{"id":67797,"date":"2020-07-28T08:51:20","date_gmt":"2020-07-28T01:51:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=67797"},"modified":"2020-07-29T11:10:19","modified_gmt":"2020-07-29T04:10:19","slug":"kalau-fans-haikyuu-banyak-dibenci-itu-memang-beralasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-fans-haikyuu-banyak-dibenci-itu-memang-beralasan\/","title":{"rendered":"Kalau Fans Haikyuu! Banyak Dibenci Itu Memang Beralasan"},"content":{"rendered":"<p>Selamat untuk Furudate Sensei. Haikyuu! mendulang banyak pujian, terutama dari penikmat manga olahraga. Katanya, manga ini membawa manga olahraga ke level lebih tinggi.<\/p>\n<p>Bromance antara Hinata dan Kageyama membawa segenap pesan menarik. Perjuangan anak kelas tiga selama berkompetisi menghadirkan kisah yang mengharukan.<\/p>\n<p>Seiring kisah sukses, selalu ada drama di baliknya. Dan, tidak mengherankan kalau drama itu muncu karena fans, yang, kalau dibenci bukan lagi sebuah kejutan. Fans militan Haikyuu! ini kian hari, kian menyebalkan saja. Semakin menjadi ketika Haikyuu! tamat.<\/p>\n<p>Melalui sebuah forum diskusi, saya melemparkan sebuah pertanyaan. Begini sekiranya, \u201cMengapa banyak orang yang tidak menyukai fans Haikyuu!? Apakah karena manganya atau murni karena fansnya?\u201d<\/p>\n<p>Beberapa jawaban datang. Sebagian besar mengatakan manga ini sangat menarik, namun terkadang, beberapa fansnya sungguh menyebalkan. Berselang beberapa jam, postingan saya dihapus oleh admin. Katanya, postingan saya melanggar aturan. Ah, ternyata bukan suara kaum marjinal saja yang dibungkam.<\/p>\n<p>Ya maaf saja, kalau fans Haikyuu! dibenci itu memang beralasan. Izinkan saya menjelaskan beberapa.<\/p>\n<h4><strong>Risih sama fanart<\/strong><\/h4>\n<p>Komentarnya kurang lebih seperti ini: \u201cGue suka manga ini, tapi beberapa fanart yang seliweran di lini masa kadang bikin aneh dan risih aja. Mereka suka share pict yaoi atau dojin. Dan ini aneh, sih, buat gue.\u201d<\/p>\n<p>Yaoi merupakan salah satu ranting manga yang menampilkan adegan romantis sesama pria. \u201cGue nggak masalahin LGBT. Sekalipun ada tokoh yang gay, ya silakan, toh gue cuma suka sama cerita dan main volinya. Masalahnya tuh, kan ketertarikan seksual beberapa tokoh belum terungkap, tapi beberapa fans suka banget tuh yaoi-yaoi-in.\u201d<\/p>\n<p>Komentar ini disahuti komentar lain, ia mengungkapkan bahwa menonton Haikyuu! menjadi was-was karena fanart nyeleneh bertebaran di mana-mana. \u201cAku mau ikutin jadi was-was, takutnya manga ini ada unsur yaoi-yaoinya, ternyata enggak. Bikin kesel.\u201d<\/p>\n<h4><strong>Suka membandingkan tokoh-tokohnya<\/strong><\/h4>\n<p>Lumrah terjadi di berbagai manga. Misalnya di One Piece, ada pertarungan fans Zoro dan Sanji, di Naruto ada Hinata dan Sakura, dan di Haikyuu! ada Kageyama dan Oikawa. Tanpa harus spoiler, mendekati puncak, fans Oikawa banyak yang ngambek dengan Kageyama. Astaga, ini mereka pencari bakat atau bagaimana, masa ya posisi utama dalam timnas harus dicampuri oleh kepentingan mereka.<\/p>\n<p>Terlepas dari itu, hal menyebalkan yang jamak ditemui di manga lain pun terjadi di manga ini. Ada komentar yang berbunyi seperti ini, \u201cMereka memperdebatkan sesuatu yang nggak penting, sih. Ya, itu kebiasaan mereka atau bagaimana saya nggak tahu, tapi saya yakin mereka nggak pernah tahu rasa nikmat luar biasa ketika menikmati jalannya cerita tanpa protes dan kebanyakan berekspetasi.