{"id":67200,"date":"2020-07-25T14:20:25","date_gmt":"2020-07-25T07:20:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=67200"},"modified":"2020-07-25T14:20:25","modified_gmt":"2020-07-25T07:20:25","slug":"bahasa-jawa-krama-inggil-membuat-penuturnya-tidak-bisa-marah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-krama-inggil-membuat-penuturnya-tidak-bisa-marah\/","title":{"rendered":"Bahasa Jawa Krama Inggil Membuat Penuturnya Tidak Bisa Marah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari di kelas Filsafat Jawa, dosen saya mengatakan, \u201cSinten kemawon ingkang ngagem basa krama, mboten saged duka.\u201d Siapa saja yang menggunakan bahasa Jawa krama, tidak bisa marah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bapak Dosen satu ini memang sangat halus perkataannya. Saya bilang begitu karena ia selalu menggunakan bahasa krama kepada siapa pun, bahkan kepada mahasiswanya. Padahal, menurut kasta berbahasa Jawa, yakni undha-usuk basa atau tingkat tutur, sah-sah saja Bapak Dosen saya ini menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko kepada mahasiswanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada dua ragam cakap dalam bahasa Jawa, yakni ragam ngoko dan ragam krama. Ragam ngoko biasa disebut sebagai \u201cbahasa kasar\u201d, sedangkan ragam krama lumrahnya disebut \u201cbahasa halus\u201d. Kapan seseorang memakai ragam yang mana, ditentukan berdasarkan seberapa sopan kita harus bersikap kepada lawan bicara. Parameternya diukur dari umur, derajat sosial, dan jarak keakraban antara penutur dan lawan bicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ragam ngono dan krama masih memiliki pengelompokan yang lebih kecil. Ahli bahasa Jawa menyebut bahwa ragam ngoko itu terdiri dari (1) ngoko lugu dan (2) ngoko andhap (atau ngoko alus). Sementara ragam krama terdiri dari (1) krama madya, (2) krama andhap, dan (3) krama desa. Tetapi, saya lebih sreg dengan pengelompokan yang sering dipakai di sekolah, yakni ngoko lugu dan ngoko alus serta krama lugu dan krama alus.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Bahasa Jawa ragam ngoko<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan ngoko lugu digunakan untuk orang yang seumuran, kepada orang yang kita sudah akrab, dan kepada orang yang lebih muda. Ragam ini sangat tidak formal, atau kalau kata Cak Nan, losss dolll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu-lagu berbahasa Jawa banyak menggunakan ragam bahasa Jawa ngoko ini. Lagu-lagu Almarhum Didi Kempot seperti \u201cBanyu Langit\u201d, \u201cCidra\u201d, \u201cTanjung Mas Ninggal Janji\u201d, dan \u201cTatu\u201d adalah salah sedikit contohnya. Juga lagu-lagu yang dibawakan grup maupun penyanyi muda berbahasa Jawa, seperti Guyon Waton dan Cak Nan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngoko alus digunakan untuk orang yang sudah akrab, tetapi ada usaha untuk menghormati. Ragam bahasa ini terdiri atas bahasa ngoko yang tercampuri bahasa krama. Bisa juga digunakan untuk membicarakan orang ketiga yang lebih tua atau lebih dihormati, dengan konteks penutur dan mitra tutur sudah akrab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya, \u201cCah, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bu Yunita mboten saged rawuh jalaran gerah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tugase dikon ngrangkum teori Psikologi Sastra Sigmund Freud lan dikumpulke engko nganti tabuh loro awan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Teman-teman, Bu Yunita tidak bisa hadir karena sakit. Tugasnya disuruh merangkum teori Psikologi Sigmund Freud dan dikumpulkan nanti sampai pukul dua siang.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam wara-wara atau pengumuman yang disampaikan oleh ketua kelas, dia menggunakan bahasa Jawa ragam krama ketika menyebut Bu Yunita (bagian yang dimiringkan), meskipun ia tengah berbicara kepada teman-teman seumurannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Bahasa Jawa ragam krama<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Krama lugu digunakan ketika berbicara dengan orang yang tidak akrab, misalnya untuk menghormati orang yang baru dikenal, atau kepada lawan bicara yang lebih tua, namun selisih umurnya tidak terlalu jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, dalam ragam krama lugu, kosakata ngoko <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kamu <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> kowe<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diganti dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sampeyan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Contohnya, \u201cSampeyan ndaleme pundi, Mbak?