{"id":6936,"date":"2019-07-15T07:00:41","date_gmt":"2019-07-15T00:00:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=6936"},"modified":"2022-01-19T12:14:26","modified_gmt":"2022-01-19T05:14:26","slug":"kenangan-bersama-telepon-rumah-dan-wartel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenangan-bersama-telepon-rumah-dan-wartel\/","title":{"rendered":"Kenangan Bersama Telepon Rumah dan Wartel"},"content":{"rendered":"<p>Jauh sebelum telepon seluler ramai digunakan, orang-orang berkomunikasi dengan telepon rumah. Entah itu telepon rumah punya sendiri, punya tetangga, atau pun punya orang lain\u2014alias <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Warung_telekomunikasi\">wartel<\/a>.<\/p>\n<p>Sebagai sobat <em>misqueen<\/em> tentu saja saya tidak pernah punya telepon di rumah. Jadi tidak pernah merasakan yang namanya rebutan sama adik di rumah untuk mengangkat telepon saat telepon berbunyi. Pengalaman yang saya punya sekadar numpang terima telepon di rumah tetangga dan menelepon orang lain di wartel.<\/p>\n<p>Dulu, di dekat rumah saya yang punya telepon di rumahnya cuma dua. Dan dua-duanya mengizinkan para tetangga\u2014termasuk keluarga saya\u2014untuk memberikan nomor telepon rumah mereka. Jadi, bebas gitu kalau ada yang mau bicara sama kita lewat telepon.Tentu saja dengan catatan hanya untuk hal-hal penting. Ya kan masak mau pacaran lewat telepon rumah orang, nggak sopan dong yah. Selain berpotensi mengganggu kenyamanan pemilik rumah, juga berpotensi diledekin kalau pemilik rumah nguping, hahaha.<\/p>\n<p>Dulu, saya paling bahagia sekali kalau dapat telepon dari keluarga di kampung. Kabar yang disampaikan tentu saja cuma dua, kalau bukan kabar baik ya kabar buruk\u2014atau kabar duka. Saat itu\u2014dan sampai sekarang\u2014keluarga saya di kampung juga tidak punya telepon rumah. Jadi dulu, kalau mau menelepon mesti lewat wartel yang letaknya tidak begitu jauh. Defenisi tidak begitu jauh yang saya maksud tentu saja tidak begitu jauh dalam pandangan keluarga di kampung. Orang di kampung kan kadang suka begitu, bilangnya tidak begitu jauh padahal sebenarnya harus naik atau turun gunung, menyeberangi sungai, atau paling tidak jalan kaki lima kilometer. Bagi mereka, namanya jalan yang setiap hari dilalui, ya dianggap tidak begitu jauh.<\/p>\n<p>Dalam hal terima telepon, mereka\u2014keluarga saya di kampung\u2014pakai nomor telepon gereja untuk nomor telepon tujuan. Jadi kalau saya atau orang di rumah\u2014yang tinggal di Makassar\u2014menelepon ke kampung, mesti menunggu sekitar setengah jam baru bisa bicara sama mereka. Soalnya orang yang menerima telepon harus memanggil keluarga saya, dan jarak dari gereja ke rumah juga lumayan jauh. Ya kali ini saya pakai defenisi lumayan jauh dalam pandangan orang kota. Orang kota yang tidak terbiasa jalan kaki, hihihi.<\/p>\n<p>Meskipun terkesan sangat repot, tapi saya menikmati masa-masa itu. Saya bahagia sekali kalau ada telepon dari keluarga di kampung\u2014padahal belum tahu juga apa yang akan disampaikan lewat telepon. Pokoknya tahu mereka menelepon saja, saya sudah bahagia. Kalaupun ternyata yang disampaikan adalah kabar duka\u2014seperti ada yang meninggal dan akan diupacarakan (<em>rambu solo\u2019<\/em>)\u2014biasanya saya tetap bahagia, karena itu berarti saya akan pulang kampung. Lagi sekolah juga tetap dibela-belain izin. Dari kecil saya memang selalu suka pulang kampung.<\/p>\n<p>Bagi saya\u2014dan keluarga di rumah\u2014yang tidak punya telepon rumah, otomatis saya harus <a href=\"https:\/\/mojok.co\/yms\/ulasan\/pojokan\/gosip90an-dan-kekuatan-nostalgia\/?fb_comment_id=2493703590700480_2493850940685745\">menelpon dari wartel<\/a>. Saya masih ingat betul, kode untuk nomor telepon di Toraja\u20140423\u2014angka berikutnya juga cuma lima, misalnya 0423-12345, jadi gampang dihapal. Di wartel, saat sedang mengantre, saya biasanya ngobrol-ngobrol sama pemilik atau penjaga wartelnya. Mereka suka bertanya tentang Toraja, dan saya selalu antusias untuk menjawab. Saya senang kalau ada yang tertarik mau datang ke kampung saya. Kadang, saking asyiknya ngobrol, saya biarkan orang yang di belakang saya untuk maju duluan. Kalau sudah begini biasanya saya disusulin mama atau adik saya yang sudah tidak sabar menunggu apa kabar terbaru dari kampung. Dari kecil saya memang doyan \u201cgosip\u201d kayaknya. <em>hahaha<\/em><\/p>\n<p>Berhubung menelepon dari Makassar ke Toraja itu termasuk <a href=\"https:\/\/tirto.id\/polisi-rilis-kode-telepon-luar-negeri-penipuan-missed-call-wangiri-cG6H\">sambungan interlokal<\/a>\u2014yang biayanya juga tidak murah\u2014jadi kalau menelepon juga tidak pernah terlalu lama. Pokoknya diusahakan biar dalam waktu yang singkat bisa dapat gosip, eh kabar yang banyak. Kadang cuma sekadar melepas rindu dengan bertanya kabar saja. Nanti kalau kebetulan bapak lagi punya rezeki lebih baru bisa menelepon dengan durasi yang lebih lama.<\/p>\n<p>Sekarang, komunikasi memang sudah tidak semerepotkan dulu. Dengan punya telepon seluler, orang yang tidak punya telepon rumah tidak perlu ke wartel untuk menelepon. Untuk terima telepon juga tidak perlu numpang di rumah tetangga. Tetapi, entah kenapa masa-masa itu kok kalau diingat yah rasanya bikin tersentuh juga yah. Saya membayangkan bagaimana perjuangan keluarga di kampung kalau mau menelepon dan terima telepon. Bagi mereka mungkin jalan begitu jauh yah sudah biasa. Tapi bagi saya?\u2014sungguh sangat luar biasa. Pada kenyataannya memang lebih lama perjalanannya daripada ngobrol\u2014lewat telpon\u2014nya.<\/p>\n<p>Pernah sih punya ide untuk coba-coba nostalgia ke masa itu, tapi kata Mama, \u201csudah jangan macam-macam. Jangan nyusahin orang cuma biar kamu senang.\u201d Setelah saya pikir-pikir, memang ada benarnya juga sih. <em>hahaha<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dulu, di dekat rumah saya yang punya telepon di rumahnya cuma dua. Dan dua-duanya mengizinkan para tetangga untuk memberikan nomor telepon rumah mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":6980,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[599,1719,1720],"class_list":["post-6936","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-nostalgia","tag-telepon-rumah","tag-wartel"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6936","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6936"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6936\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6936"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6936"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6936"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}