{"id":65898,"date":"2020-07-21T15:08:55","date_gmt":"2020-07-21T08:08:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=65898"},"modified":"2020-07-21T15:08:55","modified_gmt":"2020-07-21T08:08:55","slug":"perang-kendhang-prank-terbesar-dalam-sejarah-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perang-kendhang-prank-terbesar-dalam-sejarah-jawa\/","title":{"rendered":"Perang Kendhang, Prank Terbesar dalam Sejarah Jawa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sri Susuhunan Pakubuwono II (1711-1749) lebih dikenal sebagai sobat kumpeni. Blio dipandang menyerahkan nasib Kasultanan Mataram pada kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Berpalingnya Pakubuwono II kepada VOC menyebabkan banyak pemberontakan yang terjadi dalam masa pemerintahannya. Salah satu pemberontakan ini berujung dengan pecahnya Kesultanan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta lewat Perjanjian Giyanti pada 1755.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun dikenal sebagai sosok antagonis dalam sejarah, sebenarnya blio tidak serta-merta menyerahkan diri dan kerajaan kepada VOC. Di balik sikap manisnya, blio tetaplah seorang raja yang haus kedaulatan. Salah satu cara blio membangkang adalah lewat Perang Kendhang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perang Kendhang bukan perang yang terkenal. Tidak banyak literatur yang membahas perang ini. Sejarah Perang Kendhang memang tidak semegah pemberontakan Sambernyawa, Perang Bayu, atau drama Perjanjian Giyanti. Tetapi, Perang Kendhang punya keunikan sendiri. Keunikannya adalah perang ini tidak memakan korban benda maupun jiwa. Sejatinya, Perang Kendhang tidak lebih dari prank Pakubuwono II kepada VOC.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayang sekali, menelisik tentang sejarah perang ini cukup sulit. Anda tidak bisa sekadar mengetik \u201cPerang Kendhang\u201d di Google. Sejarah perang ini lebih sering dituturkan antargenerasi. Beruntung, saya mendapat clue dari Om Bram. Blio adalah pengamat sejarah dan budaya Jawa dengan pekerjaan sambilan sebagai arsitek. Clue dari blio adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Serat<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Ngayugyakarta Pagelaran<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serat ini digubah oleh R. Ng. Kartohasmoro pada sekitar 1920. Di dalam serat ini, terdapat detail peristiwa Perang Kendhang yang menjadi salah satu peristiwa yang memicu berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Bayangkan, sebuah prank bisa memicu lahirnya kerajaan baru. Tingkatan prank dari Pakubuwono II ini jauh di atas prank Baim Wong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu bagaimana prank ini terjadi? Bagaimana Pakubuwono II mempermainkan VOC? Apa peran Pangeran Haryo (P.H.) Mangkubumi selaku sultan pertama Kasultanan Yogyakarta? Mari kita awali dengan mengenal sejarah pemberontakan Mangkubumi melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Serat Kuntharatama<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, karya prosa (gancaran) karya G.P.H. Buminata. Blio adalah seorang sastrawan Kraton Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">P.H. Mangkubumi adalah putra dari Prabu Amangkurat IV dengan seorang selir. Blio mendapatkan hadiah berupa tanah seluas 2.000 bau atau sekitar 1.400 hektare. Hadiah ini merupakan tanda terima kasih Pakubuwono II atas usaha Mangkubumi meredam pemberontakan Tumenggung Martapura di Sukowati (sekarang Sragen).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Mangkubumi kena tikung Patih Pringgalaya yang meminjam tangan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem van Imhoff. Tanah luas hasil jerih payah Mangkubumi diambil kembali. Menjadi-jadilah dendam Mangkubumi kepada VOC. Mangkubumi segera menghadap sang kakak, Pakubuwono II. Tapi bukan untuk merajuk dan tantrum meminta tanahnya kembali. Mangkubumi memohon restu untuk mengangkat senjata dalam mempertahankan hak atas tanahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah muncul niatan Pakubuwono II untuk nge-prank para kumpeni. Karena terikat Kontrak Panaraga, Pakubuwono II tidak bisa langsung mengusir VOC. Maka Pakubuwono II berpesan kepada Mangkubumi agar perang yang akan dikobarkan bertujuan untuk membatalkan kontrak tersebut. Sebagai bentuk dukungan, Pakubuwono II menghadiahkan Tombak Kyai Plered. Pusaka ini tidak main-main. Kyai Plered pernah dipakai Panembahan Senopati menaklukkan Arya Penangsang. Kyai Plered pula yang menjadi pusaka Kraton Mataram. Siapa pun yang memakai pusaka ini, langsung naik level menjadi Immortal dengan 6000+ MMR.