{"id":69980,"date":"2020-08-07T10:08:29","date_gmt":"2020-08-07T03:08:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=69980"},"modified":"2020-08-07T10:08:29","modified_gmt":"2020-08-07T03:08:29","slug":"ngaji-mazhab-khusyuk-atau-mazhab-santuy-pilih-mana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngaji-mazhab-khusyuk-atau-mazhab-santuy-pilih-mana\/","title":{"rendered":"Ngaji Mazhab Khusyuk atau Mazhab Santuy, Pilih Mana?"},"content":{"rendered":"<p>Seperti biasa, sehabis ngaji rutinan malam Jumat, Kang Salim dan Misbah selalu jadi dua sejoli yang pulang paling akhir. Karena setelah orang-orang bubar dari masjid, keduanya masih asik rebahan di halaman depan masjid sambil telanjang dada. Menikmati lantai keramik yang maknyes dan angin semilir yang sejuk.<\/p>\n<p>Namun malam ini ketambahan satu personil lagi; Kang Amin, yang memutuskan untuk nimbrung alih-alih segera pulang demi nonton sinetron favoritnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya kalau ngaji sama Kiai Asmuni itu hawanya kok merinding gitu, ya,\u201d seloroh Misbah memecah keheningan. \u201cTiba-tiba jadi takut. Takut kalau inget dosa, cemas kalau inget mati.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa karena ngajarnya sambil nangis haru dan suara yang gemetaran tiap mengutip Al-Quran dan kisah-kisah Kanjeng Nabi ta, Mis?\u201d tanya Kang Salim<\/p>\n<p>\u201cNah, itu dia, Kang. Rasa-rasanya saya ini udah nggak pantes disebut hamba Allah dan umatnya Kanjeng Nabi kalau beliau udah ngendikan,\u201d respons Misbah setelah bangun dari posisi rebahan. \u201cKita ini kayak dilucuti habis. Seluruh amal kita ini kayak nggak ada cukup-cukupnya buat ngadep Gusti Allah. Apalagi kalau udah doa terus disambung baca syiir Abu Nawas. Wuuuhhh, auto merinding, Kang.\u201d<\/p>\n<p>\u201cLoh, ya malah bagus tho, Mis,\u201d respons Kang Amin selaku keponakan dari Kiai Asmuni. \u201cBukannya malah bagus tho, kalau model ceramah beliau itu bikin kita semua inget dan sadar kalau amal kita ini masih kurang. Alhasil kita bakal senantiasa terus berupaya mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Syukur-syukur mau taubat nasuha.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTapi masalahnya nggak semua orang nyaman dengan ngaji model gitu, Kang Amin, \u201c sanggah Misbah. \u201cSaya contohnya. Jujur, karena ngajinya Kiai Asmuni terlalu khusyuk dan melankolis, saya malah jadi pesimistis. Hidup saya akhirnya cuma berisi ketakutan-ketakutan. Nggak tenang. Kalau mau ibadah takut nggak diterima. Katakanlah pas lagi takbiratul ihram gitu, sya mesti harus ngulang berkali-kali buat sampai ke definisi khusyuk, fokus hanya ke Gusti Allah, seperti apa yang sering didawuhkan Kiai Asmuni.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKan emang begitu aturannya, Mis.\u201d<\/p>\n<p>Belum juga Kang Amin melanjutkan kalimatnya, Misbah langsung memotong, \u201cSampeyan apa nggak pernah denger, Kang, kisah seorang sahabat yang ditegur oleh Kanjeng Nabi. Ini sahabat saking takutnya amalnya kurang, alhasil sehari-hari kerjaannya cuma wiridan di masjid. Sampai-sampai istrinya ditelantarkan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cLah misalnya, karena saya kemakan model ngajinya Kiai Asmuini yang \u2018kekhusyuken\u2019 itu terus kalap beribadah kayak sahabat tadi, wah kelak Kiai Asmuni bisa ditegur juga tuh sama Kanjeng Nabi. Kata Kanjeng Nabi, ibadah itu wajib, tapi juga \u2018wa la tansa nasibaka mi al-dunya\u2019. Jangan lupa sama urusan duniamu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKok kamu malah terkesan nyalahin model ngajinya Kiai Asmuni, Mis,\u201d protes Kang Amin setengah tak terima. \u201cModel ngaji beliau itu ada sanadnya, loh. Yaitu merujuk pada modelnya Syekh Abdullah al-Haddad. Bahkan beliau Syekh al-Haddad pernah berkata, \u2018Jika gurumu mengajar tanpa pernah menangis (tanda khusyuk dan takut Allah), maka jauhilah.\u2019 Sebab, emang tujuan ngaji kan emang biar kita diingatkan dengan kekurangan amaliah kita, terus takut sama Allah, dan selanjutnya menempuh jalan taubat.\u201d<\/p>\n<p>\u201cItu ngaji yang elitis, Kang. Untuk kelas orang awam kayak saya ini ya yang bisa bikin ketawa-ketawa, ayem, dan nggak terlalu resah sama kurangnya amal.\u201d Ucap Misbah dengan gaya tengil.<\/p>\n<p>\u201cNgaji kok cuma buat lucu-lucuan,\u201d cibir Kang Amin. \u201cOrang diingetin amalnya kurang bukannya evaluasi diri, eh kok malah nggak nyaman. Iki piye, tho?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAsal materinya soal mengingatkan kita kepada Gusti Allah nggak luput kan ya no problem, Kang.\u201d<\/p>\n<p>\u201cUdah selesai apa belum, nih? Kalau belum monggo dilanjut,\u201d celetuk Kang Salim yang sedari tadi hanya diam menyimak sambil gulang-guling di lantai masjid.