\u201d (Rumahmu di mana, Mbak?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan krama alus atau krama inggil digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua, orang yang lebih tinggi pangkat dan derajatnya, dan untuk bicara tentang maupun kepada kekuatan yang lebih besar daripada kita (misalnya Tuhan).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, dalam ragam krama alus, kata ngoko <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kamu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> kowe<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diganti dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">panjenengan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Seperti ketika seorang cucu bertanya kepada neneknya, \u201cEyang Uti, panjenengan wau dalu sare jam pinten?\u201d (Nek, tadi Nenek mulai tidur jam berapa?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena krama inggil ini mengandung rasa menghormati dan meninggikan seseorang, ragam bahasa Jawa ini tidak mungkin digunakan untuk memarahi seseorang. Akan lebih mudah menyampaikan amarah dengan bahasa ngoko daripada krama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk membuktikannya, saya pun mencoba berbahasa krama kepada adik ketika saya merasa kesal dan ingin memarahinya. Lha gimana, mentang-mentang spring bed dan empuk, kok dibuat loncat-loncat sama adik-adik saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAdhuh, Dhik. Kasure sanes kagem loncat-loncat kados makaten, Nduk cah ayu. Menawi damel loncat-loncat mangke kasure pun mboten empuk malih, kados pundi? Cobi menawi kasure sampeyan napa pareng damel loncat-loncat kados mekaten? Sampun nek dolanan ampun ten kamar nggih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak terasa seperti orang sedang marah kan? Malah saya merasa lebih seperti sedang menasihati ketimbang ngedumel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, memakai bahasa Jawa ragam krama juga bisa dibuat untuk membalas orang yang sedang marah-marah. Hal ini pernah teman saya lakukan ketika magang mengajar di salah satu sekolah di Mojokerto, daerah yang masyarakatnya menggunakan bahasa Jawa dialek wetanan yang dianggap kasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu karena kesalahpahamana, guru pendamping magang marah-marah kepada mahasiswa magang yang di antaranya ada teman saya. Oleh teman saya, dijelaskanlah masalahnya dengan menggunakan bahasa Jawa krama. Si guru ini luluh dan menjawab, \u201cInggih, inggih \u2018pun, Mbak. Ngoten nggih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ada orang marah lalu disahuti dengan ragam krama halus, orang yang marah malah jadi terheran-heran. Dimarahi kok tetap sopan sekali begini?<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Traditional_javanese_couple_jokes_in_the_paddy_field.jpg?wprov=srpw1_8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ragam-cara-orang-jawa-mewartakan-orang-meninggal-dan-nilai-sufisme-di-dalamnya\/\"> <b>Ragam Cara Orang Jawa Mewartakan Orang Meninggal dan Nilai Sufisme di Dalamnya<\/b><\/a><b> dan tulisan <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ervinna-indah-cahyani\/\"><b>Ervinna Indah Cahyani<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karena bahasa Jawa krama inggil ini dipakai untuk meninggikan seseorang, ragam ini tidak mungkin digunakan marah. Lebih mudah buat marah dalam bahasa ngoko.<\/p>\n","protected":false},"author":612,"featured_media":67315,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[763,8039,6830,8038,8037],"class_list":["post-67200","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-bahasa-jawa","tag-krama","tag-krama-inggil","tag-ngoko","tag-ragam-bahasa"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67200","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/612"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67200"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67200\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67315"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67200"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67200"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67200"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}