{"id":67257,"date":"2020-07-30T17:07:05","date_gmt":"2020-07-30T10:07:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=67257"},"modified":"2020-07-30T17:07:05","modified_gmt":"2020-07-30T10:07:05","slug":"burjo-di-solo-adalah-culture-shock-pertama-saya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/burjo-di-solo-adalah-culture-shock-pertama-saya\/","title":{"rendered":"Burjo di Solo Adalah Culture Shock Pertama Saya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang namanya perantau, lumrah jika kena culture shock. Tak terkecuali saya, meski merantaunya cuma beda nyeberang kabupaten, dari Boyolali ke Solo, dua-duanya masih satu provinsi Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyeberang satu jam perjalanan bermodal seliter bensin, saya pikir nggak bakalan lah saya menemukan banyak perbedaan. Mentok, paling teman kuliah yang beragam. Kenyataannya, saya lebih dulu ketemu aa burjo ketimbang teman lintas daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Burjo di Solo menjadi culture shock pertama saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak seperti namanya, warung yang dipanggil burjo di Solo itu tidak mesti jualan burjo (bubur kacang ijo). Singkat cerita, pada makan siang pertama sebagai anak kos, saya datang ke burjo membeli nasi sarden dengan sambal merah. Setelah menyelesaikan lunch, tentu saja saya harus membayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPun, Mas, nasi sarden setunggal kalih es teh, pinten?\u201d kata saya dalam bahasa Jawa karma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan raut wajah aa burjo ini gimana. Si Aa menimpali sambil menyapa saya dengan panggilan \u201cA\u2019\u201d, seolah mau bilang, \u201cAku nggak ngerti tadi kamu ngomong apa.\u201d Aw malu banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begitulah. Bayangan bahwa anak Boyolali nggak mungkin culture shock di Solo, langsung terbantahkan di hari pertama saya jadi anak kos. Semenjak saat itu, saya membiasakan diri memakai \u201cAa\u2019\u201d ke pelayan burjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, saya menyadari ada yang beda dengan masakan burjo ini. Terutama nasinya. Meskipun saya sendiri masuk golongan penyuka nasi pulen, tapi pulen di burjo ini pulennya pulen. Konsisten lagi. Beda halnya kalau saya makan di warteg atau pokwe yang kadang pulen, kadang ngrembul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah sambelnya itu loh. Bagi orang yang terbiasa makanan manis ala Solo seperti saya, sambel burjo kelewat pedas. Hingga hari ini pun saya selalu menyisakan sambel di piring setiap makan di burjo, bikin saya khawatir sambelnya nangis seperti orang tua dulu bilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seringnya makan di burjo juga membuat kuping terbiasa dengan playlist lagu Sunda dan Cirebonan, menyelingi aa burjo yang juga mencoba beradaptasi dengan lagu-lagu koplo Jawa. Tentu aneh bagi telinga saya yang kental dengan lagu-lagu Jawa ini. Sekalipun bukan koplo garis keras, tetangga saya baru bangun tidur saja sudah mencekoki tetangganya dengan lagu koplo. Itu saya rasakan hampir seumur hidup sebelum aa burjo menyerang dengan playlist-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, culture shock dengan burjo ini dirasakan pula oleh mahasiswa dari barat, alias orang Sunda dan Jakarta. Di sana mereka lebih mengenal burjo sebagai warkop. Sebutan burjo sendiri memang lebih populer di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Jadinya, sering salah paham ketika orang baru mendapat ajakan makan di burjo, di pikiran mereka mungkin mengira orang Jawa ini maniak bubur kacang ijo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saya harus berterima kasih pada burjo dan semua aa dan tetehnya. Merekalah penumpas lapar di tengah malam-malam sepi anak kos. Yang bahkan tugas ini tidak bisa dilakukan penduduk aslinya. Sekalipun hik atau angkringan buka sampai subuh, paling tinggal remukan gorengan di tengah malam. Dari burjolah saya memulai petualangan mengenal keberagaman masyarakat sejak keluar dari kampung halaman.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Syifa Ul Husna, <a href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/111294382@N04\/43412839311\/in\/photolist-299f9Dv\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Flickr<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/sae\/esai\/melihat-pertanda-kiamat-dari-keberadaan-warung-burjo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Melihat Pertanda Kiamat dari Keberadaan Warung Burjo<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertama, burjo di Solo itu tidak mesti jualan bubur kacang ijo. Kedua, saya nggak menyangka kalau penjualnya orang Sunda. Hadeeeh.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":68493,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2949,2921,2284],"class_list":["post-67257","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-burjo","tag-culture-shock","tag-solo"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67257","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67257"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67257\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68493"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67257"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67257"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67257"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}