&#8221;<\/p>\n<h4><strong>Cringe banget di media sosial<\/strong><\/h4>\n<p>Kali ini penuturan kawan saya yang kebetulan menyukai Haikyuu! dan juga menekuni voli dari kecil. \u201cAku nggak pernah streaming voli luar, jadi biasanya cek di YouTube, sejak manga ini diadaptasi jadi anime dan booming, bajilak, kolom komentar akun-akun voli kebanyakan komentar mereka. Komentarnya nggak penting seperti; libero mirip Nishinoya, bloknya mirip Tsuki. Jembud!\u201d<\/p>\n<p>Namun, secara realistis kawan saya menekankan bahwa akun-akun voli jadi rame. \u201cNah, kalau rame, pasti bakal terus dicari. Beberapa akun voli sekarang ini pasti menyertakan topik Haikyuu! contohnya, \u2018Haikyuu! in real life\u2019. Bagus, banget malah, tapi kolom komentarnya itu lho. Pasti pada bilang, \u2018kok nggak pada teriak chance ball, kok nggak teriak don\u2019t mind, mana nih minus tempo\u2019 ya, seperti itulah.\u201d<\/p>\n<p>Kawan saya menambahkan, \u201cBoro-boro teriak chance ball, kalau di lapangan palingan pada teriak, \u2018Looossssss ke, Dap!\u2019\u201d.<\/p>\n<p>Hal senada diungkapkan salah satu komentar di forum diskusi. Dia bilang: \u201cDi Jepang ada pro-player bernama Y\u016bji Nishida. Ia sering disama-samakan dengan Hinata. Dan kasihannya, banyak komentar di media sosial bahwa Nishida harus melakukan ini itu demi apa? Satu hal, kepuasan mereka menyandingkan dirinya dengan Hinata. Itu menurutku agak aneh, sih.\u201d<\/p>\n<h4><strong>Mendaku Haikyuu! adalah anime olahraga terbaik<\/strong><\/h4>\n<p>Kalau ini berangkat pendapat saya pribadi. Saya mengikuti manga ini, sebagaimana saya mengikuti bergugurannya Kimetsu no Yaiba, Promised Neverland, hingga Yuragi-s\u014d no Y\u016bna-san. Dan ketika beberapa orang mangatakan anime Haikyuu! terbaik, bahkan lebih baik dari Slam Dunk, saya hanya bisa garuk-garuk kepala.<\/p>\n<p>Ya, memang, urusan selera. Walau sama-sama berambut mencolok, bagaimana pun, Hanamichi tidak semenggemaskan Hinata. Rukawa juga tidak seimut Kageyama. Tapi jika mengatakan yang terbaik, faktornya bukan hanya berkelumit dari satu hal saja. Tidak hanya menyentil Slam Dunk, beberapa fans yang menyebalkan ini bahkan ada yang mengatakan Diamond no Ace tidak ada apa-apanya. Duh, patah hati ini.<\/p>\n<p>Haikyuu! itu manga dan anime yang bagus. Namun, fansnya bikin banyak orang jadi malas sama manga ini.<\/p>\n<p>Namanya juga hidup, apa-apa yang berlebihan itu nggak baik. Sama seperti mengkonsumsi manga atau anime, kalau bisa, suka ya suka saja. Mungkin poin nomor 1 sampai 3 itu bentuk ekspresi menyukai. Ketika menyentuh poin nomor 4 pun masih boleh-boleh saja. Tapi mbok ya jangan merendahkan selera orang lain.<\/p>\n<p>Sumber gambar: Karya <a href=\"https:\/\/twitter.com\/Satoyane_\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@Satoyane_<\/a><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/daf\/ulasan\/pojokan\/surat-terbuka-untuk-mas-pur-yang-ditinggal-nikah-mbak-novita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Surat Terbuka untuk Mas Pur yang Ditinggal Nikah Mbak Novita<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bilang Slam Dung jelek ya terserah, tapi mbok ya jangan merendahkan selera orang lain.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":67806,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5631,4109,8080],"class_list":["post-67797","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-haikyuu","tag-manga","tag-voli"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67797"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67797\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67806"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}