{"id":68665,"date":"2020-08-04T12:22:31","date_gmt":"2020-08-04T05:22:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=68665"},"modified":"2020-08-04T12:24:09","modified_gmt":"2020-08-04T05:24:09","slug":"apakah-mendikbud-nadiem-makarim-perlu-diganti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apakah-mendikbud-nadiem-makarim-perlu-diganti\/","title":{"rendered":"Apakah Mendikbud Nadiem Makarim Perlu Diganti?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tulisan \u201c<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nadiem-makarim-milenial-di-pemerintahan-yang-membuat-hidup-orang-miskin-terasa-menjadi-makin-sial\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nadiem Makarim, Milenial di Pemerintahan yang Membuat Orang Miskin Merasa Menjadi Makin Sial<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c sudah dibahas keluh kesah untuk Mendikbud Nadiem Makarim. Sekarang waktunya bertanya, jika memang sudah waktunya bertanya-tanya, perlukah ia diganti?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Evaluasi kinerja pejabat negara pengelola APBN itu mutlak. Publik seharusnya dan sewajarnya bisa mengawasi mereka yang ada di pemerintahan tanpa harus menunggu DPR\/MPR bekerja. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Publik memberi kritik untuk evaluasi pejabat negara juga nggak harus menunggu jadi aktivis atau punya privilese di atas rata-rata. Rakyat terdampak, maka rakyat bergerak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum masuk ke jawaban, mari tengok dua catatan tentang Nadiem Makarim sebagai mendikbud.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Mendikbud Nadiem Makarim tak terikat parpol<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedih sih, untuk urusan yang semacam ini saja kita perlu simbol. Nadiem Makarim adalah simbol bahwa presiden memang benar-benar masih bisa memilih kabinetnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parpol negara lain mulai memberi kesempatan kepada milenial untuk unjuk gigi, tak tersandera politisi boomer dan utang-piutang jasa. Sementara kita masih menonton acara debat politisi di TV yang \u201clo lagi lo lagi\u201d, dengan akrobat argumen yang sering menjilat ludah sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Publik juga masih harus menyimak para eyang berantem tiap Pemilu. Pendekatan yang dilakukan, strategi kampanye yang dipilih, dan hasilnya pun ya gitu-gitu aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada menteri nonparpol di kabinet adalah pengingat bahwa parpol tuh nggak sakti-sakti amat. Jika parpol tak mampu melihat perubahan jaman, masih ala-ala Bapakisme era Soeharto, jangan harap generasi muda bisa paham kenapa parpol masih diperlukan. Kalau memang parpol sudah bisa menyerap aspirasi, tak akan muncul minat politisi jalur independen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih membekas video viral Mendikbud Nadiem Makarim pulang naik Gojek setelah dilantik. Demikian juga dengan perkataan beliau, \u201cWalaupun saya bukan dari sektor pendidikan, adalah satu saya lebih mengerti, belum tentu mengerti, tapi lebih mengerti apa yang akan ada di masa depan kita.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang tak terharu mendengar kalimat optimistis semacam itu diucap milenial yang tak terkait parpol mana pun, gagah berani menyambut tantangan Jokowi untuk masuk kabinet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, yang terlupa dari kalimat tersebut adalah kerendahan hati untuk belajar. Tak tahu apa-apa tentang masa lalu karena punya bisnis yang bisa membaca kebutuhan masa depan bukan berarti menolak untuk belajar dari masa lalu, untuk melihat kenapa pendidikan kita jalan di tempat.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Mendikbud Nadiem Makarim tak paham masalah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diksi \u201cgotong royong\u201d yang sering diucap Mendikbud menjadi aneh karena sudut pandangnya yang visioner tidak membumi alias tak paham masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendikbud sepertinya nggak ada bayangan soal potret pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Tapi tak memahami masalah, pada titik tertentu, jauh lebih mending ketimbang paham masalah, tapi terlibat konflik kepentingan mafia pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lima program Kemendikbud yang dipaparkan Nadiem Makarim tahun 2019: (1) prioritaskan pendidikan karakter dan pengamalan Pancasila, (2) potong regulasi yang menghambat terobosan dan peningkatan investasi, (3) kebijakan pemerintah kondusif untuk menggerakkan sektor swasta agar