{"id":67581,"date":"2020-08-03T16:49:03","date_gmt":"2020-08-03T09:49:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=67581"},"modified":"2020-08-03T16:49:03","modified_gmt":"2020-08-03T09:49:03","slug":"panduan-singkat-mengenal-kata-ganti-orang-di-gorontalo-agar-tidak-tertukar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-singkat-mengenal-kata-ganti-orang-di-gorontalo-agar-tidak-tertukar\/","title":{"rendered":"Panduan Singkat Mengenal Kata Ganti Orang di Gorontalo agar Tidak Tertukar"},"content":{"rendered":"<p>Bagi kamu yang kebetulan mau ke Gorontalo, kamu harus tahu hal dasar perkara kata ganti di Gorontalo. Soalnya jika nggak paham, pasti akan ribet urusannya. Dan bisa dipastikan akan terjadi miskomunikasi kalau kamu belum bisa memahami.<\/p>\n<p>Yang harusnya ngana jadi ngoni, torang jadi dorang dan tidak jarang masih sering tertukar. Salah penempatan pasti akan membuatnya kedengaran aneh. Belum lagi ada beberapa kata yang mungkin sama namun berbeda makna antara daerahmu dan daerah sana. Alhasil kamu akan planga-plongo ketika orang sana berbicara. Atau bisa-bisa mereka malah lagi ngegosipin kamu karena kamu nggak ngerti bahasanya.<\/p>\n<p>Untuk mencegah itu terjadi maka setidaknya kamu harus sudah menguasai kata dasar berikut ini. Dengan begitu setidaknya kamu akan lebih mudah memahami. Kali ini saya ingin berbagi tentang kata ganti orang yang sering digunakan di Gorontalo, semoga bisa membantu.<\/p>\n<h4><strong>Kita<\/strong><\/h4>\n<p>Kita di Gorontalo berarti saya, jadi jangan salah kaprah ya. Tapi jangan langsung pake kita-kita aja, sebenarnya ini kurang pas diucapkan bagi orang baru karena akan dianggap kurang sopan. Misalnya saja kamu hendak menanyakan alamat, jangan gunakan kita, lebih baik gunakan saya.<\/p>\n<p>Terus gunanya apa dong kalau nggak bisa digunakan? Sebenarnya bisa digunakan asalkan kepada orang-orang lebih muda dari kita. Amannya gunakan kita ketika berbicara dengan anak-anak di sana. Ini penting kita ketahui agar tidak terjadi miskomunikasi. Misalnya \u201ckita pigi dulu aa\u201d maksudnya saya permisi dulu, jadi jangan bingung, itu bukan ajakan.<\/p>\n<h4><strong>Ngana<\/strong><\/h4>\n<p>Mungkin ini sudah sering didengar dan nggak asing lagi. Bagi yang belum tahu, ngana artinya kamu. Ngana juga kadang disingkat menjadi nga. Jadi mau gunakan ngana atau nga itu artinya sama saja, tetap kamu. Tetapi lagi-lagi ini sebenarnya agak kurang sopan digunakan, biasa digunakan pada orang yang seumuran atau sudah dekat.<\/p>\n<p>Misalnya \u201cnga mo pi mana?\u201d ini maksudnya kamu mau ke mana, semuanya serba disingkat. Ngana jadi nga, mau jadi mo, pergi jadi pi. Oke sudah bertambah belum pengetahuan kalian tentang kita-ngana ini? Sebagai contoh \u201ctunggu kita uti, jan nga kase tinggal\u201d artinya tunggu saya, jangan kamu tinggalin. Uti ini kurang lebih imbuhan aja ya.<\/p>\n<h4><strong>Ngoni<\/strong><\/h4>\n<p>Ini beda arti dari ngana ya, soalnya banyak yang masih keliru dalam menggunakan. Kalau ngana artinya kamu, ngoni artinya kalian. Kalau bicara ke banyak orang gunakan ngoni. Misal \u201cngoni abis babelanja? Te baajak-ajak aam\u201d artinya kalian dari belanja? Kok nggak ngajak-ngajak sih\u201d.<\/p>\n<h4><strong>Torang<\/strong><\/h4>\n<p>Torang artinya kita. Kata ini kayaknya bisa digunakan ke semua kalangan. Misalnya saat nawar ongkos bentor bareng temanmu kamu bisa gunakan \u201ctorang mo ka sana, berapa om?\u201d. Maksudnya \u201ckita mau pergi ke sana, berapa ongkosnya om?\u201d. Kamu bisa gunakan kata ini ketika mau jalan-jalan dan bisa lebih berhemat. Mengapa berhemat?<\/p>\n<p>Karena percaya kalau kamu pake bahasa kayak gitu, ongkos bentor akan relatif normal. Jika tidak, abang bentor cenderung curiga dan akan menebak pasti kamu orang baru. Kalau sudah begitu, ongkos bentor bisa dinaikkan berkali lipat dari biasanya. Ini pengalaman teman saya orang Jawa yang sudah pernah ke Gorontalo. Inget ya, oknum. Kali aja kalian kudu dikasih tau ginian hehe.<\/p>\n<h4><strong>Dorang<\/strong><\/h4>\n<p>Kedengarannya hampir-hampir mirip seperti torang tapi beda artinya. Dorang artinya mereka. Kamu bisa coba-coba pakai ini saat berkomunikasi dengan orang sekitar biar feel-nya itu serasa lebih menyatu dengan mereka.<\/p>\n<p>Selain itu, kenapa kamu harus tahu artinya, ya karena biar tidak tertukar sama torang. Contoh kalimatnya adalah \u201cDorang pe makanan enak sekali uti, nga harus coba\u201d artinya makanan mereka enak sekali, kamu harus coba.<\/p>\n<p>Nah jadi ngana, ngoni, torang dan dorang itu beda ya, Gaes. Kita di gorontalo juga punya makna tersendiri. Jadi jangan tertukar, semoga tidak ada miskomunikasi lagi dan bisa dimengerti.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-mengakhiri-chat-di-whatsapp-biar-nggak-cuman-pakai-haha-hehe-thok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Panduan Mengakhiri Chat di WhatsApp Biar Nggak Cuman Pakai \u201cHaha-Hehe\u201d Thok<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rahmatia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rahmatia<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi kamu yang kebetulan mau ke Gorontalo, kamu harus tahu hal dasar perkara kata ganti di Gorontalo. Soalnya jika nggak paham, pasti akan ribet urusannya.<\/p>\n","protected":false},"author":821,"featured_media":69229,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7922],"class_list":["post-67581","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gorontalo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67581","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/821"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67581"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67581\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/69229"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67581"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67581"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67581"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}