mereka. Generasi sesudah mereka loyo dan tidak berkualitas. Intinya, tidak keren lagi.<\/p>\n<p>Saat saya ikut reuni kecil-kecilan dari SMA yang sama, hal itu sangat terasa. Biasanya junior menjadi tumbal. Mereka seolah-olah sangat buruk di mata para senior. Bahkan dalam diskusi, para senior mengambil kendali pembicaraan penuh. Junior jarang bisa menyumbangkan suara atau mungkin mereka malah muak dan ingin segera pulang. Biasanya sih junior jadi malas gabung di kemudian hari. Para senior pun semakin yakin dengan pandangannya. <em>hehe<\/em><\/p>\n<p>Dari pengalaman, saya melihat orang-orang yang gagal <em>move on <\/em>ini cenderung berharap keadaan kembali seperti dulu. Masa lalu lebih indah dari pada saat ini. Senior-senior saya berharap aturan sekolah dan berbagai aktivitasnya dikembalikan seperti dulu. Waduh, zaman berubah malah pengen kembali ke masa lalu.<\/p>\n<p>Harus diakui, setiap generasi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Masing-masing generasi harusnya menerima perbedaan itu. Salah satu cara terbaik menjalani hidup, ya beradaptasi dengan perubahan. Seperti kata pepatah, <em>tempora mutantur et nos mutamur in illis. <\/em>Waktu berubah dan kita berubah di dalamnya. Ingat, Charles Darwin bilang bahwa yang mampu bertahan bukan yang paling kuat dan hebat tapi yang mampu beradaptasi loh. <em>hehe<\/em><\/p>\n<p>Jadi sekarang, saya pribadi mulai belajar lepas dari bayang-bayang masa lalu. <em>Move on. <\/em>Segala pencapaian, prestasi atau kebanggaan di masa lalu biarlah di masa lalu. Jangan sampai itu semua mengganggu kejiwaaan dan cara saya berkomunikasi. <em>\u00a0<\/em>Menurut saya, kalau anda masih sibuk membanggakan masa lalu, bisa jadi anda terjebak dalam kesombongan atau penyakit <em>post power syndrome. <\/em>Gagal <em>move on. <\/em>Jadi, berhati-hatilah. <em>Piye, penak jamanku toh? Eh <\/em>(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-anak-rantau-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Culture Shock Anak Rantau di Jogja<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/tappin-saragih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tappin Saragih<\/a> lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Singkat cerita, saya akhirnya sadar bahwa saya ternyata sudah gagal move on. Dalam psikologi disebut post power syndrome.<\/p>\n","protected":false},"author":161,"featured_media":12456,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3148,2681,1888,2194,545,544,3149],"class_list":["post-7013","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gagal-move-on","tag-generasi-80-an","tag-generasi-90-an","tag-generasi-milenial","tag-generasi-z","tag-masa-lalu","tag-orde-baru"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7013","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/161"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7013"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7013\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12456"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7013"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7013"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7013"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}