<\/p>\n<p>\u201cSampeyan ini bukannya nengahin malah ngadu domba,\u201d sambar Misbah sembari menimpuk Kang Salim pakai peci.<\/p>\n<p>\u201cHla gimana, wong apa yang kalian debatkan tadi sebetulnya sama-sama benernya. Sama-sama ada landasannya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cNah, tuh kan, model ngaji ala Kiai Asmuni yang mengadopsi Syekh Abdullah al-Haddad itu juga baik. Sekarang, emang model ngaji yang lucu-lucuan gitu, apa coba dasarnya, Kang?\u201d<\/p>\n<p>\u201cSyekh Abu Hasan al-Syadzili, Kang Amin. Beliau pernah bilang kebalikan dari Syekh al-Haddad. Katanya, \u2018Kalau gurumu nggak pernah ketawa pas ngajar, mending jangan ngaji di situ.\u2019 Biar nggak terlalu sumpek seperti yang dikhawatirkan Misbah.\u201d<\/p>\n<p>\u201cArgumen sampeyan sepenuhnya benar, begitu juga argumen Misbah. Kita cuma perlu melakukan pemetaan saja, sih. Ini kalau menurut saya loh, ya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYang kayak gimana tuh, Kang?\u201d tanya Kang Amin<\/p>\n<p>\u201cBegini, nggak salah tadi Misbah nyebut ngaji model Kiai Asmuni itu model ngaji elitis. Pasnya emang digunakan buat sesama orang alim. Misal, pengajian dengan ustaz-ustaz madrasah. Itu masuk. Tapi kalau buat standar orang awam, kayaknya lebih pas kalau pakai konsepnya al-Saydzili.\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya, Kang, soalnya apa ya, kita orang-orang awam itu udah mumet mikir utang. Tujuan ngaji itu ya biar dibikin tenang. Bukan ketambahan mumet mikir amal ibadah yang serba kurang. Mikir siksa neraka dan hal-hal mengenai akhirat yang mengerikan itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYap, khusus buat kelas orang awam itu syiarnya dibikin gampang dan menyenangkan saja. Mangkanya ada tho, kiai yang kalau ceramah ibarat kata lucunya sampai bikin terkencing-kencing. Tujuannya ya itu tadi. Terus bedanya lagi, kalau orang elitis, katakanlah orang-orang alim atau yang berpendidikan, itu punya waktu cukup banyak buat ibadah sama Allah, punya ilmunya juga. Jadi, emang selayaknya buat khusyuk dan nangis-nangis di hadapan Allah.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBeda sama orang awam, misalnya sopir angkot. Mereka ini waktunya terkuras buat kejar setoran. Alhasil waktu ibadahnya juga alakadarnya. Jadi ya diadem-ademin kalau kerja dengan niat ikhlas juga terhitung sebagai ibadah. Akhirnya mereka nggak ngerasa jauh dari Gusti Allah. Nggak ngerasa amalnya kurang. Toh kalau amalnya kurang, ya diadem-ademin bahwa Gusti Allah pasti ngasih kawelasan, kok. Akhirnya, mereka nggak putus asa dengan rahmat Gusti Allah. Itu juga sama pentingnya dengan tujuan ngaji biar orang selalu takut sama Gusti Allah. Disesuaikan proporsinya aja, lah. Kalau saya sih, emang cenderung di mazhab yang kedua; mazhab santuy.\u201d<\/p>\n<p>Misbah dan Kang Amin mengangguk-angguk mendengarkan pemaparan Kang Salim. \u201cPokonya jangan ngaji atau ceramah sambil marah-marah dan menebar kebencian aja, lah. Apalagi kalau sampai nyebarin hoaks segala.\u201d Imbuh Kang Salim.<\/p>\n<p>Suasana hening sejenak, kemudian tiba-tiba Kang Salim neyeletuk, \u201cTermasuk urusan dakwah. Lebih baik mana, dakwah kepada jamaah pengajian, atau dakwah di hadapan PSK?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMending jamaah pengajian lah, Kang. Lebih gampang masuknya tur menjaga marwah juga.\u201d Jawab Kang Amin.<\/p>\n<p>\u201cLoh, ya lebih baik di hadapan PSK tho, yo. Ya masak mau nyapu di tempat yang udah bersih. Yang belum bersih dong, yang seharusnya disapu.\u201d Sanggah Misbah. \u201cKalau kata Nabi Isa, \u2018Ana tobibun udawi al-mardlo.\u2019 Aku ini dokter, dan tugasku menyembuhkan orang sakit. Masak orang sehat mau disembuhin, apanya yang disembuhin coba?\u201d<\/p>\n<p>Dan perdebatan antara Kang Amin dan Misbah pun kembali berlanjut. Sementara Kang Salim memilih menutup mukanya dengan kemeja, meneruskan tidur sambil menunggu keduanya capek sendiri.<\/p>\n<p>*Diolah dari penjelasan Gus Baha<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-dangdut-satu-lagu-sejuta-penyanyi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>*Diolah dari penjelasan Gus Baha<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":69983,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8296,225,565,8295,1230],"class_list":["post-69980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-aliran","tag-gus-baha","tag-masjid","tag-mazhab","tag-ngaji"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/69980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=69980"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/69980\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/69983"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=69980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=69980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=69980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}