meningkatkan investasi, (4) semua kegiatan berorientasi pada penciptaan lapangan kerja mengutamakan pendekatan pendidikan dan pelatihan vokasi yang baru dan inovatif, dan (5) memperkuat teknologi sebagai alat pemerataan baik daerah terpencil maupun kota besar untuk pembelajaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan sangat panjang jika diulas ala \u201cfrom this to this\u201d-nya warga Twitter. Ringkasnya, kelima program tersebut kurang spesifik dan implementasinya bermasalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2010 Mendikbud Muhadjir Effendy memiliki program pembangunan karakter yang diterapkan dalam bentuk PPK (Penguatan Pendidikan Karakter). Jadi, apa output yang ingin dicapai mendikbud yang sekarang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program ke-2 dan ke-3, ada persoalan model dalam peningkatan investasi, terutama dari swasta. Lalu sekarang muncul permasalahan seleksi Program Organisasi Penggerak (POP) yang terburu-buru dan meloloskan yayasan bentukan korporasi swasta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, era revolusi industri 4.0 memang membutuhkan SDM yang siap bersaing, Nadiem Makarim punya visi yang jelas soal ini di program ke-4. Tapi tetap problematik karena sosial-humaniora sepertinya diabaikan. Kita tetap butuh cendekiawan, bukan hanya cerdikiawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program ke-5 yang paling heboh dan berdampak. Pandemi percepat implementasi teknologi dalam proses belajar-mengajar. PJJ adalah keniscayaan karena pandemi, tapi bermasalah karena sinyal internet yang belum merata, gadget dengan spesifikasi bagus tak terjangkau demikian juga dengan pengetahuan untuk memakainya, kebutuhan kuota internet membebani orang tua dan seterusnya. Rakyat gagap, demikian juga dengan pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelima program keren itu menjadi janggal saat Nadiem Makarim kaget sinyal internet belum merata, gaji guru honorer tak seberapa, dan yang terbaru adalah meyakini bahwa sekolah negeri seharusnya untuk orang miskin sesuai keadilan sosial yang dibicarakan dalam UUD.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah negeri bukan hanya untuk orang miskin. Sudut pandang seperti ini problematik. Adanya sekolah yang dikelola oleh ormas seperti NU dan Muhammadiyah adalah bentuk gotong royong, mengatasi masalah kekurangan sarana pendidikan dan guru yang belum bisa dipenuhi negara. Karena itu sering kali bersekolah di sekolah swasta jauh lebih ekonomis dibanding kebutuhan biaya sekolah negeri dengan tradisi pensi, prom, dan seterusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membayar bimbel mahal supaya bisa bersaing masuk sekolah negeri, sepertinya hanya terjadi di perkotaan. Pedesaan dan pelosok berbeda. Persoalan ini juga yang kemudian ditangkap sebagai peluang oleh milenial lain kemudian muncul Ruangguru, sebab belajar di ruang kelas saja tak cukup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negara ini bukan milik perorangan atau segelintir orang, \u201chajat hidup orang banyak\u201d adalah frasa kunci yang seharusnya menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan. Kalau wewenang reshuffle sih sudah jelas milik siapa.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nadiem-makarim-layak-diprotes-bukan-karena-kebijakannya-yang-buruk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nadiem Makarim Layak Diprotes Bukan karena Kebijakannya yang Buruk<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aminah-sri-prabasari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aminah Sri Prabasari<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diksi \u201cgotong royong\u201d yang sering diucap Mendikbud Nadiem Makarim menjadi aneh karena sudut pandangnya yang visioner tidak membumi alias tak paham masalah.<\/p>\n","protected":false},"author":582,"featured_media":18815,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[4259,2191,4152,8241],"class_list":["post-68665","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-mendikbud","tag-menteri","tag-nadiem-makarim","tag-reshuffle"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68665","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/582"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68665"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68665\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18815"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68665"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68665"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68665"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}