{"id":66647,"date":"2020-07-22T10:00:48","date_gmt":"2020-07-22T03:00:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=66647"},"modified":"2020-07-22T10:00:48","modified_gmt":"2020-07-22T03:00:48","slug":"makan-gorengan-kustini-sambil-nyeplus-lombok-rawit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makan-gorengan-kustini-sambil-nyeplus-lombok-rawit\/","title":{"rendered":"Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit"},"content":{"rendered":"<p>Kata orang, power tends to corrupt. Kalimat itu mulai sering dipakai untuk mengkritisi majunya Kustini Sri Purnomo sebagai calon bupati Sleman. Majunya Ibu Kustini, dikaitkan sama berbagai \u201ckemudahan\u201d yang akan didapat karena istrinya Pak Sri Purnomo, Bupati Sleman sekarang ini.<\/p>\n<p>Yang kayak gini, nih, kebiasaan netizen. Mau nyinyir tapi nggak lengkap. Cuma dicuplik, dipilih bagian paling wenak buat menjatuhkan seseorang, yang sebetulnya, kenal saja belum.<\/p>\n<p>Belum kenal saja sudah jahat, gimana kalau udah kenal? Bisa-bisa minjem duit, tapi kalau ditagih malah lebih galak ketimbang yang minjemin duit.<\/p>\n<p>Jadi, kalimat \u201cpower tends to corrupt\u201d itu nggak lengkap. Lengkapnya itu begini: \u201cPower tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely.\u201d Intinya, kekuasaan berpotensi menjadi disalahgunakan, misalnya korup. Sementara itu, di dalam kekuasaan penuh (absolut), sudah pasti terjadi penyalahgunaan, korupnya pol natap tembok.<\/p>\n<p>Buat memahami konteks majunya Ibu Kustini, sebaiknya istilah itu jangan dipotong-potong. Masak lagi enak baca, eh bagian akhir dipotong. Udah kayak ditinggal pas lagi sayang-sayang e. Ambyar. Ambyar, karena banyak orang lalu gagal memahami \u201cbagaimana\u201d, tidak menghargai proses dan kualitas diri seseorang.<\/p>\n<p>Sejauh yang saya tahu, Ibu Kustini adalah kader PAN. Beliau nggak ada niatan untuk maju sebagai calon bupati Sleman, kata Pak Sri ini. Namun, PDIP, mungkin ya ini, melihat potensi di dalam diri Ibu Kustini. Ya kalau nggak punya potensi, bisa juga kamu sebut sebagai kualitas, nggak mungkin PDIP \u201cmeminang\u201d Ibu Kustini untuk dipasangkan dengan Danang Mahersa.<\/p>\n<p>Kok ya ndilalah, Ibu Kustini ini istri dari Pak Sri Purnomo. Mau nggak mau, kalau ngomongin Ibu Kustini, nama \u201cPurnomo\u201d akan selalu ngintili. Klayu. Makanya, di sini, muncul serangan soal dinasti politik. Sebuah istilah yang ramai lagi setelah PDIP mengusung Gibran Rakabuming sebagai calon Wali Kota Solo.<\/p>\n<p>Jadi, posisinya jelas, ya. Ibu Kustini maju karena dipinang dan disokong oleh PDIP. Bukan karena dibujuki sama Pak Sri. Saya jadi membayangkan percakapan dua orang ini.<\/p>\n<p>Pak Sri: \u201cBu, besok maju nyalon, ya. Ngganteni aku.\u201d<\/p>\n<p>Ibu Kus: \u201cWegah, Pak. Penak njangan bobor ning omah.\u201d<\/p>\n<p>Ketika PDIP memutuskan meminang Ibu Kustini, bukankah artinya tidak ada paksaan untuk meneruskan \u201ctrah Purnomo\u201d? Namanya proses politik, ketika kualitas diri seseorang dianggap pantas untuk memimpin sebuah daerah. Bukankah proses yang demikian yang kita inginkan? Proses demokrasi di mana seseorang bisa dan berhak untuk maju ketika \u201cdidawuhi\u201d oleh perwakilan sebagian aspirasi Sleman yaitu PDIP?<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, karena prosesnya demokratis tanpa paksaan, istilah \u201cabsolute power corrupts absolutely\u201d menjadi runtuh. Kenapa? Karena saya, kamu, kita semua, bisa mengontrol dan mengawasi Ibu Kustini, jika kelak menang Pilbup Sleman. Kalau memang Ibu Kustini ternyata \u201cmanut\u201d sama Pak Sri, alih-alih sama warga Sleman, ya tinggal kantornya digrudug, didemo, dilaporkan, dimintai pertanggungjawabannya.<\/p>\n<p>Tapi gini, Lur. Keberadaan Pak Sri di belakang Ibu Kustini memang tidak bisa disingkirkan begitu saja. Namun, selama 15 tahun mengemban aspirasi rakyat, apakah Pak Sri pernah nakal? Orang besar, di belakangnya, selalu wanita yang luar biasa. Kalau Ibu Kustini biasa mendorong Pak Sri, bukankah Ibu Kustini paham betul beratnya jadi pemimpin daerah?<\/p>\n<p>Kalau nggak paham atau dianggap \u201ctidak berpengalaman\u201d, kenapa PDIP mau melamar Ibu Kustini? Karena mau jualan sosok saja? Waduh, hmm, bukankah kalah dibandingkan Wakil Bupati yang sekarang, Ibu Kustini justru lebih jarang tampil di \u201cpanggung politik\u201d? Sosok yang bagaimana yang mau dijual? Apakah strategi jualan sosok yang digincu tebal masih berhasil?