{"id":70041,"date":"2020-08-08T10:46:30","date_gmt":"2020-08-08T03:46:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=70041"},"modified":"2022-01-22T11:30:38","modified_gmt":"2022-01-22T04:30:38","slug":"si-doel-anak-sekolahan-episode-30-musim-3-awal-romansa-mandra-dan-nunung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/si-doel-anak-sekolahan-episode-30-musim-3-awal-romansa-mandra-dan-nunung\/","title":{"rendered":"Si Doel Anak Sekolahan Episode 30, Musim 3: Awal Romansa Mandra dan Nunung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang pagi-pagi udah melancarkan aksi mbribik nih di Si Doel Anak Sekolahan episode 30. Iya, Mandra mbribik Nunung. Alasannya sih nganterin beli kue ke depan gang. Mas Karyo langsung kelihatan tidak suka dengan niatan Mandra ini. Mungkin Mas Karyo nggak rela adiknya didekati Mandra, atau bisa juga Mas Karyo takut hubungannya dengan Atun terancam gagal kalau Mandra sukses ngegebet Nunung. Bisa runyam toh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nunung, yang dasarnya memang pengin jalan-jalan selama di Jakarta bertanya ke Mak Nyak apakah dia boleh ikut ke pasar sekalian mau beli beberapa peralatan rumah tangga karena Mas Karyo kan tidak punya apa-apa. Mak Nyak tentu mengizinkan. Sembari Nunung bersiap-siap, Mak Nyak bilang ke Mandra kalau dia dan Nunung mau minta tolong diantarkan ke pasar dulu sebelum Mandra narik opelet. Awalnya Mandra menolak, tapi saat mendengar nama Nunung, wah langsung semangat dia tuh. Malah menawarkan diri untuk membelanjakan kebutuhan warung Mak Nyak, jadi Mak Nyak nggak perlu ikut ke pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mandra memang sengaja supaya bisa berduaan sama Nunung nih pasti. Sampai-sampai Pak Bendot yang mau ikutan ke pasar juga, diomel-omelin sama Mandra. \u201cJangan, Pak! Nanti nyasar! Di tempat sepi aja bisa hilang gimana kalau di tempat ramai kayak di pasar? Mau ketuker ama cabe?\u201d kata Mandra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Bendot tidak putus asa, dia masih ngintil Mandra sampai akhirnya Mas Karyo yang meminta Pak Bendot untuk tinggal saja di rumah. Lho, Mas Karyo? Iya. Mak Nyak tidak ikut, Pak Bendot tidak ikut, eh malah Mas Karyo yang ikutan naik ke opelet buat bareng ke pasar. Hahaha. Sukurin! Mandra pasti gedeg banget ini!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Sarah pamitan pulang ke Tante Silvi. Walau sebenarnya masih ragu sih, mau pulang atau tidak. Tapi Tante Silvi bilang kapan pun Sarah datang, silakan saja. Jadi Sarah memutuskan hari ini dia mau keluar rumah dulu sebentar. Tujuan pertamanya adalah kantor Om Wisnu. Sarah menunggu Pak Harry di halaman depan kantor, dia mau melihat langsung surat pengunduran diri Doel. Pak Harry bilang bahwa dia belum melaporkan pengunduran ini ke Om Wisnu karena sebenarnya Pak Harry masih mengharap Doel mau kembali bekerja di situ.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak Doel itu kan karyawan baru. Yang saya lihat dia itu masih punya pendirian lho, punya sikap dan moral yang kuat, Mbak Sarah. Betul itu, Mbak,\u201d kata Pak Harry mengungkapkan alasannya.<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cO ya?\u201d tanya Sarah.<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya. Makanya saya berharap kehadiran Pak Doel itu bisa mengembalikan iklim dan etos kerja seperti dulu, sewaktu perusahaan ini belum berkembang besar seperti sekarang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak lama, Sarah berpamitan ke Pak Harry. Pak Harry menitipkan salam dan pesan bahwa dia masih menginginkan Doel ada di perusahaan ini. Pak Harry berharap Sarah mau menyampaikannya bila suatu saat bertemu dengan Doel. Ah, orang yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sarah ternyata langsung main ke rumah Zaenab setelah itu. Di rumah Zaenab sudah ada Munaroh. Seperti biasa, Munaroh minta ditemenin ke rumah Mak Nyak untuk ketemu sama Mandra. Zaenab sempat mengingatkan bahwa status Munaroh sekarang kan sudah punya suami, harusnya dia nggak boleh ketemu sama Mandra lagi. Tapi Munaroh ngeyel. Akhirnya Zaenab bilang dia mau menemani asalkan Munaroh janji bahwa ini yang terakhir kalinya dia ketemu dengan Mandra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sarah yang baru datang langsung menawarkan diri untuk mengantarkan mereka. Zaenab memang berencana ke tempat kursusnya dulu untuk minta surat keterangan, setelah itu baru menemani Munaroh. Zaenab setuju diantar oleh Sarah, saat masuk ke kamar untuk mengambil dompet, Zaenab membawa pula dua buah kamus bahasa Prancis yang pernah dipinjamnya dari Sarah. Zaenab merasa dia sudah tidak membutuhkan kamus itu, toh dia sudah tidak kursus lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Munaroh ternyata tidak jadi ikut ke tempat kursus Zaenab, dia memilih untuk turun di tempat dia biasa menunggu Mandra. Sedangkan Mandra yang kelar belanja di pasar lagi on the way muter-muter bersama Nunung. Nunung saja. Tanpa Mas Karyo. Mandra kayaknya sengaja banget meninggalkan Mas Karyo di pasar dengan alasan Mas Karyo belanjanya lama. Hih! Bukannya pulang, Mandra malah ngotot ngajakin Nunung jalan-jalan sampai mau ke Senayan segala! Padahal di rumah Mak Nyak sudah cemas (dan gemas) nungguin!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dari tempat kursus Zaenab, Sarah mengajak Zaenab untuk mampir duduk-duduk di sebuah kafe outdoor (sepertinya sih begitu). Sarah menceritakan kekecewaannya atas sikap Doel, eh Zaenab malah ikut-ikutan curhat! Hadeeeh. Zaenab bilang kalau dia sempat merasa ditipu oleh harapan dan angan-angannya sendiri. Dia merasa dikhianati oleh cinta yang dia pelihara sejak kecil yang menurutnya manis, tapi ternyata bagi Doel semua itu hanya kenangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang diceritakan oleh Zaenab ini membuat Sarah semakin merasa menyesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau saja dulu mobilku nggak nabrak opeletnya Doel, kalau saja aku nggak bikin skripsi tentang masyarakat Betawi,\u201d Begitu kata Sarah.