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dimulailah pemberontakan Mangkubumi. Dan kita akan beralih pada isi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Serat Ngayugyakarta Pagelaran<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Diceritakan bahwa Pakubuwono II sedang sakit saat perang berlangsung. Beliau berpesan kepada putra mahkota agar jangan memerangi Mangkubumi dengan sungguh-sungguh. Perlu kita ingat, konspirasi prank kepada VOC hanya diketahui oleh Pakubuwono II dan Mangkubumi. Sang putra mahkota hanya mengetahui bahwa Pakubuwono II sangat sayang kepada sang adik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak berhenti sampai di situ, Pakubuwono II juga ingin menyumbang biaya perang Mangkubumi. Tetapi, Pakubuwono II tidak bisa terang-terangan menyerahkan sumbangannya. Apalagi sampai ditayangkan sebagai reality show. Maka Pakubuwono II mengutus Tumenggung Arungbinang untuk melakukan tugas penyamaran menyerang Pesanggrahan Mangkubumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masing-masing prajurit Tumenggung Arung Binang membawa sebuah gendang. Di dalam gendang tersebut, diam-diam terisi mas picis raja brana (emas dan berbagai perhiasan). Tumenggung Arungbinang segera melakukan parade militer menuju Pesanggrahan Mangkubumi. Prank pertama berhasil. VOC mengira Tumenggung Arung Binang sungguh-sungguh akan menyerang Mangkubumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tumenggung Arung Binang tiba di Pesanggrahan Mangkubumi pada tengah malam. Untuk mengelabui mata-mata VOC, mereka menabuh gendang yang dibawa seriuh mungkin. Tabuhan gendang ini terdengar seperti perang sungguhan. Setelah beberapa waktu, gendang tadi dilemparkan kepada prajurit Mangkubumi. Tumenggung Arung Binang segera menarik pasukan dan kembali ke Surakarta. Prank kedua berhasil. VOC mengira terjadi perang sungguhan. Perang ini disebut sebagai Perang Kendhang karena hanya melibatkan tabuhan gendang\/kendhang dalam pertempurannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gendang yang diterima prajurit Mangkubumi segera dibuka. Seluruh harta di dalamnya dikumpulkan dan menjadi biaya perang Mangkubumi. Tentu ini mengejutkan Belanda. Tidak mungkin seorang putra selir memiliki harta yang besar sehingga mampu berperang dengan sengit. VOC bersama Pasukan Kraton Surakarta kewalahan melawan pemberontakan ini. Prank ketiga berhasil. VOC tidak tahu keterlibatan Pakubuwono II dalam perang ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Mangkubumi tidak sekadar berperang. Blio juga ingin melakukan prank yang lebih nakal. Dana pemberian Pakubuwono II dalam Perang Kendhang tidak hanya dipakai untuk biaya perang. Dana tersebut dipakai Mangkubumi untuk mendapat dukungan para pangeran dan adipati. Dukungan yang besar ini berujung pada pengangkatan Mangkubumi sebagai raja Jawa. Pengangkatan ini mengejutkan Pakubuwono dan VOC. Prank dari Mangkubumi menyebabkan Pakubuwono II harus turun takhta. Pada akhirnya semua kisah kolosal ini berakhir pada batalnya Kontrak Panaraga serta terbitnya Perjanjian Giyanti. Prank terakhir berhasil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perang Kendhang menjadi awal terbitnya Kesultanan Yogyakarta. Tanpa Perang Kendhang, Mangkubumi tidak akan memiliki cukup biaya untuk memberontak. Saya menganggap Perang Kendhang adalah prank terbesar dalam sejarah Jawa. Prank bisa diartikan sebagai trik atau perilaku menyebalkan yang digunakan untuk mengganggu lawan. Dan Pakubuwono adalah master of prank. Dia mengelabui VOC, mendanai pemberontak sekaligus memerangi dengan ogah-ogahan. Dia membatalkan kontrak diam-diam sekaligus mengerjai kedigdayaan VOC. Pakubuwono II layak menjadi Bapak Prank Nusantara, meskipun Mangkubumi sukses melancarkan prank terakhir kepada sekutu dan musuhnya sekaligus.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Petilasan tempat Perjanjian Giyanti dibuat. <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Location_of_Treaty_of_Giyanti.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a>.<\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/presiden-kita-perlu-mengenal-raja-amangkurat-yang-jangan-jangan-adalah-dirinya-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Presiden Kita Perlu Mengenal Raja Amangkurat yang Jangan-jangan Adalah Dirinya Sendiri<\/a> dan\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dimas Prabu Yudianto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perang Kendhang memang jarang dibahas dan sumber literaturnya sedikit. Padahal perang ini menjadi salah satu katalisator terbentuknya Kesultanan Yogyakarta.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":66548,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[7961,7960,7962,509],"class_list":["post-65898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-pakubuwono-ii","tag-perang-kendang","tag-voc","tag-yogyakarta"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65898"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65898\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66548"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}