<\/p>\n<p>Nggak, lah. Rakyat Sleman tahu mana yang genuine, orisinil.<\/p>\n<h4><strong>Gorengan Kustini dan lombok rawit<\/strong><\/h4>\n<p>Yah, yang namanya \u201cpolitik dinasti\u201d pasti bikin \u201cora jenak ati\u201d. Hal itu juga saya rasakan, kok. Apalagi di Indonesia ini, rekam jejak politik dinasti itu selalu jelek. Misalnya, rentetan kasus di Banten. Apalagi ada serangan pakai kalimat nggak utuh tadi: power tends to corrupt. Penyeragaman kayak gini jadi bikin susah politikus, yang sebetulnya baik, tapi berasal dari keluarga politik.<\/p>\n<p>Ibu Kustini misalnya, dengan suami Pak Sri dan puteranya, Raudi Akmal, anggota DPRD dari PAN. Setiap keluarga punya corak masing-masing. Ada yang jadi keluarga pengusaha, keluarga atlet, ada juga keluarga politikus. Terkadang, kita tidak bisa menyalahkan jalur Tuhan yang sudah ditentukan itu. Sebagai manusia, onone ming nerimo ing pandum. Nggih, mboten?<\/p>\n<p>Tapi kalau berasal dari keluarga politik, mau bener pun pasti disalahkan. Kalau salah, dijatuhkan sampai ambyar. Padahal, banyak dari pembaca yang belum mengenal dan memahami sosok Ibu Kustini.<\/p>\n<p>Serangan dinasti politik ini, di mata saya seperti gorengan yang masih panas. Nyampeng tenan kalau langsung dicokot panas-panas. Sambil nyeplus lombok rawit. Pedes, seger. Ngombene teh nasgitel. Kemepyar, lali sak kabehe.<\/p>\n<p>Tapi, yang namanya gorengan, ada saatnya menjadi dingin. Jadi kurang nikmat lagi untuk jadi teman teh nasgitel. Ketika dipanasin lagi di minyak jlantah, kenikmatannya pasti berkurang. Nanti cari lagi bahan (baca: isu) lain yang bisa digoreng. Panas sebentar, lalu anyep. Koyo wasapmu sing ming di-read, thok, tapi ora dibales.<\/p>\n<p>Isu Ibu Kustini ini memang lagi panas dan enak banget untuk jadi bahan gosip. Makin nikmat, ketika kelak ditambah nyeplus rawit semacam fitnah dan hoaks. Oh jangan salah, yang kayak gini tinggal nunggu waktu saja. Dan ketika hoaks muncul, rakyat Sleman pasti cerdas untuk menampiknya.<\/p>\n<p>Isu dinasti politik Ibu Kustini boleh \u201cdigoreng\u201d begitu rupa. Namun, sebagai orang yang akan mencoba mengenal beliau, saya mengajak panjenengan sedaya untuk husnuzan, berprasangka baik dulu. Jangan-jangan, Sleman memang bakal semakin cerdas ketika Ibu Kustini meneruskan Pak Sri. Mengajak husnuzan itu baik, to?<\/p>\n<p>Matur nuwun.<\/p>\n<p>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/web.facebook.com\/photo.php?fbid=1055794498148434&amp;set=pb.100011536818570.-2207520000..&amp;type=3\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Facebook Kustini Sri Purnomo<\/a>.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-mengapa-politik-dinasti-banten-begitu-digemari-warganya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alasan Mengapa Politik Dinasti Banten Begitu Digemari Warganya<\/a> atau tulisan lainnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Terminal Mojok<\/a>.<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kata orang, power tends to corrupt. Kalimat itu mulai sering dipakai untuk mengkritisi majunya Kustini Sri Purnomo sebagai calon bupati Sleman. Majunya Ibu Kustini, dikaitkan sama berbagai \u201ckemudahan\u201d yang akan didapat karena istrinya Pak Sri Purnomo, Bupati Sleman sekarang ini. Yang kayak gini, nih, kebiasaan netizen. Mau nyinyir tapi nggak lengkap. Cuma dicuplik, dipilih bagian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":895,"featured_media":66649,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7984,6471,7981,7983,7982,7985,7235],"class_list":["post-66647","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bupati-sleman","tag-dinasti-politik","tag-ksp","tag-kustini","tag-kustini-sri-purnomo","tag-pilbup-sleman","tag-sleman"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66647","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/895"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66647"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66647\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66649"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66647"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66647"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66647"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}