<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYah, kalaupun mobil kamu nggak nabrak opeletnya Bang Doel, nggak nulis skripsi tentang masyarakat Betawi pun, pasti ada hal lain yang mempertemukan kamu dengan Bang Doel,\u201d kata Zaenab.<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi menurut kamu ini semua suratan nasib?\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHe em. Sejak kecil saya dididik untuk percaya dan ikhlas menerima suratan nasib. Dan saya memang percaya. Cuma rasanya saya belum bisa menerima dengan ikhlas.\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAduh, aku tambah jadi ngerasa salah, Nab.\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak. Aku nggak pernah menyalahkan kamu atau Bang Doel. Juga nggak bermaksud mengubah suratan nasib. Aku cuma sering digoda pertanyaan kenapa cinta Bang Doel hanya ada di dalam masa kecilku? Kenapa ketika dewasa Bang Doel justru mencintai kamu?\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHubungan kita kok jadi aneh gini ya, Nab?\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAneh gimana?\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, aku merasa pernah bikin kamu sakit hati.\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSama. Saya juga udah pernah membuat kamu sakit hati.\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi kita masih bisa berteman kayak gini.\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, mungkin karena kita sama-sama nggak mau memelihara kebencian.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum mereka pulang, Zaenab mengembalikan dua kamus bahasa Prancis milik Sarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamus kamu,\u201d kata Zaenab.<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus?\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, saya kan cuma pinjam.\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBawa aja deh, Nab. Aku udah nggak perlu lagi kok. Kamu yang lebih perlu.\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak juga. Saya kan udah nggak kursus bahasa Prancis lagi. Lagian ini punya kamu kok.\u201d<br \/>\n<\/span>\u201cYa, udah. Kalo gitu bagi dua deh ya. Kamu pilih yang mana?\u201d<br \/>\n<span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang ini,\u201d jawab Zaenab sambil mengambil satu kamus.<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu? Ya udah,\u201d kata Sarah mengambil kamus satunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andaikan rukun begini sampai tua, alangkah bahagianya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di rumah, Atun yang ternyata sudah diterima bekerja di salon Bu Susi berniat membongkar salon pribadinya yang ada di teras. Kebetulan sedang ada Pak Bendot pula. Berdua mereka melepaskan papan nama, rak, dan seluruh perlengkapan salon lainnya. Terakhir, mereka memasukkan kembali bale-bale milik Babe Sabeni. Mak Nyak yang sedang menyapu teras, mendadak merasa sedih melihat bale-bale itu kembali ke tempat asalnya. Mak Nyak jadi ingat Babe kayaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan Mas Karyo marah-marah menjadi penutup di Si Doel Anak Sekolahan episode 30. Jadi ceritanya, Mas Karyo sampai duluan di rumah. Sedangkan Nunung dan Mandra belum sampai. Semakin ngomel lah Mas Karyo. Dia menumpahkan uneg-unegnya ke Atun Pak Bendot dan Mak Nyak sambil menceritakan kronologisnya tadi. Beberapa menit kemudian, biang keroknya datang. Mandra dan Nunung sampai juga di rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Karyo langsung berdiri nyamperin Mandra ke halaman. Sempat dilarang oleh Pak Bendot, Mas Karyo tidak peduli. Dia ngomel ke Mandra, ngamuk ke Nunung. Lalu akhirnya membawa barang-barangnya masuk ke rumah. Mandra masih sok cool sampai akhirnya Mak Nyak juga ikutan ngomel. Sukuuurin!<\/span><\/p>\n<p><strong>Daftar sinopsis sebelumnya: Si Doel Anak Sekolahan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/si-doel-anak-sekolahan-musim-1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">musim 1<\/a>, Si Doel Anak Sekolahan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/si-doel-anak-sekolahan-musim-2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">musim 2<\/a>, dan Si Doel Anak Sekolahan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/si-doel-anak-sekolahan-musim-3\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">musim 3<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nunung bikin Mandra melupakan Ambar sama sekali. Sampai-sampai pagi buta pun dia udah sibuk ngegebet Nunung. <\/p>\n","protected":false},"author":376,"featured_media":70215,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[7036,6930,7568],"class_list":["post-70041","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-review-sinetron","tag-si-doel-anak-sekolahan","tag-si-doel-anak-sekolahan-musim-3"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/70041","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/376"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=70041"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/70041\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/70215"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=70041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=70041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=70041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}